Wisata

Melihat Pengolahan Pucuk Nipah dari Sarang Buaya Singkil Lama

Ada dua jenis pucuk nipah yang dijual. Pertama cukup dicincang atau dipisahkan dari dahan. Satu lagi terlebih dahulu dikupas.

Penulis: Dede Rosadi
Editor: Khalidin
SERAMBINEWS.COM/DEDE ROSADI
Kaum perempuan di Desa Suka Makmur, Singkil, Aceh Singkil, mencincang pucuk nipah muda agar terpisah dengan pelepahnya. 

Laporan: Dede Rosadi I Aceh Singkil

SERAMBINEWS.COM, SINGKIL – Sore itu, jam menunjukan pukul 15.00 WIB seketika matahari mulai condong ke arah barat seiring cahaya yang mulai meredup. 

Tampak di antara pohon nipah,  perempuan paruh baya menggenggam golok di tangan kiri berkelebat menebas daun nipah muda terpisah dari pelepahnya.

Jari-jari tangan kanan bergerak arahkan sasaran hujam golok agar tepat memenggal pangkal daun nipah.

Jarak antarajari tangan kanan dengan kilatan sabetan mata golok hanya seper sekian centi saja. Namun tak ada rasa was-was, Nia terus bekerja sambil sesakali melayani ajakan senda gurau dari teman-temannya.

Dalam hitungan menit daun nipah muda tertumpuk di samping. Lalu diikat untuk digabungkan dengan tumpukan lainnya sampai datang pembeli.

Nia nama perempuan asal Desa Suka Makmur, Kecamatan Singkil, Aceh Singkil, tersebut. Sehari-hari bekerja sebagai tukang cincang pucuk nipah yang diambil kaum lelaki dari sungai Singkil Lama.

Sungai Singkil lama dikenal sebagai tempat buaya bersarang. Namun desakan ekonomi, menuntun warga pinggiran sungai Singkil, mencari pucuk nipah untuk dijual ke Medan, Sumatera Utara.

Di Singkil Lama, pohon nipah seluas mata memandang. Bermodalkan sampan mini, sampai di lokasi para pencari daun nipah muda turun berjalan dalam genangan air.

Baca juga: Kuburan Tua di Ukhuk Datakh Petunjuk Tempat Lahir Syekh Abdurrauf di Aceh Singkil

Baca juga: Pesona Wisata Ujung Batu di Pulau Banyak Aceh Singkil, Kolam Surga dan Kisah Legenda Perahu Pecah

Saat berjalan itulah buaya menjadi pemandangan biasa. Bahkan kerap terperogok. Akan tetapi tidak ciutkan nyali.

Bagi pencari lokan, asal tidak punya niat salah. Buaya tak akan mengganggu.

Kembali ke pekerjaan Nia, keringat memenuhi wajahnya. Ia masih terus mengejar target mendapatkan seikat lagi cincangan nipah. Selesai itu barulah bernafas lega.

Cincang merupakan istilah untuk pekerjaan memotong daun nipah agar terpisah dengan pelepah. Umumnya pekerjaan itu dilakukan ibu rumah tangga demi membantu suami menutupi kebutuhan keluarga.

Setiap satu kilogram daun nipah muda hasil cincang, Nia mendapat upah Rp 150. Setelah bekerja sepanjang hari kaum perempuan itu membawa pulang uang sekitar Rp 75 ribu.

Menyincang daun nipah muda dilakukan di pinggir sungai yang memisahkan penduduk Suka Makmur dengan Siti Ambia, Kecamatan Singkil. Sebagai pelindung terik matahari dan basah hujan spanduk bekas menjadi atap darurat.

Pekerjaan mengolah pucuk nipah bukan hanya ditekuni Nia, tapi puluhan kaum perempuan di Kecamatan Singkil, yang terletak di daerah aliran sungai.

Pekerjaan kaum ibu tersebut cukup membantu menopang penghidupan sehari-hari.

Pucuk nipah yang telah dicincang diikat lalu dijual kepada pengepul selanjunya dikirim ke Sumatera Utara. Per kilo pucuk daun nipah muda dihargai Rp 650. Setelah dipotong ongkos cincang Rp 150 per kilo, sisanya Rp 500 merupakan hak pencari nipah.

Ada dua jenis pucuk nipah yang dijual. Pertama cukup dicincang atau dipisahkan dari dahan. Satu lagi terlebih dahulu dikupas.

Puncuk nipah sejauh ini digunakan sebagai bukus tembako. Dengan istilah rokok pucuk.

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved