Profil

Mengenal Sofyan Djalil, Putra Peureulak Aceh Timur, Menteri Semua Zaman, Sang Pengagas Omnibus Law

Dalam penjelasannya, Luhut menyebut bahwa Omnibus Law di Indonesia digagas oleh Menteri ATR Sofyan Djalil.

Penulis: Hendri Abik
Editor: Zainal M Noor
Serambi Indonesia
Sofyan Djalil 

SERAMBIWIKI.COM – Nama Sofyan Djalil, Menteri Agraria dan Tata Ruang atau Menteri ATR, sedang menjadi perbincangan publik.

Sofyan Djalil disebut sebagai orang yang pertama kali mencetus ide perlunya sebuah undang-undang yang bisa menyatukan beberapa undang-undang yang saling berkaitan.

Dalam dunia hukum, undang-undang “satu untuk semua” ini dikenal dengan nama omnibus law.

Sebagai Menteri Agraria dan Tata Ruang, Sofyan Djalil mengusulkan omnibus law yang bisa menghimpun semua undang-undang yang terkait dengan pertahanan, tata ruang, investasi, tenaga kerja, dan lainnya.

Baca juga: Omnibus Law, Undang Undang Sapu Jagat, Bermula dari Nama Bus Tertua di Dunia

Ide Sofyan Djalil ini kemudian diwujudkan oleh Presiden Jokowi yang memerintahkan pembantunya untuk bekerjasama dengan DPR, menyusun Omnibus Law UU Cipta Kerja, dengan tujuan memangkas birokrasi dan memberikan kepastian hukum dalam dunia investasi.

Setelah melewati berbagai tahapan pembahasan, pada Senin (5/10/2020), Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI), mengetok palu tanda disahkannya Omnibus Law RUU Cipta Kerja menjadi undang-undang.

Pengesahan tersebut dilakukan dalam Rapat Paripurna ke-7 masa persidangan I 2020-2021 di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta.

Namun, pengesahan Omnibus Law UU Cipta Kerja ini mendapat penolakan dari berbagai elemen masyarakat.

Demo besar yang sebagiannya berujung pada kericuhan dan kerusuhan, terjadi di Jakarta dan kota-kota besar di Indonesia.

Buruh dan mahasiswa berkeras menyuarakan penolakan terhadap Omnibus Law UU Cipta Kerja, karena dinilai berdampak buruk bagi tenaga kerja atau buruh.

Baca juga: Omnibus Law, Undang Undang Sapu Jagat, Bermula dari Nama Bus Tertua di Dunia

Baca juga: Simpang Mesra, Robur, dan Kenangan Mahasiswa Aceh di Tahun 80an

Dicetus Sofyan Djalil Diperkenalkan Oleh Jokowi

Di tengah demo yang sedang memanas, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan, mengungkap sejarah, latarbelakang, dan tujuan dari pembuatan Omnibus Law UU Cipta Kerja ini.

Dalam penjelasannya, Luhut menyebut bahwa Omnibus Law di Indonesia digagas oleh Menteri ATR Sofyan Djalil.

Menurut Luhut, Sofyan mengetahui istilah omnibus law ini lantaran menapaki pendidikan di Amerika Serikat.

"Istilah Omnibus Law ini keluar dari Pak Menteri ATR. Karena beliau belajar soal ini di Amerika dulu, dia mengatakan kepada saya 'Pak Luhut, ada yang bisa menyatukan (semua regulasi) ya ini ada Omnibus Law'," ujar Luhut dalam tayangan virtual, Selasa (6/10/2020), dikutip Serambiwiki.com dari Tribunnews.com.

Sementara dikutip dari Kompas.com, istilah omnibus law pertama kali muncul di depan publik dalam pidato pertama Joko Widodo, setelah dilantik sebagai Presiden RI untuk kedua kalinya, Minggu (20/10/2019).

Dalam pidatonya, Jokowi menyinggung sebuah konsep hukum perundang-undangan yang disebut omnibus law.

Saat itu, Jokowi mengungkapkan rencananya mengajak DPR untuk membahas dua undang-undang yang akan menjadi omnibus law.

Pertama, UU Cipta Lapangan Kerja, dan UU Pemberdayaan UMKM.

Jokowi menyebutkan, masing-masing UU tersebut akan menjadi omnibus law, yaitu satu UU yang sekaligus merevisi beberapa, atau bahkan puluhan UU.

Diberitakan Kompas.com, Selasa (22/10/2019), Pakar Hukum Tata Negara Bivitri Savitri menjelaskan, omnibus law merupakan sebuah UU yang dibuat untuk menyasar isu besar yang ada di suatu negara.

Baca juga: 5 Fakta Nagorno Karabakh, Wilayah Seluas Aceh Timur, Merdeka De Facto Tapi Tak Diakui Internasional

Baca juga: Ini Dia Yusri Saleh, The King of Ratoh Jaroe

Siapa Sofyan Djalil?

Nama dan titel lengkapnya saat ini adalah, Dr. Sofyan A. Djalil, S.H., M.A., M.ALD.

Ia merupakan tokoh Indonesia kelahiran Peureulak, Aceh Timur, 23 September 1953.

Berasal dari keluarga sederhana di Peureulak Aceh Timur, Sofyan Djalil menjelma menjadi orang penting di Indonesia.

Apa yang dicapai oleh Sofyan Djalil saat ini tidak datang dengan mudah. 

Orang Aceh yang pernah menimba ilmu di Jakarta, Bogor, Depok, maupun di wilayah lain di Pulau Jawa,  pada tahun 1980-an pasti kenal dengan sosok yang satu ini. 

Sosok Sofyan Djalil kerap dijadikan referensi kisah sukses perjuangan keras anak kampung oleh para mahasiswa Aceh di Pulau Jawa.

Coba saja tanya kepada orang Aceh yang pernah kuliah di Jakarta pada tahun 1980-an, mereka pasti punya cerita inspiratif terhadap sosok pria berkumis lebat ini.

Dilansir Wikipedia.org, Sofyan berasal dari keluarga sederhana di Peureulak, Aceh Timur.

Karena dia sadar kemampuan ayahnya yang tukang cukur dan ibunya yang guru ngaji, Sofyan saat kecil mencari uang dengan menjual telur itik di daerahnya.

Sejak dewasa, dia pindah ke Jakarta, dan sempat menjadi penjaga mesjid di Menteng Raya 58 dan kondektur metromini.

Pada saat itu juga ia terlibat dalam aktivitas kegiatan kemasyarakatan sebagai aktivis Pelajar Islam Indonesia (PII).

Seiring perjalanan waktu, dengan kegigihan yang dimiliki Sofyan, akhirnya dia bisa kuliah di Universitas Indonesia, dan suatu ketika berkenalan dengan Ratna Megawangi dari IPB Bogor.

Kemudian mereka menjalani kehidupan keluarga dan kuliah di Amerika.

Baca juga: Rusli Bintang, Pengusaha Nasional Berjuluk Ayah Anak Yatim, dari Lampoh Keude Aceh Besar

Menteri Semua Zaman

Sofyan Djalil menjadi satu dari sedikit orang Indonesia yang paling lama menikmati posisi sebagai menteri.

Ia sudah beberapa kali dia masuk ke dalam kabinet pemerintahan, dari era SBY hingga Jokowi.

Dikutip dari TribunJabar.id, dalam sebuah kesempatan Luhut bahkan sempat bercanda, menyebut Sofyan sebagai "menteri semua zaman".

Penelusuran Serambiwiki.com, karir menteri Sofyan Djalil dimulai pada Oktober 2004 ketika Presiden Soesilo Bambang

Yudhoyono, menunjuknya menjadi Menteri Komunikasi dan Informatika.

Jabatan itu diembannya sampai Mei 2007.

Sofyan Djalil juga menjadi salah satu tokoh kunci di balik suksesnya SBY melaksanakan misi perdamaian di Aceh.

SBY menunjuk Sofyan Djalil sebagai juru runding Pemerintah Indonesia dalam proses perdamaian Aceh yang berujung ditandatanganinya MoU Damai antara pemimpin Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dengan Perwakilan Pemerintah RI, di Helsinki, Finlandia, 15 Agustus 2005.

Karena lahir dan besar di Peureulak, Sofyan Djalil, dengan mudah bisa berdialog dengan pimpinan GAM, di dalam maupun luar negeri.

Peureulak, kampung halaman Sofyan Djalil, merupakan salah satu markas utama gerilyawan Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

Masih di era SBY, ia juga pernah menjabat sebagai Menteri BUMN.

Berbagai kebijakan publik diterapkan oleh Sofyan kala menjabat sebagai Menkominfo dan Menteri BUMN.

Kebijakan tersebut di antaranya adalah mempercepat pengembangan industri teknologi informasi dan komunikasi

(TIK) dan melakukan reformasi di Depkominfo.

Dia menerapkan sistem lelang radio frekuensi secara transparan dan kompetitif, pertama kalinya di Indonesia.

Kemudian, sebagai Menteri BUMN, dia melakukan reformasi BUMN dengan mempercepat proses restrukturisasi dan privatisasi juga secara agresif merekrut eksekutif professional dari berbagai latar belakang untuk menjadi pemimpin BUMN.

Sementara itu, di era Kabinet Kerja Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla, Sofyan Djalil pernah mencicipi tiga jabatan menteri.

Awalnya, dia terpilih menjadi Menko Bidang Perekonomian pada 2014.

Setelah itu, Presiden Jokowi melakukan reshuffle pada 2015.

Hasilnya, Sofyan menjabat sebagai Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Indonesia atau Kepala Bapennas sampai 2016.

Setelah itu, dia ditunjuk menjadi Menteri ATR.

Saat Jokowi menjadi presiden di periode keduanya didampingi Wakil Presiden Ma'ruf Amin, Sofyan juga didapuk kembali menjadi Menteri ATR hingga sekarang.

Baca juga: Sejarah Kedatangan Pengungsi Rohingya di Aceh, Terusir dan Menjadi Etnis Paling Teraniaya di Dunia

Selama menjadi membawahi Kementerian Kordinator Perekonomian, Sofyan mengordinasikan berbagai program reformasi dan deregulasi dalam berbagai sektor perekonomian.

Itu merupakan tema utama dari program pemerintah Jokowi-Jusuf Kalla.

Kemudian, dalam jabatannya di Bappenas, Sofyan telah memperkenalkan sistem perencanaan melalui pendekatan yang bersifat holistik, integratif, tematik, dan spatial (HITS) yang merupakan koreksi dari pendekatan perencanaan yang selama ini yang lebih bersifat pendekatan sektoral.

Dikutip dari Kompas.com, sebelum masuk ke pemerintahan, Sofyan rupanya sudah malang melintang di beberapa perusahaan sebagai komisaris utama.

Tercatat, dia pernah jadi komisaris utama di beberapa perusahaan di Tanah Air, antara lain:

PT Indonesia Infrastructure Finance (IIF)

PT Trimegah Securities

PT Pasifik Satelit Nusantara

PT Pembangunan Pelabuhan Indonesia

PT Multi Adiprakarsa Manunggal (Kartuku)

PT Berau Coal dan PT Berau Coal Energy Tbk

PT Socfin Indonesia.(Serambiwiki.com/Hendri Abik)

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved