Sejarah

Krueng Aceh, Sungai Sejuta Manfaat dari Hulu Hingga ke Hilir

Kondisi ini sangat didukung karena suasana sungai masih asri, di pinggiran sungai masih ada tanah lapang selebar 5-10 meter yang ditumbuhi pepohonan.

Penulis: Hendri Abik
Editor: Zainal M Noor
Serambinews.com/Hendri
Perserta mengikuti lomba perahu hias yang digelar di Krueng (sungai) Aceh, Banda Aceh sebagai bagian dari event Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) ke-7, Senin, (13/8/2020). Dalam perhelatan ini ada 22 perahu hias yang berlaga. 

SERAMBIWIKI.COM, BANDA ACEH - Krueng Aceh adalah salah satu sungai terbesar di Aceh.

Sungai itu memiliki panjang 145 kilometer, mengalir dari hulu di Cot Seukek, Aceh Besar hingga hilir di dermaga Nelayan Lampulo, Banda Aceh.

Di bagian hulu, keasrian lingkungan sungai ini masih terjaga hingga sekarang.

Terlihat jelas jika musim kemarau, air sungai nampak bersih dengan warna hijau kebiruan.

Tidak hanya itu, ikan pun masih banyak terdapat di dalam alirannya.

Hal ini dapat dibuktikan dengan setiap hari para pemancing berdatangan untuk mencari ikan, terutama di hulu sungai. 

Warga mencari ikan di aliran krueng Aceh
Warga mencari ikan di aliran krueng Aceh (Serambinews.com/Hendri)

Mie Leupung, Bertabur Bawang Goreng dan Daging

Di beberapa lokasi, pinggiran Krueng Aceh dijadikan lokasi rekreasi oleh warga.

Jika di hulu, rekreasinya adalah memancing atau mandi sambil piknik, maka di bagian hilir, rekreasinya di cafe-cafe atau taman yang banyak didirikan di tepi sungai.

Cafe dan taman yang indah di tepi Krueng Aceh, banyak tersebar di kawasan pinggiran Aceh Besar dan Banda Aceh.

Kondisi ini sangat didukung karena suasana sungai masih asri, di pinggiran sungai masih ada tanah lapang selebar 5-10 meter yang ditumbuhi pepohonan rimbun.

Krueng Aceh selain dimanfaatkan untuk berkreasi dan memancing ikan, banyak juga warga memanfaatkan aliran sungai itu untuk mandi dan mencuci pakaian.

Warga berkreasi di pinggiran Krueng Aceh
Warga berkreasi di pinggiran Krueng Aceh (Serambinews.com/Hendri)

Para petani di Aceh juga memanfaatkan aliran sungai Krueng Aceh untuk lahan persawahan.

Dua perusahaan air minum (PDAM) di Aceh Besar dan Banda Aceh, yakni Tirta Montala dan Tirta Daroy menjadikan air sungai itu sebagai sumber air baku bagi warga kota.

Di muaranya, Krueng Aceh menjadi tempat kapal-kapal nelayan bersandar.

Tapak Tuan Tapa di Aceh Selatan, Legenda Petapa Sakti Bertubuh Raksasa dan Dua Naga dari Tiongkok

kapal nelayan bersandar di Lampulo, Banda Aceh
kapal nelayan bersandar di Lampulo, Banda Aceh (Serambinews.com/Hendri)

Berdasarkan cacatan sejarah, aktivitas kehidupan masyarakat di muara sungai tersebut telah berlangsung lama.

Tercatat Gampong Pande di sisi barat muara sungai itu dibangun Sultan Alaidin Johansyah pada 22 April 1205.

Permukiman ini diyakini menjadi cikal bakal Kerajaan Aceh Darussalam dan Banda Aceh sekarang.

Krueng Daroy, Sungai Bersejarah Menyimpan Memori Kejayaan Kesultanan Aceh Darussalam

 

Sejarah

Tidak hanya sekarang, berdasarkan cacatan sejarah yang terhimpun, keberadaan Krueng Aceh pada zaman Kesultanan Aceh Darussalam pun, memiliki nilai yang sangat strategis dalam menumbuh kembangkan kota Bandar Aceh, sebagai ibukota Kesultanan Aceh Darussalam yang kosmopolit.

Ikuti kami di
KOMENTAR
104 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved