Sejarah

Lirik Lagu Himne USK Ternyata Puisi WS Rendra Berjudul Universitas Syiah Kuala Guru Kami

Puisi "Universitas Syiah Kuala, Guru Kami" diciptakan 1 Juli 1970 kemudian digubah oleh komponis Mochtar Embut menjadi Hyimne Universitas Syiah Kuala

Penulis: Fikar W Eda
Editor: Khalidin
SERAMBIWIKI/HENDRI ABIK
Pusat Administrasi Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Darussalam, Banda Aceh, Rabu (23/9/2020). 

SERAMBIWIKI.COM - Penyair besar Indonesia yang dijuluki Si Burung Merak, WS Rendra, menulis tiga puisi untuk Aceh, yakni "Ballada Tjoet Njak Dhien, Universitas Syiah Kuala Guru Kami," dan  puisi "De'na Dimana Kamu."

Puisi "Universitas Syiah Kuala, Guru Kami" diciptakan 1 Juli 1970 kemudian digubah oleh komponis Mochtar Embut menjadi Hyimne Universitas Syiah Kuala (USK) yang dinyanyikan setiap upacara-upacara kampus. Puisi tersebut lengkapnya berbunyi:

UNIVERSITAS SYIAH KUALA, GURU KAMI

Di sini kami belajar memperkaya iman
di sini kami belajar mengembangkan ilmu
di sini kami belajar memperdalam pengabdian
Di sini. Di sini
Di tempat tercinta ini
Universitas Syiah Kuala yang utama

Fajar menyingsing di tanah Aceh:
itulah cita cita kami
Dan ketika sang surya menyala
ia saksikan kami berjuang dan bekerja
Serta di malam hari
bulan bintang tanah Aceh
menyaksikan kami prihatin dan berdoa
mengerahkan diri untuk tujuan mulia

Di sini. Di sini
Di tempat tercinta ini
Universitas Syiah Kuala yang utama
Kami belajar bahwa iman yang kaya itu dermawan,
penuh kesabaran dan pengertian

Bahwa ilmu yang utama itu meninggi,
penuh rindu akan sumber kehidupan
Dan bahwa pengabdian yang sejati
penuh keberanian untuk berkurban

Bergerak. Bergerak
Jiwa kami bergerak
Dari tanah Aceh berkumandang cinta kami
untuk Indonesia dan umat manusia
Dan ketika azan bertalu dari menara ke menara
tahulah kami, bahwa Tuhan selalu menjaga.

Baca juga: Mengenal Universitas Syiah Kuala Atau Unsyiah, Kampus Tertua di Aceh

Baca juga: Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala

Baca juga: Fakultas Kedokteran Unsyiah, Digagas Marzuki Nyakman Pada Tahun 1964

Puisi lainnya berjudul "Ballada Cut Nya' Dhien," ditulis pada 10 Juli 1963. Waktu itu Mas Willy masih di Jogja. Puisi ini merupakan satu dari tiga puisi yang diciptakan Rendra sebagai penghargaan terhadap tanah Aceh yang ia cintai.

BALLADA CUT NYA' DHIEN

Apabila bulan tersenyum di atas bumi merdeka
Dia adalah wajah Cut Nya' Dhien
Apabila angin berhembus membelai
bumi Mugo yang suci
Dia adalah nafas Cut Nya' Dhien

Cut Nya' Dhien adalah harimau
yang tabah dan jelita
yang mengintip di antara rerumpun ilalang
di daerah sepanjang Sungai Wojla
yang mengembara dengan dendam yang mulia.
Menumpas kaphe dan penjajah.

Apabila suara ratib sudah menggema
di seluruh rimba
dan rencong serta pedang daun tebu
telah mulai gemerlapan
memantulkan kembali
cahaya bulan dan bintang-bintang
gemetarlah para kaphe dan penjajah
karena tahu bahwa api di tiap dada rakyat Aceh
takkan bisa di padamkan!!!

Dan Cut Nya' Dhien telah mengangkat laras senapan,
serta menuntut bela bagi suaminya
Sungai Wojla dan sungai Meulaboh,
tanpa hentinya menyanyikan lagu puja
bagi keluhuran budi dan keberaniannya.
Dia adalah bunga,
bunga yang termulia dan bunga yang dikorbankan,
bunga tanah Aceh yang dipuja Nusantara.

Segenap bumi tanah Aceh,
Bumi Mugo dan bumi Pantai Barat
yang telah menjadi kancah laganya
Segenap bumi Sumedang dan Jawa Barat
yang telah memangku jasadnya
Segenap bumi Nusantara
yang membanggakan putrinya,
akan mendendangkan doa-doa
bagi arwahnya

Kepada yang telah pergi,
meninggalkan jasa
kepada yang telah tidur,
setelah rampung kerjanya,
kita berikan tempat di dalam jiwa,
kita buatkan cerita gemilang
bagi anak cucunya

10 Juli 1963

Ada satu sajak Rendra, dipahatkan pada pualam dinding pintu masuk Gedung DPRD I Aceh. Sajak itu tanpa judul, berisi peringatakan kepada para wakil rakyat yang berkantor di sana. Tidak jelas, apakah para wakil rakyat tersebut sadar bahwa di gedung yang mereka huni terpahat sebuah sajak yang begitu menggugah. Isinya sbb:
"....."
Rakyat adalah sumber kedaulatan
kekuasaan tanpa rakyat
adalah benalu tanpa karisma
Rakyat adalah bumi
politik dan kebudayaan adalah udara
bumi tanpa udara
adalah bumi tanpa kehidupan
udara tanpa bumi
adalah angkasa hampa belaka

Wakil rakyat bukanlah abdi kekuasaan
Wakil rakyat adalah abdi para petani
para kuli, para nelayan
dan para pekerja
dari seluruh lapisan kehidupan
Wakil rakyat
adalah wakil dari sumber kehidupan

4-3-1976

Baca juga: Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala

Baca juga: Mengenal Universitas Serambi Mekkah Banda Aceh yang Didirikan oleh Mr Teuku Moehammad Hasan

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved