Sejarah

Gampong Pande Saksi Bisu Aceh Pernah Jaya di Abad ke 13

Makam itu menjadi saksi bisu bahwa di kawasan itu pernah jaya, karena terbentuknya peradaban Islam di Aceh pada abad ke 13.

Penulis: Hendri Abik
Editor: Zainal M Noor
SERAMBINEWS.COM/HENDRI
Makam Tuan Dikandang 

SERAMBIWIKI.COM, BANDA ACEH - Gampong Pande merupakan nama dari sebuah desa di Kecamatan Kutaraja, kota Banda Aceh.

Kini Gampong Pande ditetapkan sebagai wisata titik nol.

Di desa itu terdapat banyak situs dan makam para raja-raja dan ulama pada Kerajaan Aceh.

Salah satunya Makam Tuan Dikandang.

Dan makam itu menjadi saksi bisu bahwa di kawasan itu pernah jaya, karena terbentuknya peradaban Islam Aceh pada abad ke 13.

Sejarah Peunayong di Banda Aceh, Dari Tempat Berteduh Hingga Didesain Belanda Jadi Chinezen Kamp

Krueng Aceh, Sungai Sejuta Manfaat dari Hulu Hingga ke Hilir

Tuan Dikandang adalah seorang ulama yang jujur dan sosok penting dalam sejarah berdirinya Kerajaan Aceh Darussalam di Gampong Pande.

Berdasarkan cacatan sejarah, Tuan Dikandang bernama asli Mahmud Abi Abdullah Syech Abdur Rauf Baghdadi.

Beliau dipercaya sebagai seorang ulama yang membawa ajaran agama Islam hingga terbentuknya peradaban Islam pada abad ke 13.

Tuan Dikandang merupakan putra dari Sultan Mahmud Syah Seljuk, seorang raja dari Baghdad.

Raja ini berkuasa pada masa Bani Abbasiyah.

Kemudian Tuan Dikandang melarikan diri ke Aceh bersama 500 orang pengikutnya.

Dia melarikan ke Aceh saat Baghdad diserang oleh Kerajaan Mongol pada 1116 Masehi.

Warga setempat percaya, Tuan Dikandang sosok yang jujur dan taat beribadah, hingga diangkat menjadi penasihat Kerajaan Aceh pada masa Sultan Alaidin Johan Syah.

Karena kejujurannya, hingga dia dijuluki sebagai Tuan Dikandang.

Selain makam Tuan Dikandang, sedikitnya terdapat lebih 1.000 makam di Gampong Pande.

Hingga gampong ini dikenal dengan nama gampong 1.001 nisan.

Masa Kerajaan Aceh Darussalam, Gampong Pande merupakan pusat peradaban dan pusat kota kerajaan dulu.

Setelah tsunami melanda Aceh 15 tahun silam (26 Desember 2004) ada banyak situs dan makam telah rusak.

Namun kini setelah tsunami sudah tertata rapi dan bersih dan Gampong Pande telah dijadikan sebagai gampong distinasi wisata sejarah.

Pemerhati sejarah Aceh, Tarmizi A Hamid, mengamati batu nisan peninggalan kerajaan Islam yang saat ini tergusur oleh proyek IPAL di kawasan Gampong Pande - Gampong Jawa, Banda Aceh, Selasa (29/8/2017).
Pemerhati sejarah Aceh, Tarmizi A Hamid, mengamati batu nisan peninggalan kerajaan Islam yang saat ini tergusur oleh proyek IPAL di kawasan Gampong Pande - Gampong Jawa, Banda Aceh, Selasa (29/8/2017). (SERAMBI/HARI MAHARDHIKA)

Di mata pegiat sejarah dan kebudayaan Aceh Tarmizi A Hamid, atau akrab disapa Cek Midi, kawasan Gampong Pande merupakan areal inti dari berbagai peristiwa sejarah sebab berada di tepi laut dan di bagian muara atau hilir Krueng Aceh.

Kawasan ini dulunya adalah salah satu panggung utama sejarah Aceh dan telah merekam jejak-jejak sejarah yang cukup banyak.

"Dulu, kawasan ini termasuk dalam Mukim Mesjid Raya di mana Daruddunya, istana dan kuta para sultan Aceh juga berada di mukim ini," ujar kolektor naskah kuno, Tarmizi A Hamid.(SerambiWIKI/Hendri)

Ikuti kami di
KOMENTAR
112 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved