Baiturrahim Masjid Tertua Peninggalan Datuk, Saksi Lahirnya New Singkil

Gempa bumi dan gelombang yang disebut-sebut berbarengan dengan meletusnya gunung Krakatau, di Selat Sunda, tahun 1883 meluluh lantak Singkil Lama.

Penulis: Dede Rosadi
Editor: Khalidin
SERAMBINEWS.COM/DEDE ROSADI
Masjid Baiturrahim lama di Desa Pasar, Singkil, Aceh Singkil
SERAMBINEWS.COM/DEDE ROSADI
Bagian dalam masjid Baiturrahim yang baru di belakang masjid lama di Desa Pasar, Singkil, Aceh Singkil

SERAMBIWIKI.COM, SINGKIL - Masjid Baiturrahim di Desa Pasar, Kecamatan Singkil, Kabupaten Aceh Singkil, bentuknya miring akibat permukaan tanah yang jadi tempat berdirinya amblas saat gempa tsunami Aceh-Nias 28 Maret 2005.

Di belakangnya telah berdiri bangunan masjid dengan bagian dalamnya terlihat megah. Sementara bagian luarnya masih dalam tahap pembangunan.

Bangunan itu merupakan masjid Baiturrahim yang baru. Dibangun untuk menggantikan masjid lama yang ada di bagian depan.

Masjid Baiturrahim merupakan masjid tertua di Aceh Singkil. Masjid tersebut didirikan Abdurrauf, Datuk Singkil.

"Itu (masjid Baiturrahim) memang mesjid tertua di Aceh Singkil. Umurnya sudah ratusan tahun," kata Sekda Aceh Singkil, Drs Azmi, MAP, Minggu (13/6/2021).

Menurut Azmi, bentuk masjid Baiturrahim sudah bayak berubah dari aslinya. Peninggalan yang masih utuh dari bagian masjid hanya sumur bor.

"Yang utuh hanya sumur bor peninggalan jaman Belanda sampai sekarang airnya keluar dan sangat jernih tidak pernah berhenti," ujarnya.

Baca juga: Lampung, Pelabuhan Terapung Sungai Souraya Sisa Peradaban Singkil Masa Lalu

Baca juga: Kuburan Ayahanda Mufti Agung Kesultanan Aceh di Tepi Sungai Lae Cinendang, Aceh Singkil

Baca juga: Masjid Agung Nurul Makmur Pemancar Cahaya Kemakmuran di Jantung Ibukota Singkil

Kendati bentuknya dan tempatnya berubah mengikuti perkembangan jaman. Namun namanya tidak berubah, tetap masjid Baiturrahim.

Alkisah perkembangan Islam pada awal abad ke-18 di Aceh Singkil, tempo dulu sangat pesat menuntut tersedianya tempat ibadah dan pusat pendidikan bagi umat.

Berdasar kondisi itulah, Datuk Singkil bersama rakyatnya tahun 1256 Hijriah atau 1836 Masehi, membangun masjid. Bangunan berkontruksi kayu kapur, meranti laut dengan atap daun rumbia dan ijuk diberinama masjid Baiturrahim yang terletak di pusat kerajaan Singkil Lama, sebelah barat Singkil.

Gempa bumi dan gelombang yang disebut-sebut berbarengan dengan meletusnya gunung Krakatau, di Selat Sunda, tahun 1883 meluluh lantak Singkil Lama.

Datuk Abdurrauf sebagai pemimpin hijrah ke New Singkil (Singkil saat ini) diikuti rakyatnya.

Atas prakarsa Datuk Abdurrauf tahun 1909 masjid Baiturrahim kembali didirikan di sebelah timur rumahnya.

Arsitektur masjid bergaya Timur Tengah dan Melayu Kuno dengan kontruksi bangunan dari kayu kapur, rasak, meranti, beratap seng dan lantai beton.

Masa kolonial Belanda masjid menjadi benteng pendangkalan aqidah oleh misionaris. Pemberi spirit dalam melepaskan diri dari kebodohan, kemiskinan dan ketidak adilan.

Bahkan secara diam-diam digunakan mengatur strategi melawan penjajah.

Pada tahun 1953 pascakemerdekaan ukuranya diperluas dari 17x17 meter, menjadi 20x30 meter. Masjid ini terus eksis sesuai perkembangan jaman.

Begitu pun ketika tahun 1999 Aceh Singkil mekar dari Aceh Selatan, Baiturrahim didapuk jadi masjid kabupaten.

Sayangnya bangunan berarsitektur klasik tersebut, mengalami rusak berat akibat gempa dan gelombang besar (tsunami) Aceh-Nias 28 Maret 2005.

Di tengah kesulitan masa rekontruksi, warga sepakat merehab masjid yang rusak agar bisa dipergunakan. Disaat bersamaan direncanakan membangun masjid baru mengganti yang rusak berukuran 37x37 meter.

Posisinya di belakang masjid lama. Pelan namun pasti setahap demi setahap masjid baru terus dibangun hingga aktifitas beribadah termasuk shalat Jumat, bisa dilakukan.

Sumber air untuk masjid Baiturrahim yang baru, tetap menggunakan sumur bor buatan jaman belanda.

Sehingga bangunan masjid boleh modern namun tetap merupakan bagian dari rangkain sejarah lahirnya Singkil masa kini.

Sayang posisi sumur bor yang airnya keluar tanpa bantuan mesin itu, berada di luar pagar, bahkan sangat dekat dengan badan jalan.

Kondisi itu dikhawatir keberadaan sumur bersejarah tak terjaga. Apalagi pagar yang mengeliling sumur tinggal tiang saja. (dede rosadi)

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved