Lampung, Pelabuhan Terapung Sungai Souraya Sisa Peradaban Singkil Masa Lalu

Sayang lampung sisa peradaban Singkil masa lalu itu terus lapuk dimakan usia. Sang pemilik tidak sanggup membiayai perbaikan.

Penulis: Dede Rosadi
Editor: Khalidin
SERAMBINEWS.COM/DEDE ROSADI
Warga berjalan menuju lampung atau warung terapung di sungai belakang Desa Tanah Merah, Kecamatan Gunung Meriah, Aceh Singkil, Kamis (3/6/2020). Lampung merupakan warisan kejayaan masa lalu Singkil, ketika transportasi masih melalui sungai. 


SERAMBIWIKI.COM, SINGKIL – Lampung di sungai belakang pemukiman penduduk Desa Tanah Merah, Kecamatan Gunung Meriah, Aceh Singkil, tetap bertahan.

Walau semua kontruksi bangunan sudah lapuk termakan zaman.

Kondisi lampung ketika Serambiwiki.com, datang kali kedua, Kamis (3/6/2021) tidak alami perubahan.

Hanya posisinya saja yang bergeser ke arah hilir sungai sekitar 200 meter dari lokasi tahun 2019 lalu, saat Serambinews.com berkunjung pertama kali.

Warga Aceh Singkil, menyebutnya lampung untuk warisan budaya Singkil masa lalu itu.

Jika ditilik fungsinya lampung lebih mirip warung terapung dengan tambahan fungsi layak pelabuhan.

Dahulu saat trasnportasi masih menggunakan sungai banyak tersedia lampung.

Seiring perkembangan zaman, ketika transportasi berpindah ke darat tinggal lampung milik Abdul Karim di sungai belakang pemukiman penduduk Tanah Merah, yang tersisa.

Nelayan sungai menjadi lampung sebagi tempat tambatan perahu sebelum berangkat maupun pulang menangkap ikan.

Di lampung itu nelayan menjual hasil tangkapan ikan sungai pada pagi hari.

Baca juga: Lampu Babeleng Saksi Sejarah Kejayaan Maritim Singkil, Ini Lokasinya

Baca juga: Mengenang H Makmur Syahputtra, SH,MM,  Tokoh Subussalam yang Juga Mantan Bupati Aceh Singkil 

Baca juga: Kangen Masakan Khas Tradisional Singkil? Yuk Mampir ke Warung Sinanggel di Gunung Meriah

Sementara sorenya nelayan membeli kebutuhan selama berada di sungai, seperti bahan bakar mesin perahu, es, rokok dan kopi yang disediakan pemilik lampung.

Lampung mengapung di atas sungai menggunakan pelambung belasan batang kayu sebesar drum.

Kayu-kayu itu disatukan sebagai tumpuan papan dan tiang layaknya sebuah rumah hanya saja dibangun di atas sungai.

Agar tidak hanyut terbawa arus sungai tali sebesar jempol ibu kaki mengikat lampung ke patok yang dipasang di tepian sungai.

Bangunan lampung berukuran kira-kira 10 x 25 meter. Semua kontruksi terbuat dari kayu dengan atap rumbia.

Bagian dalam lampung di bagi menjadi beberapa ruangan. Ruang utama tempat minum kopi, istirahat, tungku api kayu untuk memasak air serta makan bokom (mi instan rebus).

Bokom merupakan makanan khas yang tak diketahui kapan sebutan itu mulai populer. Bokom berupa mi instan dimasak hanya disiram air panas dicampur irisan bawang merah dan cabai rawit mentah ditambah air jeruk nipis.

Ruang lain tempat jualan dan bagian belakang berisi perlengkapan pemilik lampung.

Di sekeliling lampung merupakan tempat tambatan perahu. Nelayan gratis dan aman menambatkan perahu ke lampung sepanjang waktu.


Abdul Karim, merupakan generasi ketiga dari pengelola lampung sebelumnya.

Ikuti kami di
KOMENTAR
269 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved