Pecahan Tembikar, Sisa Bukti Peradaban Singkil Lama di Dekat Muara

Di Singkil Lama terdapat muara, namun dangkal serta berombak besar. Sehingga tak jadi pilihan bagi nelayan ke luar masuk laut lepas.

Penulis: Dede Rosadi
Editor: Khalidin
SERAMBINEWS.COM/DEDE ROSADI
Pecahan tembikar yang ditemukan di sisa reruntuhan Singkil Lama, di sebelah barat Singkil, ibukota Kabupaten Aceh Singkil
SERAMBINEWS.COM/DEDE ROSADI
Pecahan tembikar yang ditemukan di sisa reruntuhan Singkil Lama, di sebelah barat Singkil, ibukota Kabupaten Aceh Singkil

Sebagai kota perdagangan Singkil Lama memiliki fasilitas pendukung, seperti pelabuhan dan pasar. Daerahnya terbukan, sehingga penduduk yang mendiaminya berasal dari berbagai etnis, Eropa, Tingkok, Arab dan etnis lokal.

Berdasarkan literatur Singkil sudah beberapa kali pindah akibat luluh lantak dihantam gempa dan gelombang tsunami, hingga ke lokasi sekarang yang disebutan Singkil Baru (New Singkil).

Di peta-peta (map) lama keluaran Portugis atau Belanda, wilayah Singkil yang kini menjadi ibu kota Kabupaten Aceh Singkil sudah dipakai nama New Singkel. Versi Indonesianya, itulah Singkil Baru.

Alkisah, wilayah Singkil sendiri awalnya di sekitar Gelombang sekarang. Ada juga yang menyebutnya dekat muara Berok. Didirikan raja-raja Singkil sekitar abad ke-7.

Setelah hancur akibat peristiwa alam, kejayaan Singkil kembali didirikan di muara Singkil Lama. Namun jelang akhir abad ke-18 lagi-lagi datang geloro menghancurkan kota.

Akhirnya, penduduk yang tersisa pindah ke Desa Ujung, terus menyebar ke desa lain. Itulah yang kemudian menjadi landscape (bentang alam) Singkil Baru, yang kini menjadi ibu kota Kabupaten Aceh Singkil.

Rumah Gadang di Desa Ujung, bukti sejarah yang tersisa lahirnya Singkil Baru. Istana itu didirikan Datuk Singkil, Datuk Abdurauf, sekitar 1904 sebagai tempat tinggal bersama keluarga. (dede rosadi)

 

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved