Hamzah Fansyuri Dianugerahi Bintang Budaya Parama Dharma, Makamnya di Tepi Sungai Souraya

Di kota itulah Syekh Hamzah Fansyuri, pengarang “Syair Perahu” dimakamkan. Tepatnya di Desa Oboh,  Kecamatan Rundeng, Subulussalam.

Penulis: Fikar W Eda
Editor: Khalidin
FOR SERAMBINEWS.COM
PENZIARAH berswafoto di lokasi makam Syekh Hamzah Fansury, Desa Oboh Kecamatan Rundeng, Kota Subulussalam 

SERAMBIWIKI.COM - Lebih dari seratus siswa sekolah dasar, sekolah menengah, dan guru kesenian memanggungkan  “Syair Perahu” dalam suatu pertunjukan musikalisasi puisi di pentas  alun-alun Kota Subulussalam, Provinsi Aceh, Rabu, 7 Juli 2010, malam.      

Di kota itulah Syekh Hamzah Fansyuri, pengarang “Syair Perahu” dimakamkan. Tepatnya di Desa Oboh,  Kecamatan Rundeng, Subulussalam.

Makamnya terletak di tepi sungai Lae Souraya atau Krueng Singkil. Sungai itu berhulu di Aceh Tenggara, melintasi Subulussalam dan bermuara di laut Singkil. Itulah sungai terpanjang di Aceh.  

Tapi ada pendapat yang mengatakan, makam Hamzah Fansyuri juga ada di Desa Ujung Pancu, Kecamatan Pekan Bada, Kabupaten Aceh Besar.

Makam lainnya, konon berada di Langkawi, Malaysia. Pendapat terakhir menyebutkan, makam Hamzah Fansuri berada di Makkah.      

Penyair dan ahli tasawuf Aceh ke 17 tersebut, mendapat anugerah Bintang Budaya Parama Dharma, yang diserahkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam acara penganugerahan Bintang Maha Putera, dan Tanda Jasa di Istana Negara pada Selasa, 13 Agustus 2013.        

“Syair Perahu” adalah salah satu karya terpenting Hamzah Fansyuri. Terdiri dari 41 bait. Ditulis dalam bahasa Melayu di abad ke 16. 

Pakar linguistik dan sastra A. Teeuw  dalam bukunya “Indonesia Antara Kelisanan dan Keberaksaraan” (Pustaka Jaya Jakarta 1994), memberi tiga argumen  tentang karya Hamzah Fansyuri.

Pertama, sisi individualitas, puisi Fansyuri  tidak anonim seperti dalam sastra Melayu lama. Inilah ciri khas kemoderenan, seperti yang juga terjadi dalam sejarah sastra Eropa. Ia menonjolkan hak ciptanya secara eksplisit.

Kedua, Fansyuri  menciptakan bentuk puisi baru untuk mengungkapkan gerak sukmanya    dengan mengambil alih (transformasi sebagian) model sastra Parsi kemudian menyesuaikannya dengan budayar Melayu. 

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved