Sejarah Islam

Darussaadah Cot Puuk Gandapura Pondok Pesantren Salafiah Tertua di Kabupaten Bireuen

Salah satu pesantren/dayah tertua di Bireuen Yayasan Pendidikan Islam Darussa’adah Cot Puuk, Gandapura, Bireuen didirikan tahun 1967 lalu.

Penulis: Yusmandin Idris
Editor: Khalidin
SERAMBIWIKI/YUSMANDIN IDRIS
Komplek dayah Darussa’adah Cot Puuk, Gandapura, Kabupaten Bireuen. 

SERAMBIWIKI.COM, BIREUEN - Kabupaten Bireuen dikenal dengan banyaknya dayah/pesantren mulai dari Gandapura sampai Samalanga hingga pemerintah setempat menetapkan sebagai 'Kota Santri'.

Salah satu pesantren/dayah tertua di Bireuen adalah Yayasan Pendidikan Islam Darussa’adah Cot Puuk, Gandapura, Bireuen didirikan tahun 1967 lalu.

Pendirinya almarhum Tgk H M Al Irsyad atau lebih dikenal Abu Teupin Raya, pimpinan pertama dayah tersebut almarhum Waled Abdullah sekarang dipimpin Tgk H M Yusuf Ali atau lebih dikenal Abon Cot Puuk.

Dayah Darussa' adah Gandapura kata Abon Cot Puuk selaku pimpinan dayah saat ini, Darussa’adah Cot Puuk merupakan dayah pertama yang dibangun setelah Darussa’adah Teupin Raya.

Keuchik Cot Puuk, A Thaleb AR kepada Serambiwiki.com mengatakan, dayah tersebut berada di pinggir jalan nasional Banda Aceh-Medan di Desa Cot Puuk berjarak sekitar 2 KM arah barat Keude Gandapura.

Komplek dayah merupakan tanah wakaf masyarakat menyatu dengan mesjid Multazam yang dibangun tahun 1991 lalu.

Amatan Serambiwiki.com, Selasa (13/04/2021), dayah mulai sepi karena para santri pulang ke rumah, ada beberapa santri yang masih tetap didayah dengan rutinitas mengaji.

Baca juga: Berdiri Sejak 1975, Yayasan Al Hanafiah Ini Khusus Pondok Pesantren Putri di Samalanga, Bireun

Baca juga: Meuligoe Bupati Bireuen, Sejarah Perjuangan Bangsa Indonesia

Selain itu, ada puluhan orang berbagai usia umumnya kaum ibu di beberapa ruangan di komplek dayah sedang melaksanakan kalud atau melaksanakan ibadah tersendiri dalam ruangan.

Mursal S Ag salah seorang anggota komite dayah mengatakan, setiap tahun banyak orang umumnya orang dewasa yang mengikuti kalud di dayah Darussa’adah , umumnya kaum ibu.

Tahun ini katanya, jumlah kaum ibu dari berbagai daerah yang mengikuti kalud di Darussa’adah mencapai 103 orang sedangkan kaum bapak tercatat 10 orang, mereka beribadah dalam ruangan khusus selama Ramadhan.

Mursal menambahkan, komplek dayah luasnya mencapai 2 hektar lebih, sekarang sudah padat dengan bangunan tempat belajar santri dan juga tempat penginapan para santri.

Dayah Darussa’adah sejak awal berdiri sampai saat ini tetap eksis sebagai salah satu dayah salafi di Bireuen, jumlah santri setiap tahun yang ingin mondok dan menjadi santri semakin banyak pimpinan dayah terpaksa membatasi.

Pembatasan jumlah santri yang diterima karena ruangan atau asrama sebagai tempat tinggal para santri terbatas, sedangkan tempat pengajian memadai, apalagi ada masjid dalam komplek dayah.

Kurikulum yang dijalankan adalah kurikulum dayah yaitu mengaji, membaca kitab kuning dan juga kegiatan ektrakurikuler lainnya setiap hari. Jadwal mengaji mulai dari subuh, siang, sore sampai malam hari dengan waktu istirahat memadai dan libur satu minggu sekali.

Menyangkut keberadaan masjid dalam komplek dayah, Mursal mengatakan, komplek dayah merupakan tanah wakaf masyarakat, sejak didirikan terus berkembang, ketika memasuki hari Jumat, para santri, guru dayah
melaksanakan shalat Jumat ke Masjid Jamik Gandapura.

Para pimpinan dayah dan masyarakat waktu itu sepakat mendirikan masjid dalam komplek dayah, tujuannya memudahkan para santri, para tengku dan masyarakat untuk shalat Jumat, maka didirikan mesjid dalam komplek dayah pada tahun 1991 lalu.

Mursal yang didampingi beberapa santri mengatakan, jumlah santri saat ini tercatat 200 orang lebih, para santri berasal dari Bireuen, Aceh Utara, Lhokseumawe, Bener Meriah dan Takengon.

Sementara guru dayah saat ini mencapai 40 orang. Para santri dan guru dayah tetap mondok di dayah dan mengikuti pengajian sebagaimana jadwal yang telah ditetapkan.

Menyangkut biaya operasional dayah, Mursal mengatakan, setiap santri dikenakan iuran bulanan Rp 20.000/orang.

Lalu untuk kebutuhan dapur para santri ditanggung sendiri dengan memasak sendiri ada biaya makan membayar bulanan. “Biaya kebutuhan santri untuk makan dan lainnya ditanggung para santri sendiri, masak sendiri,” terang Mursal.

Ikuti kami di
KOMENTAR
253 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved