Situs Sejarah

Ini Dia Masjid Tuo Al-Khairiyah Tapaktuan,Pembangunannya Memakai Tukang asal Tionghoa

Dari beberapa sumber pembangunan masjid ini dicetuskan seorang saudagar keturunan Arab yang datang dari Betawi/Batavia bernama Syeich Muhammed Qisthi

Penulis: Taufik Zass
Editor: Khalidin
SERAMBIWIKI.COM/TAUFIK ZASS
Masjid Tuo Al-Khairiyah, Tapaktuan, Aceh Selatan
SERAMBINEWS.COM/TAUFIK ZASS
Masjid Tuo Al-Khairiyah, Tapaktuan, Aceh Selatan
SERAMBINEWS.COM/TAUFIK ZASS
Masjid Tuo Al-Khairiyah, Tapaktuan, Aceh Selatan

SERAMBIWIKI.COM, TAPAKTUAN - Mesjid Tuo Al-Khairiyah yang beralamat di Jln. Teuku Umur, Kampung Padang, Kecamatan Tapaktuan hingga kini belum diketahui siapa yang bisa dijadikan sumber latar belakang sejarah berdirinya atau dibangunnya Masjid tersebut.

Pasalnya, menurut keterangan beberapa tokoh setempat tidak ada saksi sejarah yang membangun masjid ini. Pasalnya, sejauh ini belum ada orang tua yang masih hidup mampu menjawab soal siapa tokoh pembangun.

Beberapa orang tua yang ditanya mereka mengaku dulu pernah bertanya kepada nenek-nenek mereka tentang Masjid ini, namun jawaban yang mereka peroleh dari nenek-nenek mereka adalah “Setahu kami diwaktu kami masih kanak-kanak, Masjid Tuo itu sudah seperti ini juga,”.

“Kalau kita cari sumber latar belakang sejarah berdirinya atau dibangunnya masjid dan oleh siapa mendirikan, memang sulit untuk diperoleh informasi yang akurat, karena tidak ada saksi sejarah yang membangun masjid ini.

Kalau kita bertanya kepada orang tua-tua kita yang masih hidup, beliau-beliaupun dulu pernah juga bertanya kepada nenek-neneknya atau angku-angkunya tentang masjid ini, jawaban yang beliau peroleh dari nenek-nenek beliau adalah, setahu kami diwaktu kami masih kanak-kanak Masjid Tuo itu sudah seperti ini juga.

Ini adalah jawaban nenek atau angku dari nenek kita atau orang yang tertualah di Tapaktuan yang masih hidup saat ini, kerena pada umumnya baik laki-laki maupun perempuan masjid ini sarana untuk penimpa ilmu agama bagi beliau beliau tersebut,” kata Imam Masjid Tuo Al-Khairiyah, A Nasriza kepada Serambiwiki.com, Rabu (14/04/2021).

Dijelaskannya, menurut catatan yang ada pada salah satu tiang, bahwa Masjid Tuo Al-Khairiyah ini dibangun pada tahun 1276 Qamariyah atau ± 1860 Miladiyah, dengan ukuran bangunan induk 10 x 10 meter.

Tiang masjid terdiri 4 buah tiang panjang dan 12 buah tiang pendek, konon kabarnya tiang-tiang tersebut adalah sebatang pohon kayu yang tumbuh di lokasi Masjid itu sendiri.

Baca juga: Inilah Bupati Aceh Selatan Dari Masa ke Masa

Baca juga: Benteng Kuta Batee, Peninggalan Bersejarah Kerajaan Trumon di Aceh Selatan

Baca juga: Tapak Tuan Tapa di Aceh Selatan, Legenda Petapa Sakti Bertubuh Raksasa dan Dua Naga dari Tiongkok

Dari beberapa sumber pembangunan masjid ini dicetuskan oleh seseorang saudagar keturunan Arab yang datang dari Betawi/Batavia bernama Syeich Muhammed Qisthi.

Dikatakan, saat beliau datang ke Tapaktuan melihat penduduk Tapaktuan yang beragama Islam tapi belum mempunyai tempat ibadah sebagai sarana melaksanakan shalat lima waktu.

Untuk menyatukan umat dalam bentuk jamaah, beliau sangat prihatin dengan keadaan demikian sementara minat dan kemauan masyarakat untuk memperdalam ilmu Agama sangatlah tinggi.

“Waktu beliau datang kali keduanya, beliau membawa tukang orang Tionghowa yang juga telah memeluk agama Islam, maka mulailah masjid dibangun dan disambut oleh masyarakat Tapaktuan dengan suka cita sambil ikut sama-sama bergotong royong secara bergiliran.

Untuk motiv masjid itu sendiri mengacu kepada masjid-masjid yang telah dulu dibangun di pulau Jawa seperti masjid Banten dan Demmmak,” ungkap A Nasriza sesuai dengan catatan sejarah yang dimilikinya dalam bentuk tertulis.

Seiring dengan perjalanan waktu, beberapa dasawarsa kemudian apa yang pernah dicita-citakan oleh pendiri masjid mulailah terwujud, yaitu masjid yang tidak atau belum punya nama saat itu menjadi pusat cikal bakal pengembagan intelektual Islam.

Diantaranya yang pernah belajar disini adalah Abuya Syech Muda Waly Al-Khalidy sebelum beliau meneruskan pendidikannya ke Sumatera Barat, juga Buya Zamzami Syam yang terakhir beliau menetap di Singkil.

Lalu Ustazd Manaf yang terakhir beliau menetap di Blang Pidie, juga intelektual Islam lainnya seperti Prof. DR. Ismail Suny yang juga pernah menjadi pimpinan Muhammadiyah Pusat.

Pada saaat itu system belajar/mengajar di emperan masjid yang dinamai proses belajar/mengajar ala Rangkang, pada waktu itulah lahir nama Masjid ini Al-Khariyah.

Sementara nama masjid sendiri kalau orang diluar Tapaktuan menamakan Mesjid Jami’ Lama Kota Tapaktuan, sementara orang Tapaktuan sendiri menamakannya Mesjid Tuo.

Pada tahun 1992, waktu itu Camat Tapaktuan, Ny Yuliaty BA, menghidupkan kembali pengajian ala Rangkang ini dengan metode Iqra’ TQA Dan TPA, maka diberi nama kembali TQA/TPA Al-Khariyah, sekaligus untuk nama masjid yaitu “Masjid Tuo Al-Khariyah” dengan status masjid Kecamatan.

Masjid Tuo Al-Khairiyah, Tapaktuan, Aceh Selatan
Masjid Tuo Al-Khairiyah, Tapaktuan, Aceh Selatan (SERAMBIWIKI.COM/TAUFIK ZASS)

Selanjutnya untuk kelengkapan masjid sebagaimana masjid-masjid lainnya, juga dilengkapi dengan sebuah Beduk (Tamboe) besar dengan ukuran yang ada sekarang radius 85 cm dan panjang 4,5 meter dan beduk ini sering dibawa sampai ke Banda Aceh dalam rangka PKA tahun 2004 dan 2009.

Ikuti kami di
KOMENTAR
248 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved