Sejarah Islam

Masjid Teungku Di Pucoek Krueng Beuracan dan Jejak Ulama Pencetak Sawah di Meureudu

Nama Teungku Chik Di Pucok Krueng inilah yang kemudian ditabalkan pada masjid tertua di Meureudu ibukota kabupaten yang masih berusia 13 tahun.

Penulis: Idris Ismail
Editor: Khalidin
SERAMBIWIKI/IDRIS ISMAIL
Masjid Tengku Di Pucoek Krueng, Kemukiman Beuracan, Kecamatan Meureudu, Pidie Jaya. 

SERAMBIWIKI, MEUREUDU - Masjid Teungku Di Pucok Krueng Beuracan atau biasa dikenal dengan masjid Beuracan, Kecamatan Meureudu merupakan satu dari sejumlah masjid bersejarah di Kabupaten Pidie Jaya.

Masjid dengan bentuk empat persegi ini dengan mudah ditemukan. Sebab, masjid ini berada persis di pinggir jalan negara, lintas Banda Aceh-Medan (dari arah barat) atau memasuki Kecamatan Meureudu.

Terdapat dua masjid dalam satu kompleks yang langsung terlihat oleh siapa saja yang melintas di kawasan itu. 

Berada di bantaran sungai Krueng Beuracan, Meureudu inilah Masjid Tgk Di Pucok Krueng yang masih berdiri kokoh dengan arsitek klasik yang masih membungkus dan terus terpelihara sampai saat ini oleh masyarakat dan pemerintah Pijay.

Jejak rekam sejarah masjid tua ini, dibangun oleh Teungku Abdussalam (Ada yang menyebutkan Abdussalim) yang kerap dikenal dengan Teungku Chik Di Pucok Krueng.

Nama Teungku Chik Di Pucok Krueng inilah yang kemudian ditabalkan pada masjid tertua di Meureudu ibukota kabupaten yang masih berusia 13 tahun.

Menurut bilal masjid, Tgk Ismail Be bin Ba’ (72) yang mengutip keterangan dari al-marhum Tgk M Usman yang merupakan ketua panitia pembangunan masjid, bahwa Masjid Teungku Chik Di Pucok Krueng ini didirikan pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda pada tahun 1607 M-1636 M.

Baca juga: Putroe Tsani, Permaisuri Pertama Sultan Iskandar Muda yang Dimakamkan di Pedalaman Pidie

Baca juga: Teungku Chik Di Tiro, Pahlawan Asal Pidie Dimakamkan di Meureu Aceh Besar

Baca juga: Duh, Bukti Sejarah Itu Dirusak untuk Batu Asah, Fakta Miris di Kompleks Makam Putroe Balee di Pidie

Di mana saat itu dibangun tiga masjid yaitu, Beuracan'>Masjid Beuracan, Masjid Kuta Batee dan Masjid Madinah di Kecamatan Meurah Dua yang merupakan pecahan dari kecamatan Meureudu. 

“Masjid Teungku Chik Di Pucok Kreung awalnya merupakan masjid satu-satunya selain digunakan warga Beuracan juga digunakan oleh warga di tiga kemukiman, Ulim, Pangwa, dan Beuriwueh,” sebut Tgk Ismail Be Bin Ba’ kepada Serambiwiki, Rabu (30/3/2021).

Meski berada di pinggiran sungai Krueng Beuracan yang kerap meluap saban musim penghujan, masjid Tgk Di Pucok Krueng selalu terhindar dari genangan air banjir.

Selain itu juga, di masjid ini juga terdapat satu guci yang dikeramatkan oleh banyak warga. Tak heran, banyak warga sekitar dan bahkan dari luar daerah bernazar mengambil air tersebut sebagai penawar segala penyakit.

Namun, jangan lupa sedikit maklumat atau peringatan larangan mengambil air di guci tersebut bagi kaum wanita yang sedang berhalangan.

Larangan itu bisa dibaca dengan jelas pada tulisan yang dipajangk depan masjid. “Jika guci keramat ini didekati oleh kaum hawa yang sedang berhalangan (datang bulan), maka pada malam hari bangkai tikus akan mengapung dalam air guci.”

Pada tahun 1947 masjid ini direhab dengan memperindah bangunan tanpa mengubah bentuk semula, hanya menambah dinding bagian belakang (sisi barat).

Kemudian pada tahun 1990 dipugar kembali oleh Muskala Kanwil Depdikbud Provinsi Daerah Istimewa (DI) Aceh dengan penambahan dinding seluruh bagian masjid dan mengganti tiang-tiang serta atap yang rusak akibat dimakan usia.

Pendiri masjid Tgk Di Pucok Krueng, Tgk Abdussalim, merupakan seorang yang ahli dalam bidang pertanian dengan sebutan Poh Roh alias Peugeut Blang (cetak sawah baru).

Di masanya, Tgk Di Pucok Kreung ini mampu merintis sebanyak 25 yok (1 Yok sama dengan 1 hektare) areal persawahan yang dijadikan sebagai aset milik pengelola masjid atau lazim disebut Tanoh Meusara (Waqaf) yang dikelola untuk kemakmuran masjid.

Usaha perluasan areal persawahan terus dirintis bersama masyarakat setempat sehingga membuat Sultan Iskandar Muda sempat tercengang melihat terobosan Tgk Di Pucok Krueng.

Ini karena Tgk Di Pucok Krueng membuka lahan baru di Gunung Raweu, yang terletak antara Kecamatan Meureudue, Pidie Jaya dengan  Kecamatan  Geumpang Kabupaten Pidie.

Kala itu, Sultan Iskandar Muda penasaran karena seluruh bala tentara yang dipimpin Panglima Malem Dagang dan Tgk Japakeh sudah berkumpul untuk memerangi kerajaan Johor, Malaysia.

Ikuti kami di
KOMENTAR
246 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved