Sejarah

Chairul Bahri, Pelukis Berdarah Gayo Sosok Perancang Pancacita Lambang Pemerintah Aceh

Chairul Bahri ditugaskan melukis Lambang Pantja Tjita, disebutkan dalam laporan Panitia Sayembara Lambang Daerah Istimewa Aceh tanggal 17 Mei 1961

Penulis: Fikar W Eda
Editor: Khalidin
zoom-inlihat foto Chairul Bahri, Pelukis Berdarah Gayo Sosok Perancang Pancacita Lambang Pemerintah Aceh
FOR SERAMBINEWS.COM
Chairul Bahri, Pelukis Kelahiran Bintang yang merancang Pantja Tjita Lambang Pemerintah Aceh

SERAMBIWIKI.COM –Lambang Aceh, Pantja Tjita, yang masih dipergunakan sampai sekarang adalah hasil kreasi dari pelukis Chairul Bahri, lahir di Bintang, Aceh Tengah, 31 Juli 1927.

Pelukis berdarah Gayo ini meninggal dunia dalam usia 81 tahun di Jakarta, Minggu, 23 November 2008, dikebumikan di Taman Pemakaman Umum(TPU) Kemiri, Rawamangun Jakarta Timur.

Chairul Bahri ditugaskan melukis Lambang Pantja Tjita, disebutkan dalam laporan Panitia Sayembara Lambang Daerah Istimewa Aceh (badan juri) tanggal 17 Mei 1961 pada angka III.

Lengkapnya dokumen panitia itu berbunyi; Menetapkan bahwa lambang dari Daerah Istimewa Aceh harus dilukis oleh Sdr Chairul Bahri,anggota dari badan juri, seseorang yang telah mendapat pendidikan dalam jurusan dimaksud (seni lukis, red.) di Roma, dengan mengindahkan lukisan-lukisan dari para pemenang kelima orang itu.”

Chairul Bahri dalam satu kesempatan wawancara dengan Serambi, di rumahnya, Jln Jati Unggul No 43 RT/RW 005/03 Kelurahan Jati, Kecamatan Pulogadung, Jakarta Timur. Wawancara berlangsung pada 31 Agustus 2008.

Ia kemudian menceritakan proses penciptaan Lambang Pantja Tjita tersebut. Mula-mula, katanya, Gubernur Aceh, waktu itu Ali Hasjmy membentuk sebuah panitia Sayembara Lambang Daerah Istimewa Aceh, yang diketuai sendiri oleh gubernur.

Tapi hasil sayembara tidak memuaskan. Setelah diseleksi dan kemudian dipamerkan, ternyata tak ada pemenang. Chairul Bahri dalam jajaran panitia sebagai ketua pameran karya-karya peserta lomba dan salah seorang dewan juri.

Baca juga: Lirik Lagu Himne USK Ternyata Puisi WS Rendra Berjudul Universitas Syiah Kuala Guru Kami

Baca juga: Sejarah Peunayong di Banda Aceh, Dari Tempat Berteduh Hingga Didesain Belanda Jadi Chinezen Kamp

Baca juga: Sejarah Singkat Vihara Dharma Bhakti di Aceh: Bukti Keberagaman Agama Ada di Kota Syariat Islam

Karena tak ada juara 1, panitia kemudian berembuk dan memutuskan agar Chairul Bahri yang melukiskan lambang daerah tersebut berdasarkan referensi dari karya-karya peserta.

"Jadi peran saya, selain sebagai penilai, juga melukis atau merakit Lambang Pantja Tjita itu sehingga berbentuk seperti yang ada sekarang. Itu berdasarkan hasil karya dari peserta lomba yang masuk lima besar," kata Chairul Bahri.

Waktu itu, tahun 1961, Chairul Bahri adalah pegawai bidang Kebudayaan Kantor P dan K Aceh. Tapi, selang setahun kemudian, memilih keluar dari pegawai negeri setelah sebelumnya sempat pindah kerja ke Jakarta.

"Sebetulnya saya tidak berminat sedikitpun sebagai pegawai negeri," kata Chairul Bahri. Tapi karena waktu itu, ia didesak terus menerus oleh Ali Jauhari, pejabat teras P dan K Aceh, Chairul akhirnya setuju. Maka jadilah iasebagai pegawai P dan K Aceh dalam bidang kebudayaan.

Pancacita, Lambang Provinsi Aceh dalam Prangko Tahun 2008
Pancacita, Lambang Provinsi Aceh dalam Prangko Tahun 2008 (SERAMBINEWS.COM)

Sampai usia lanjut, Chairul Bahri tetao melukis. Sebagai perupa, namanya cukup diperhitungkan di indonesia. Chairul Bahri memilih aliran figuratif dengan bentuk sangat khas.

Pelukis Affandi, dalam sebuah sambutan untuk pameran Chairul Bahri tahun 1982,memuji karya Chairul Bahri yang dikatakannya sebagai memiliki corak yang khas Bahri yang jarang ditemukan pada pelukis- pelukis lain.

"Saya suka pada lukisan Sdr Bahri dimana saya melihat bahwa lukisan-lukisannya mempunyai corak yang khas Bahri sendiri, yang jarang saya temukan pada pelukis -pelukis lain," tulis Affandi dalam katalog pameran Chairul Bahri di Balai Budaya Jakarta, 1982.

Chairul Bahri telah melakukan ratusan kali pameran di Indonesia dan luar negeri. Ia pernah pameran di Roma bersama-sama dengan pelukis Asia lainnya pada 1955, juga Pameran Bertiga di Galeri Schneider Roma 1956.

Bahru termasuk seangkatan dengan Edi Sunarso, G Sidharta, Abbas Alibasyah, Fajar Sidik dan lain-lain.

Mulai belajar melukis tahun 1950 di Yogyakarta. Ketika itu ia baru saja menunaikan tugas sebagai anggota TNI AD (1945-1950).

Menteri P dan K M Yamin kemudian mengirim Bahri belajar di Akademi Seni Rupa Roma. Ia berangkat bertiga, yakni Nasir Bondan dari Banten dan Sayono pelukis dari Jawa.

Ia pun sempat menjadi Ketua Delegasi Konferensi Pelajar Indonesia I di seluruh Eropa di Bonn Jerman Barat.

Pulang ke Indonesia 1957 dan langsung mendirikan Akademi Kesenian di Surakarta bersama-sama dengan Alibasyah, Sanyoto didukung oleh seniman-seniman Yogyakarta.

Di Akademi itu pula Bahri menjabat Ketua Dewan Kurator/guru dan sekaligus guru bahasa Italia pada Akademi Musik Indonesia Yogyakarta.

Ia juga sempat mengajar pada Sekolah Tinggi Seni Rupa Nasional Jakarta 1962-1963. Jabatan lain Sekretaris Bidang Kebudayaan Angkatan '45 Pusat(1963-1966) dan Wakil Ketua Bidang Kebudayaan Angkatan '45 Pusat (1966-1968).

Relief Kepulauan Indonesia yang terletak di Taman Mini Indonesia Indah (TMII)Jakarta adalah karya lain dari Chairul Bahri.

Relief lima pulau besar itu, Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Papua sangat jelas terlihat pada saat pengunjung berada dalam kereta gantung yang melintasi di atasnya.

Proyek ini dikerjakan tahun 1973. Untuk menghidupi keluarga, ia pernah menjadi sopir oplet. Ini dilakukannya pada tahun 1974-1979.

Pancacita yang menjadi Pemerintahan Aceh memiliki lima makna sebagaimana dijelaskaan dalam wikipedia.org.

Lambang Aceh, Pancacita adalah lima cita, yaitu keadilan, kepahlawanan, kemakmuran, kerukunan, dan kesejahteraan. Lambang Aceh berbentuk persegi lima yang menyerupai kopiah.

Dalam perisai itu terdapat dacin (alat timbangan), rencong, padi, kapas, lada, cerobong pabrik, kubah masjid (di antara padi dan kapas), kitab dan kalam.

Keadilan dilambangkan dengan dacin. Kepahlawanan dilambangkan dengan recong. Kemakmuran dilambangkan dengan padi, kapas, lada, dan cerobong pabrik. Kerukunan dilambangkan dengan kubah masjid. Sedangkan kesejahteraan dilambangkan kitab dan kalam. (fikar w eda)

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved