Sejarah

Lirik Lagu Himne USK Ternyata Puisi WS Rendra Berjudul Universitas Syiah Kuala Guru Kami

Puisi "Universitas Syiah Kuala, Guru Kami" diciptakan 1 Juli 1970 kemudian digubah oleh komponis Mochtar Embut menjadi Hyimne Universitas Syiah Kuala

Penulis: Fikar W Eda
Editor: Khalidin
SERAMBIWIKI/HENDRI ABIK
Pusat Administrasi Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Darussalam, Banda Aceh, Rabu (23/9/2020). 

Ketika gempa dan gelombang raya (tsunami) menghantam Aceh, 26 Desember 2004, Mas Willy terguncang dan menanyakan nasig De'na dan keluarga.

Mas Willy kemudian menulis sajak tentang peristiwa tsunami yang mengguncangkan itu, berjudul "Dimana Kamu De' Na?"

Fakultas Teknik Unsyiah
Fakultas Teknik Unsyiah (Serambinews.com/Hendri)

DIMANA KAMU, DE’ N?

Akhirnya berita itu sampai kepada saya:
Gelombang Tsunami setinggi 23 meter
Melanda rumahmu.
Yang tersisa hanya puisng-puing belaka.
Di mana kamu, De’ Na?

Sia-sia teleponku mencarimu.
Bagaimana kamu Aceh?
Di TV kulihat jayat-mayat
Yang bergelimpangan di jalan.
Kota dan desa-desa berantakan.
Alam yang murka
Manusia-manusia yang terdera
Dan sengsara.

Di mana kamu, De’ Na?
Ketika tsunami melanda rumahmu
Apakah kamu lagi bersenam pagi
Dan ibumu yang janda lagi membersihkan kamar mandi?

De’ Na, kita tak punya pilihan
Untuk hidup dan mati.
Namun untuk yang hidup
Kehilangan dan kematian
Selalu menimbulkan kesedihan.
Kecuali kesedihan selalu ada pertanyaan

Kenapa hal itu mesti terjadi
Dengan akibat yang menimpa kita?
Memang ada kedaulatan manusia, De’ Na.
Tetapi lebih dulu
Sudah ada daulat alam.
Dan kini kesedihanku yang dalam
Membentur daulat alam.
Pertanyaanku tentang nasib ini

Merayap mengitari alam gaib yang sepi.
De’ Na! De’ Na!
Kini kamu menjadi bagian misteri
Yang gelap dan sunyi
Hidupku terasa rapuh
Oleh duka, amarah, dan rasa lumpuh.
Tanpa kejernihan dalam kehidupan
Bagaimana manusia bisa berdamai dengan kematian?

De’ Na, hatiku menjerit pilu.
Di mana kamu? Bagaimana kamu?
Yang tak bisa kutolak dalam bayangan,
Meski mataku terbuka dan terpejam,
Adalah gambaran orang banyak berlarian
Dikejar gelombang 23 meter tingginya.
Dan lalu gempa yang menenggelamkan
Gedung-gedung tinggi,
Membelah jalan raya,
Menjadi jurang menganga.
Ribuan manusia jadi sampah dalam badai.
Kedahsyatan daulat alam, De’ Na!
Bukan sekedar kematian!
Inilah yang membuat aku gemetaran!
Tanpa menyadari ini

Apakah arti kebudayaan?
Apakah pula arti puisi?
Hidup dan segala usaha manusia
Barulah berarti dan nyata
Bila ia menyadari batas kuasanya.

Be’ Na,
Apakah sekarang kamu lagi tersenyum
Membaca sajakku semacam ini?

Radio Female, 29 Des 2004
Dan ketika Mas Willy datang lagi ke Banda Aceh, lebih kurang sebulan setelah tsunami, ia pun mengunjungi rumah De' Na yang hilang tanpa bekas disapu gelombang raya. De' Na kemudian diangkat jadi anaknya.(*)

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved