Sejarah Islam

Kisah Abuya Tanah Merah, Ulama Kharismatik dan Pejuang Pendidikan Aceh Singkil

Bahauddin atau Abuya Tanah Merah lahir pada 5 Februari 1927, di Seping Kampong yang pada masa itu ramai dikunjungi para pedagang.

Penulis: Khalidin
Editor: Khalidin
FOR SERAMBINEWS.COM
SYAIKH Al-Fadhil Haji Bahauddin Tawar Al-Yaqani Rahmatullah ‘Alaih 

SERAMBIWIKI, SUBULUSSALAM - SYAIKH Al-Fadhil Haji Bahauddin Tawar Al-Yaqani Rahmatullah ‘Alaih yang lebih dikenal dengan Abuya Tanah Merah adalah seorang ulama kharismatik di Aceh Singkil dan Kota Subulussalam.

Dia yang telah merintis dan mengusung dakwah Islamiyah khususnya di Aceh Singkil dan Kota Subulussalam, melalui jalur pendidikan dayah/pesantren, amaliah Thariqat dan ceramah keliling.

Bahauddin atau Abuya Tanah Merah lahir pada 5 Februari 1927, di Seping Kampong yang pada masa itu ramai dikunjungi para pedagang.

Ini karena letaknya persis di jalur perhubungan Lae Cinendang, Lae Suraya dan Lae Singkil yang merupakan jalur transportasi saat itu.

Sebagaimana dituliskan Ustaz Sabaruddin S, S.PdI, Ketua Baitul Mal beberapa tahun lalu di rubrik opini Serambi Indonesia ini, Buya Tanah Merah merupakan bayi siampun-aiampun (bungsu) dari tujuh bersaudara.

Ayahnya bernama Tuan Muhammad Tawar dan ibunya bernama Bunda Andak. Setelah menamatkan Sekolah Rakyat (SR) pada 1942 di Rimo, Aceh Singkil, Abuya Tanah Merah bersama abangnya Abuya Tgk Khalil Rahmatullah ‘alaih menuntut ilmu di Pesantren Darussalam, Labuhan Haji, Aceh Selatan.

Abuya Tgk Khalil --pendiri Pesantren Raudhatul Muttaqin di Sibungke-- . Keduanya menimba ilmu di Pesantren Darussalam yang diasuh oleh Tgk Muda Waly Alkhalidi Asy-Syafi’ie As-Sunni Rahmatullah ‘alaih, seorang ulama yang tersohor bukan hanya di Aceh tapi juga ke mancanegara.

Baca juga: Kuburan Tua di Ukhuk Datakh Petunjuk Tempat Lahir Syekh Abdurrauf di Aceh Singkil

Baca juga: Jadi Wisata religi di Kota Subulussalam, Berikut Sekelumit Tentang Syekh Hamzah Fansury

Setelah itu, Abuya Tanah Merah pun tertarik untuk berangkat menimba ilmu dan pengalamn ke Sumatera Barat.

Pada 1952, ia berangkat ke Melalo Padang Panjang, belajar langsung kepada seorang ulama besar di sana, yakni Syaikh Zakaria Labai Sati Rahmatullah ‘alaih.

Lebih kurang dua tahun di sana, karena alasan sakit ia pun kembali ke kampung halamannya di Seping.

Setelah sembuh, ia pun kembali ke Pesantren Labuhan Haji. Ia menikah dengan Ummi Siti Khadizah binti Abdul Majid, putri kampung Sibungke pilihan abangnya Abuya Khalil.

Setelah menikah, ia memboyong istrinya ke Labuhan Haji untuk melanjutkan pendidikan tingkat Bustanul Muhaqqiqin hingga tamat.

Abuya Tanah Merah, Syeikh H Bahauddin Tawar dengan Ummi Hajah Siti Khadizah
Abuya Tanah Merah, Syeikh H Bahauddin Tawar dengan Ummi Hajah Siti Khadizah (FOR SERAMBINEWS.COM)

Membangun pesantren
Semangat Abuya untuk membangun lembaga pendidikan Islam sebenarnya sudah tumbuh ketika ia masih belajar di Pesantren Darussalam Labuhan Haji.

Abuya menyaksikan sendiri dan belajar langsung dari Syaikh Tgk Muda Waly bagaimana cara membina pondok pesantren. Karena itu, pada 1953 ia pun membangun madrasah kecil di Kuta Niur, masih di kawasan Seping.

Madrasah itu kemudian dipercayakan kepada Tgk Abdul Mujib Rahmatullah ‘alaih, seorang alim tamatan Pakistan asal Sumatera Barat yang beliau kenal ketika masih di Darussalam.

Sedangkan Abuya masih terus mondok di Pesantren Darussalam untuk menyelesaikan pendidikannya. Namun ternyata madrasah tersebut hanya berumur tiga tahun disebabkan lokasinya diterjang banjir.

Setelah berhasil menyelesaikan pendidikannya, cepat-cepat beliau kembali ke kampong halamannya di Seping untuk menghidupkan kembali madrasah yang sudah dirintisnya di Kuta Niur itu.

Lebih kurang lima tahun Abuya berjibaku menghidupkan madrasah tersebut, ternyata sulit berkembang. Selain masyarakat kurang mendukung lokasinya pun sering dilanda banjir.

Melihat kenyataan tersebut, Abuya disertai beberapa orang yang setia di antaranya Tuan Nyak Bambel memindahkan madrasah tersebut ke tempat yang lebih aman.

Mereka sepakat pindah ke hulu dari Kampung Seping yan waktu itu belum ada penghuninya. Di lokasi baru yang diberi nama Tanah Merah itu, mereka membangun lembaga pendidikan Islam bernama Darul Muta’allimin.

Ikuti kami di
KOMENTAR
239 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved