Sejarah

Tembikar Amsterdam hingga Piring Anti Basi, Sisa Peradaban Singkil Lama Kota yang Hilang

Kota pelabuhan Singkil Lama terletak di sebelah barat Singkil, ibukota Kabupaten Aceh Singkil dekat permukiman penduduk Kayu Menang, Kuala Baru

Penulis: Dede Rosadi
Editor: Khalidin
SERAMBINEWS.COM/DEDE ROSADI
Piring anti basi yang ditemukan Admi penduduk Ujung, Singkil, Aceh Singkil, di reruntuhan bangunan Singkil Lama.
SERAMBINEWS.COM/DEDE ROSADI
Tembikar bertuliskan Amsterdam, yang ditemukan Admi penduduk Ujung, Singkil, Aceh Singkil, di reruntuhan bangunan Singkil Lama.
SERAMBINEWS.COM/DEDE ROSADI
Guci yang dikoleksi Admi penduduk Ujung, Kecamatan Singkil, Aceh Singkil. Barang itu ditemukan di reruntuhan bangunan Singkil Lama
SERAMBINEWS.COM/DEDE ROSADI
Al Quran mini yang ditemukan Admi penduduk Ujung, Singkil, Aceh Singkil, di reruntuhan bangunan Singkil Lama.

SERAMBIWIKI.COM - Rumah-rumah megah telah berdiri di kota pelabuhan Singkil Lama.

Rumah mewah itu milik pedagang Cina, Belanda, India dan pengusaha Timur Tengah.

Kota pelabuhan Singkil Lama terletak di sebelah barat Singkil, ibu kota Kabupaten Aceh Singkil, atau dekat pemukiman penduduk Kayu Menang, Kecamatan Kuala Baru.

Sayangnya sekitar tahun 1890-an gelombang besar atau semacam tsunami hancurkan Kota Pelabuhan Singkil. Bencana alam itu mengubur peradaban Kota Pelabuhan Singkil Lama, berganti Singkil Baru (New Singkil) saat ini.

Pada masanya Singkil Lama merupakan kota pelabuhan maju. Sehingga menarik saudagar Asia dan bangsa Eropa menetap di sana.

Bukti majunya peradaban masa lalu Singkil, itu terlihat dari benda-benda berharga yang ditemukan di sisa reruntuhan Kota Singkil Lama.

Kemudian sisa bangunan rumah yang telah terkubur tanah dan masuk ke laut sudah menggunakan bata merah. Pertanda pemiliknya merupakan penduduk kaya raya pada masanya.

Baca juga: Begini Cerita Asal Usul Penamaan Singkil

Baca juga: Melihat Pengolahan Pucuk Nipah dari Sarang Buaya Singkil Lama

Baca juga: Lompong Sagu, Makanan Khas Kabupaten Aceh Singkil

Benda berharga yang ditemukan dan menjadi koleksi warga dari Singkil Lama, antaralain tembikar bertuliskan Amsterdam, Al Quran berukuran mini, piring anti basi, guci, pot bunga serta botol buatan Eropa.

Warga yang koleksi benda sisa kejayaan Singkil Lama itu, antaralain Admi penduduk Desa Ujung, Kecamatan Singkil.

Al Quran mini, Admi temukan sekitar empat tahun sebelum gemapa tsunami Aceh di sekitar muara Singkil Lama, yang diyakini lokasi kota pelabuhan Singkil Lama abad ke-18.

Ukuran Al Quran sekitar dua centi, menggunakan sampul tinta emas. Tulisan dalam Al Quran, masih sangat jelas terlihat. "Saya temukan dalam guci tembaga terbungkus kain warna merah sekitar 20 tahun lalu," kata Admi saat ditemui tahun 2020 lalu.

Admi mengaku tak sengaja menemukan benda antik itu. Ia hanya mencongkel tanah ketika melihat ada guci tersembul dari permukaan tanah. Ternyata di dalamnya ada Al Qur'an mini.

Termotivasi dengan temuan Al Quran mini, Admi kembali menelusuri jejak Kota Singkil Lama, yang hilang ditelan gelomba dahsyat. Penulusaran itu dilakukan masih sebelum gempa tsunami Aceh 2004.

Baca juga: Kuburan Tua di Ukhuk Datakh Petunjuk Tempat Lahir Syekh Abdurrauf di Aceh Singkil

Baca juga: Pesona Wisata Ujung Batu di Pulau Banyak Aceh Singkil, Kolam Surga dan Kisah Legenda Perahu Pecah

Dalam petualangannya ia menemukan tembikar bertuliskan Amsterdam, guci, botol, pot bungan dan piring anti basi. "Piring anti basi setelah saya coba taruh nasi sampai dua hari tak mau basi," jelasnya.

Benda-benda temuan dari Kota Singkil Lama, itu menjadi koleksi pribadi Admi.

Penduduk Desa Ujung, itu dengan senang hati memperlihatkan benda-benda antik koleksinya kepada tamu yang berkunjung.

Admi, juga menyimpan pecahan barang-barang terbuat dari tembikar yang ditemukan di Singkil Lama.

Barang-barang koleksi Admi yang disimpan di rumahnya, identik dengan pecahan keramik yang ditemukan Serambinews.com ketika berpetualang ke Singkil Lama.

Tanda Singkil Lama merupakan Kota Pelabuhan maju, selain dari benda antik yang dimiliki penduduknya juga terlihat dari bahan mendirikan bangunan, menggunakan bata merah yang telah berstempel.

Sayang situs sejarah peradaban Singkil Lama, lokasinya tak terurus. Benda-benda semisal pecahan keramik masih dibiarkan berserakan.

Benda berharga di Singkil Lama, pun sebagian terus diburu. Sehingga saat ini sudah sangat sulit menemukan sisa peninggalan kejayaan Singkil tempoe dulu.

Berdasarkan literatur Singkil, sudah beberapa kali pindah akibat luluh lantak dihantam gempa dan gelombang tsunami, hingga ke lokasi sekarang yang dikenal dengan sebutan Singkil Baru (New Singkil).

Di peta-peta (map) lama keluaran Portugis atau Belanda, wilayah Singkil yang kini menjadi ibu kota Kabupaten Aceh Singkil sudah dipakai nama New Singkel. Versi Indonesianya, itulah Singkil Baru.

Alkisah, wilayah Singkil sendiri awalnya di sekitar Gelombang sekarang. Ada juga yang menyebutnya dekat muara Berok.

Singkil Lama berdiri sekitar abad ke-7. Pada masa keemasannya Singkil Lama, menjadi kota pelabuhan tempat singgah kapal saudagar dari Timur Tengah, Eropa dan wilayah nusantara.

Setelah terjadi peristiwa geloro (semacam tsunami) sekitar pertengahan abad ke-18 berpindah ke Singkil Lama, terletak di sebelah barat Singkil, ibu kota Kabupaten Aceh Singkil.

Lokasi itu kini berada di dekat mulut muara Singkil Lama, juga dekat dengan Desa Kayu Menang, Kecamatan Kuala Baru.

Pasaca hantaman gelombang kejayaan Singkil kembali didirikan. Namun jelang akhir abad ke-18 lagi-lagi geloro menghancurkan kota.

Akhirnya, penduduk yang tersisa pindah ke Desa Ujung, terus menyebar ke desa lain. Itulah yang kemudian menjadi landscape (bentang alam) Singkil, masa kini. (dede rosadi)

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved