sejarah

Putroe Tsani, Permaisuri Pertama Sultan Iskandar Muda yang Dimakamkan di Pedalaman Pidie

Kompleks makam Putroe Tsani ini berada sekitar 1 kilometer dari jalan Reubee–Padang Tiji, atau berjarak sekitar 8 kilometer arah barat Kota Sigli.

Penulis: Zainal M Noor
Editor: Khalidin
SERAMBIWIKI/ZAINAL M NOOR
Kompleks makam Putroe Tsani Putroe Tsani di Gampong Reuntoh, Kemukiman Reubee, Kecamatan Delima, Kabupaten Pidie. Foto direkam Ahad (28/3/2021). 

SERAMBIWIKI.COM – Putroe Tsani adalah permaisuri dari sultan termegah pada era Kerajaan Aceh Darussalam, Sultan Iskandar Muda yang bergelar Meukuta Alam atau Mahkota Alam.

Putroe Tsani merupakan ibunda dari Sultanah Safiatuddin yang berkuasa pada tahun 1641 – 1675.

Tidak seperti permaisuri raja lainnya yang dimakamkan di kompleks Kerajaan, Putroe Tsani dimakamkan di pedalaman Kabupaten Pidie, tepatnya di Desa Reuntoh, Kemukiman Reubee, Kecamatan Delima.

Kompleks makam Putroe Tsani ini berada sekitar 1 kilometer dari jalan Reubee – Padang Tiji, atau berjarak sekitar 8 kilometer arah barat Kota Sigli, ibukota Kabupaten Pidie.

Lokasi ini hanya bisa dijangkau dengan kendaraan pribadi atau carteran. Saat kami datang pada Minggu (28/3/2021), areal makam yang berada di pinggiran desa ini sunyi sepi.

Hanya ada satu makam di bawah bangunan beton tak bercat itu. Beberapa bagian dari makam juga telah rusak, seperti nisan yang hanya tinggal bagian kaki, dan penutup bagian atas makam yang patah, tapi telah disambung dengan semen biasa.

Dua pamplet yang terpancang di areal makam juga tidak memberi informasi banyak. Pada salah satu pamplet dengan kop "Balai Pelestarian Cagar Budaya Aceh" hanya ada tulisan "Situs Cagar Budaya, Makam Putroe Tsani".

Baca juga: Sejarah Tarian Mop-Mop, Berawal di Pidie Tahun 1950-an, Berkembang Hingga Aceh Utara dan Aceh Besar

Baca juga: Teungku Chik Di Tiro, Pahlawan Asal Pidie Dimakamkan di Meureu Aceh Besar

Satu pamplet lagi berisi kutipan undang-undang tentang amaran agar menjaga dan memilihara situs cagar budaya.

Sama sekali tidak ada penjelasan, siapa Putroe Tsani yang dimakamkan di lokasi itu. Sejarawan Aceh Dr Husaini Ibrahim MA mengungkapkan rasa prihatinnya melihat kondisi makam.

Menurutnya, kondisi ini sama sekali tidak mencerminkan bahwa itu adalah makam permaisuri dari sultan termegah dalam sejarah Kerajaan Aceh Darussalam.

Husaini berharap Pemerintah Aceh, Pemkab Pidie, dan para pihak lainnya, melakukan sesuatu agar kompleks ini menjadi sarana edukasi bagi generasi Aceh masa kini dan masa depan.

“Kompleks ini harusnya dilengkapi dengan beberapa benda dan literasi yang menceritakan tentang peran Putroe Tsani dan ayahnya Tgk Chik Direubee, serta masyarakat Reubee pada masa Kerajaan Aceh,” ujar Husaini Ibrahim.

Bila perlu, kata Husaini, dibangun sebuah museum mini yang menyimpan beberapa rujukan terkait Putroe Tsani.
“Setelah dilengkapi fasilitasi, maka perlu dilakukan upaya agar ada kunjungan-kunjungan mahasiswa dan siswa ke situs ini, agar mereka kenal sejarah Aceh yang gemilang,” ujarnya.

“Sehingga generasi Aceh tidak kehilangan identitas,” lanjut penulis buku “Awal Masuknya Islam ke Aceh, Analisis Arkeologi dan Sumbangannya pada Nusantara” ini.

Tonton video kondisi makam Putroe Tsani dan pendapat Dr Husaini Ibrahim MA di bawah ini.

Baca juga: Roni Ahmad Alias Abusyik, Bupati Pidie yang Pernah Menjabat Panglima Muda GAM

Baca juga: Duh, Bukti Sejarah Itu Dirusak untuk Batu Asah, Fakta Miris di Kompleks Makam Putroe Balee di Pidie

Reubee Daerah Istimewa pada Kerajaan Aceh
Dr Husaini Ibrahim MA yang juga Kepala Laboratorium Pendidikan Sejarah FKIP Unsyiah, memberikan penjelasan tentang kenapa Putroe Tsani dimakamkan di Reubee yang berada Pedalaman Pidie, bukannya di pusat Kerajaan Aceh di Banda Aceh.

Dr Husaini berpendapat, di antara argumen kenapa Putroe Tsani dimakamkan di Reubee, Kabupaten Pidie, adalah karena itu adalah kampung halaman ayahnya, Maharaja Lela Daeng Mansur yang lebih dikenal dengan nama Tgk Chik Direubee, salah satu ulama berpengaruh pada masa Kesultanan Aceh.

Alasan lainnya, Reubee pada masa lalu adalah salah satu daerah istimewa pada masa Kesultanan Aceh Darussalam.

Di Reubee inilah, Iskandar Muda menghabiskan masa remajanya untuk menimba ilmu pengetahuan dan agama pada Tgk Chik Direubee.

Maka tidak mengherankan jika di Reubee terdapat beberapa nama kawasan yang mirip dengan kawasan di Kutaraja yang menjadi pusat Kerajaan Aceh Darussalam.

Ikuti kami di
KOMENTAR
230 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved