Sejarah

Ada Mantara Kopi di Gayo, Orang Gayo Klasik Menyebut Kopi dengan "Sengkewe"

Tanaman kopi sudah tumbuh di Gayo, sebagai tanaman liar, jauh sebelum Belanda masuk ke Gayo pada 1904.

Penulis: Fikar W Eda
Editor: Khalidin
zoom-inlihat foto Ada Mantara Kopi di Gayo, Orang Gayo Klasik Menyebut Kopi dengan
FOR SERAMBINEWS.COM
Kopi atau Sengkewe dirawat dengan penuh cinta

Publikasi yang lain menyebutkan, kopi Gayo, Aceh berasal dari Belanda yang dibawa oleh seorang pengusaha Belanda pada abad XVII melalui Batavia (sekarang Jakarta) lalu masuk ke Aceh.

Kopi yang pertama sekali diperkenalkan adalah kopi jenis Arabica yang kemudian berkembang dengan jenis yang makin beragam. (Diunduh pada 26 januari 2014 dari //www.kopiaceh.com/asal-usul-kopi-aceh/).

Dengan sendirinya, keterangan yang beredar di publikasi-publikasi mengenai sejarah kopi di Gayo terbantahkan.

Bahwa tidaklah benar, tanaman kopi dibawa oleh Belanda ke Gayo, karena Belanda sendiri menjejakkan kaki di Gayo pada 1903-1904. Sementara masyarakat Gayo sudah mengenal kopi yang mereka sebut dengan istilah “sengkewe” atau “kewe” sebagai tanaman liar.

Dataran Tinggi Gayo melingkupi Aceh Tengah dan Bener Meriah, merupakan penghasil kopi jenis arabika utama di Indonesia. Luas areal 106 ribu hektar dengan produksi rerata 750 Kg per hektar. Kopi adalah kekuatan ekonomi utama masyarakat Gayo, sekaligus menjadi kekuatan budaya.

Di Aceh Tengah setidaknya terdapat 33 ribu lebih kepala keluarga (KK) yang menggantungkan hidup dari kebun kopi dan di Bener Meriah terdapat 29 ribu lebih kepala keluarga.

Kopi arabika juga dibudidayakan oleh masyarakat Kabupaten Gayo Lues. Tapi arealnya terbatas sekitar 7.800 hektar dengan jumlah petani 3.900 kepala keluarga. (fikar w eda)

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved