Sejarah

Ada Mantara Kopi di Gayo, Orang Gayo Klasik Menyebut Kopi dengan "Sengkewe"

Tanaman kopi sudah tumbuh di Gayo, sebagai tanaman liar, jauh sebelum Belanda masuk ke Gayo pada 1904.

Penulis: Fikar W Eda
Editor: Khalidin
zoom-inlihat foto Ada Mantara Kopi di Gayo, Orang Gayo Klasik Menyebut Kopi dengan
FOR SERAMBINEWS.COM
Kopi atau Sengkewe dirawat dengan penuh cinta

SERAMBIWIKI.COM - Suku Gayo yang mendiami Kabupaten Aceh Tengah dan Kabupaten Bener Meriah, Provinsi Aceh menyebut kopi dengan istilah "sengkewe" atau "kewe."

Tanaman kopi sudah tumbuh di Gayo, sebagai tanaman liar, jauh sebelum Belanda masuk ke Gayo pada 1904.

Istilah "sengkewe" atau "kewe" terdapat dalam “mantra kopi” atau "doani kupi," yang diucapkan petani kopi saat menanam kopi, sebagai berikut:

Sengkewe
Kunikahen ko orom kuyu
Wih kin walimu
Tanoh kin saksimu
Mantanlo kin saksi kalammu"

(Sengkewe
Kunikahkan dikau dengan angin
Air walimu
Tanah saksimu
Matahari saksi kalam mu)
(terjemahan Fikar W.eda)

Teks ini merupakan proses penyerbukan kopi yang dilakukan melalui perantaraan angin, media tanah, ketersediaan air, dan disempurnakan dengan proses fotosintesis.

Diformulasikan sangat indah dalam bentuk tradisi lisan “doani kupi” atau “mantra sengkewe.”

Baca juga: Gua Loyang Sekam, Tempat Sembunyi Sultan Aceh Saat di Tanah Gayo

Baca juga: Mengenal Sejarah Gayo, Salah Satu Etnis Tertua di Nusantara

Teks lain dalam bentuk “peri mestike” atau “peri bahasa” berbunyi: "muriti-riti lagu kupi, murentang-rentang lagu gantang," (bersusun rapi seperti batang kopi, berbanjar seperti baris kentang).

Ada lagi ungkapan lain berbunyi "kulni buet gere be kupi” (begini besar kerja kok tanpa kopi). Ungkapan ini kedengarannya sebuah canda dan sindiran halus kepada tuan rumah untuk segera menyediakan kudapan dan tentu minuman kopi dalam satu pekerjaan besar yang dilakukan bersama-sama.

Begitulah cara masyarakat Gayo menghayati kopi sebagai bagian dari kehidupannya. "Doani kupi" dan ungkapan "pepatah kopi" memperlihatkan bahwa kopi bukan sekedar minuman, melainkan ekspresi kebudayaan yang dihayati sangat intens. Bagi orang Gayo kopi telah menjadi nafas kehidupannya.

Dalam tradisi Gayo, kopi juga suguhan kemuliaan. Tuan rumah akan langsung menghidangkan minuman kopi kepada para tamunya, sebagai penghormatan. Tidak terlalu penting apakah si tamu suka kopi atau tidak suka kopi.

Istilah “kawe” atau “sengkewe” ini juga dikutip oleh C. Snouck Hurgronje, penulis Belanda dalam “Het Gajoland en Zijne Bewoners” terbit pertama kali di Batavia pada 1903, diterbitkan ulang dan diterjemahkan dalam bahasa Indonesia

menjadi “Gayo Masyarakat dan Kebudayaannya Awal Abad ke-20” oleh Hatta Hasan Aman Asnah, PN Balai Pustaka, 1996. Snouck menyinggung soal kopi pada halaman 254, merasa heran karena di tanah Gayo dijumpai batang kopi.

“Darimana asalnya, seorangpun tidak ada yang tahu. Sepanjang ingatan, tidak seorangpun mengaku pernah menanam kopi, dan menganggap bahwa tanaman ini tanaman liar,” tulis C. Snouck Hurgronje.

Masih menurut C. Snouck, masa itu orang mengambil batang atau cabang tanaman kopi untuk pagar (peger) kebun. Buah kopi yang masak dibiarkan saja dimakan burung, kemudian burung itulah yang menyebarkan kopi.

“Orang Gayo sendiri tidak tahu bahwa kopi itu bisa diolah menjadi minuman segar. Yang mereka tahu hanya memanggang daunnya yang kemudian dijadikan teh,” kata C. Snouck Hurgronje lagi.

Ini artinya, bahwa kopi telah tumbuh di dataran tinggi Gayo sebelum Belanda menjejakkan kaki kawasan itu pada 1904. Dengan demikian terbantahkan anggapan selama ini, seolah-olah kopi dibawa oleh Belanda ke Gayo.

Sebelumnya di banyak publikasi tentang kopi, selalu disebutkan bahwa kopi pertama kali masuk ke Hindia Belanda atau Indonesia tahun 1696 melalui Batavia (sekarang Jakarta), dibawa oleh Komandan Pasukan Belanda

Adrian Van Ommen dari Malabar – India. Ditanam dan dikembangkan di tempat yang sekarang dikenal dengan Pondok Kopi -Jakarta Timur, dengan menggunakan tanah partikelir Kedaung.

Sayangnya tanaman ini kemudian mati semua oleh banjir, maka tahun 1699 didatangkan lagi bibit-bibit baru, yang kemudian berkembang di sekitar Jakarta dan Jawa Barat antara lain di Priangan.

Dan akhirnya menyebar ke berbagai bagian di kepulauan Indonesia seperti Sumatera, Bali, Sulawesi dan Timor. (Diunduh 26 Januari 2014 dari //www.aeki-aice.org/page/sejarah/id).

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved