Biodata Tokoh

Dailami, Mantan Gubernur GAM Linge yang Kini Jadi Wakil Bupati Bener Meriah, Pernah Ditembak TNI

“Dalam hati saya ini istri sudah kenak tembak. Saya juga merasakan bahu sebelah kiri terasa sakit, rupanya saya juga sudah kena tembak,” ungkap Dailam

Penulis: Budi Fatria
Editor: Zainal M Noor
SERAMBIWIKI.COM/BUDI FATRIA
Dailami, Wakil Bupati Bener Meriah sisa masa jabatan 2017-2022. 

Laporan Budi Fatria | Bener Meriah

SERAMBIWIKI.COM, REDELONG - Meraih kesuksesan tidak semudah membalikkan telapak tangan.

Kesuksesan, perlu diraih dengan usaha, kerja keras, dan ketekunan.

Bahkan tak jarang ada yang harus bertaruh nyawa demi mencapai apa yang diperjuangkan.

Seperti kisah Dailami mantan Gubernur GAM wilayah Linge yang kini menjadi Wakil Bupati Bener Meriah sisa masa jabatan 2017-2022.

Ketika Aceh berkecamuk dan diberlakukan darurat militer (DOM) tahun 2003, Dailami bersama istrinya pernah mengalami peristiwa kontak tembak dengan pasukan TNI.

Peristiwa yang nyaris merenggut nyawa dia, istri, dan anaknya itu, terjadi semasa dirinya masih bergabung dalam Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

Tiga pasukan pengikutnya meninggal dunia saat peristiwa itu.

Sementara Dailami, meskipun timah panas menembus bahu sebelah kirinya, ia bersama istri Suryati dan anak laki-lakinya, Sholihin Candra yang saat itu berusia enam tahun, masih mendapat kesempatan menjalani kehidupan.

Kini, kisah mengerikan menjadi bagian dari sejarah hidup Dailami dan keluarganya.

Ditemui Serambiwiki.com setelah dilantik sebagai Wakil Bupati Bener Meriah, Jumat (12/3/2021), Dailami mengisahkan kenangan itu.

Dailami menuturkan, peristiwa yang nyaris merenggut nyawanya itu terjadi ketika pasukanya berpisah dengan pasukan GAM Batee Iliek yang dipimpin Darwis Jeunieb.

Dailami yang disapa Teungku Aci bersama enam pasukannya meninggalkan Jeunieb, Kabupaten Bireuen.

Mereka berjalan kaki menyeberang ke Bener Meriah.

Saat tiba di Desa Salah Sirong, Kabupaten Bireuen, Dailami bersama istri, anak, dan pasukannya naik ke arah Gunung Goh.

Mereka tidak mengetahui jika di kawasan Gunung Goh itu sudah ada pasukan TNI yang sedang mengintai pasukan GAM.

“Pagi itu sekira pukul 08.00 WIB, saya menyuruh seorang pasukan turun ke sungai mengambil air untuk dimasak,” cerita Dailami kepada wartawan pada acara penobatan dirinya sebagai pemangku adat Gayo dalam acara Munek Ni Wakil Reje di Pendopo Wakil Bupati Bener Meriah, Jumat (12/3/2021).

Kemudian kata Dailami, tiba-tiba ia melihat anak buahnya yang bertugas mengambil air berlari ke arah dirinya.

Pemuda itu itu melaporkan ada sekumpulan orang tak dikenal di sungai.

“Coba kalian cek siapa mereka,” perintah Dailami kepada anak buahnya.

Ternyata setelah dipastikan, orang yang dicurigai itu memang benar pasukan TNI.

Pada waktu bersamaan, aparat TNI juga melakukan pengecekan dan melihat anak buah Dailami.

“Pasukan saya yang dari sungai itu berlari sambil teriak ‘Ama…! (sebutan pasukan GAM Linge kepada Dailami-red), ada TNI,” kenang Dailami.

“Kemudian terdengar suara rentetan senjata api,” beber Dailami.

Baca juga: Jejak Jokowi di Aceh, Hingga Bupati Bener Meriah Abuya Sarkawi Usulkan Pembangunan Museum

Baca juga: Profil Meurah Budiman, Kakanwil Kemenkumham Aceh yang Baru, Putra Aceh Kelahiran Nagan Raya

Dalam kekalutan, Dailami menyuruh istrinya tiarap.

“Dalam keadaan tiarap, istri saya tiba-tiba bangun, mungkin ia lelah ingin merubah posisi tiarap, saya bilang ke istri jangan bangun,” ungkapnya.

Ketika istrinya dalam posisi tertidur, Dailami merasakan ada darah yang mengalir.

“Dalam hati saya ini istri sudah kenak tembak. Saya juga merasakan bahu sebelah kiri terasa sakit, rupanya saya juga sudah kena tembak,” ungkap Dailami.

Dalam keadaan genting itu, anak Dailami yang berusia 6 tahun menangis dan memelask kepada aparat.

“Om! jangan tembak Ayah saya,” ungkap si anak seperti dituturkan kembali oleh Dailami.

“Mungkin petunjuk dari Allah SWT, dalam sekejap suara senjata terdiam. Sambil merapat ke arah saya, pasukan TNI berujar jangan bergerak,” papar Dailami.

“Kalau saya bergerak, akan ditembak,” lanjutnya.

Dalam posisi terluka tembak, Dailami dan istrinya dievakuasi oleh pasukan TNI ke Rumah Sakit Kesrem Lhokseumawe untuk menjalani perawatan.

Dailami terkena tembakan di bagian dada sebelah kiri tembus ke bahu.

Sementara sang isteri, Suryati, mengalami luka tembak di bagian perut.

Anak Dailami yang bernama Salehen Candra, kini sudah menjadi seorang sarjana Teknik Universitas Darma Agung Medan.

Tiga orang pasukan Dailami meninggal dunia saat terjadi kontak tembak dengan pasukan TNI.

Baca juga: Mengenal Sejarah Gayo, Salah Satu Etnis Tertua di Nusantara

Baca juga: Gua Loyang Sekam, Tempat Sembunyi Sultan Aceh Saat di Tanah Gayo

10 Tahun Jadi Tukang Becak

Gempa dan tsunami yang melanda Aceh 26 Desember 2004, menjadi titik balik bagi kisah konflik Aceh yang berdarah-darah.

Setelah damai, Dailami hijrah ke Sumatera Utara.

Ia memulai kehidupan baru dengan bekerja menarik becak mesin.

Awalnya, Dailami menyewa becak orang dengan tarif Rp 25.000 per hari.

Seiring berjalan waktu, ia sanggup membeli becak dengan cara mencicil setiap harinya, hingga dirinya memiliki sebanyak 25 unit becak mesin.

Selanjutnya, Dailami memperkerjakan orang lain untuk menarik becak mesin miliknya. “Selama 10 tahun saya bekerja menarik becak mesin di Simalingkar, Sumatera Utara,” ujarnya.

Baca juga: Tiga Presiden Sudah Kunjungi Dataran Tinggi Gayo, Pak Harto, SBY, Jokowi

Mengenal Partai Politik

Setelah 10 tahun bekerja menarik becak di Sumatera Utara, Dailami kembali ke kampung halamanya di Kabupaten Bener Meriah.

Di kampung halaman, ia mulai dengan pekerjaan baru yaitu menjadi petani hingga menjadi kontraktor.

Setelah berkecimpung dalam dunia kontraktor, Dailami kemudian mengenal partai politik.

Awalnya, ia bergabung dengan Partai Aceh (PA) dimana partai tersebut merupakan partai perpanjang tangan perjuangan GAM.

Kemudian, baru menjadi kader Partai Golkar semasa Ahmadi menjabat Bupati Bener Meriah.

Hingga sekarang ini, Dailami masih tercatat sebagai kader partai berlambang pohon beringin tersebut.

Baca juga: Masjid Baitul Quddus, Sumbangan Pembaca Harian Serambi Indonesia di Tepi Danau Laut Tawar

Loper Koran Serambi di Banda Aceh

Jauh sebelum bergabung dengan GAM, Dailami pernah menjadi loper surat kabar, termasuk Harian Serambi Indonesia.

Pekerjaan ini dijalaninya ketika masih duduk dibangku Sekolah Teknik Menengah (STM) di Banda Aceh tahun 1992.

“Sewaktu saya sekolah STM dulu, pernah menjadi loper koran, saya setiap paginya mengantar koran Harian Serambi Indonesia menggunakan sepeda dayung untuk para pelanggan,” kata Dailami.

Dailami mengingat betul harga koran Harian Serambi Indonesia masa itu Rp 250 rupiah per eksemplar.

Ia bercerita kala itu Harian Serambi Indonesia dicetak di Percetakan Negara, dekat Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh.

Dailami tumbuh dan besar dari keluarga yang sederhana, sewaktu kecil ia sudah rajin bekerja untuk menutupi biaya hidup dan sekolahnya di Banda Aceh.(*)

Biotada singkat:

Nama: Dailami

Tempat Tanggal Lahir: Kenawat, 5 Februari 1974

Istri: Suryati

Anak: 5 orang

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved