Profil

Profil Meurah Budiman, Kakanwil Kemenkumham Aceh yang Baru, Putra Aceh Kelahiran Nagan Raya

Meurah Budiman kini resmi menjabat Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM (Kakanwil Kemenkumham) Aceh.

Editor: Zainal M Noor
SERAMBINEWS.COM/Handover
Meurah Budiman, Kakanwil Hukum dan HAM Provinsi Aceh. 

Laporan Yarmen Dinamika | Banda Aceh

SERAMBIWIKI.COM, BANDA ACEH – Drs Meurah Budiman SH MH kini resmi menjabat Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM (Kakanwil Kemenkumham) Aceh.

Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Menkumham) Republik Indonesia, Prof Dr Yasonna H Laoly SH MSc melantiknya pada jabatan tersebut, Rabu (10/3/2021) siang.

Meurah Budiman yang putra Aceh itu dilantik menggantikan Heny Yuwono MSi yang kini mendapat jabatan baru sebagai Sekretaris Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan HAM.

Pelantikan yang dilanjutkan dengan serah terima jabatan itu dilaksanakan di Aula Umar Senoaji Ditjen KI lantai 18 Gedung Eks Centra Mulia Jakarta Selatan (Jaksel).

Siapa Meurah Budiman?

Pria yang sangat tekun menuntut ilmu ini lahir di Nagan Raya, Aceh, 4 Maret 1968.

Saat itu Nagan masih menjadi bagian dari Kabupaten Aceh Barat, belum mengalami pemekaran.

SD hingga SMA dia tamatkan di Meulaboh, ibu kota Kabupaten Aceh Barat.

Kemudian Meurah diterima sebagai mahasiswa di Program Studi PMP/Kn pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Syiah Kuala (FKIP USK).

Ia lulus tahun 1991.

Karena sudah bekerja di Kanwil Kemenkumham Aceh, Meurah pun ingin memperdalam ilmu hukumnya.

Lalu ia kuliah S1 Jurusan Hukum Pidana pada Universitas Muhammadiyah Banda Aceh dan lulus tahun 2005.

Merasa tak puas dengan dua gelar, ia lanjutkan studi S2 Magister Hukum Pidana di Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) dan lulus tahun 2008.

Sekarang pun Meurah sedang kuliah program doktoral (S3) di Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang.

"Alhamdulillah, sekarang saya sedang melanjutkan pendidikan Program Doktor di Unissula Semarang di sela-sela tugas sebagai Kepala Divisi Pemasyarakatan Kanwil Kemenkumham Jawa Tengah," kata Meurah Budiman kepada Serambiwiki.com, Kamis (11/3/2021) pagi.

Baca juga: Tgk Syiah Kuala, Mufti Kerajaan Aceh Pembuat Qanun Meukuta Alam yang Kini Diterapkan Kerajaan Brunei

Baca juga: Banyak yang Menyangka Ini Tugu Cina, Ternyata Ada Sejarah Heroik di Balik Monumen di Pasar Keumire

Disertasi Tentang Narkoba

Ia juga sudah mengonfirmasikan rencana disertasinya, yakni tentang narkoba.

Khususnya tentang kejahatan bisnis narkoba yang dalam beberapa kasus justru dikendalikan narapidana dari dalam penjara.

Meurah adalah sosok yang sudah kenyang makan asam garam memimpin lembaga pemasyarakatan (LP) dan mengamati sepak terjang para napi, tak terkecuali napi narkoba.

Mulai dari pemakai, kurir, pengedar, bandar, hingga gembong narkoba kelas kakap.

Beberapa di antaranya malah menjadi residivis kembali tak lama setelah bebas dari LP.

Ini yang menginspirasi Meurah untuk diteliti sebagai bahan disertasinya.

Ia awali karier sebagai Kepala Seksi Rumah Tahan Negara dan Rumah Penyimpanan Barang Sitaan Negara (Rupbasan) pada Kanwil Kemenkumham Aceh sejak tahun 1994 hingga 2000.

Meurah kemudian ditugaskan menjadi Kepala LP Meulaboh, Aceh Barat, pada 2000-2005.

Kemudian, dipindah menjadi Kepala LP Langsa.

Dua tahun di sini (2005-2007), Meurah dipindah lagi menjadi Kepala LP Lhokseumawe (2007-2010).

Kaya pengalaman memimpin LP di Aceh, Meurah mulai dipindah sebagai Kepala LP Tanjung Pinang di Kepulauan Riau (2010-2011).

Dari Riau dia dimutasi ke Medan sebagai Kepala Bidang Pembinaan Kanwil Kemenkumham Sumatera Utara (2012-2014).

Meurah dikembalikan ke Aceh dengan jabatan yang sama pada tahun 2014.

Jabatan Kabid Pembinaan Kanwil Kemenkumham Aceh ini dia emban hingga 2017.

Dari Aceh, Meurah dipindah jauh, nun ke Gorontalo.

Di sana ia menjabat Kepala Divisi Pemasyarakatan Kanwil Kemenkumham Gorontalo (2017-2018).

Hanya setahun lebih di Gorontalo, Meurah dikembalikan ke Aceh sebagai Kepala Divisi Pemasyarakatan Kanwil Kemenkumham Aceh (2018-2020).

Dari Aceh, suami dari Zuraidah ini dipindah sebagai Kepala Divisi Pemasyarakatan Kanwil Kemenkumham Jawa Tengah (2020 hingga 9 Maret 2021).

Baca juga: Fakta Unik Desa Alurjambu di Aceh Tamiang, Ditinggal Pergi Warga karena Dihantui Mahluk Astral

Baca juga: Berbekal Ilmu Agama dan Modal Rp 400 Ribu, Putra Aceh Ini Kini Jadi Juragan di Pedalaman Sumsel

Putranya Kini Jadi Pilot

Terhitung 10 Maret 2021, Meurah dilantik jadi Kakanwil Kemenkumham Aceh.

Ia 'woe bak sot' (kembali ke asal), tapi dalam jabatan orang nomor satu di kanwil tersebut.

Meurah yang sangat sering pindah tugas adalah keluarga yang menerapkan program KB.

Baginya, dua anak lebih baik, sehingga tersedia cukup waktu, perhatian, dan sumber dana yang memadai untuk membesarkan dan menyekolahkan anaknya hingga ke perguruan tinggi.

Anak sulungnya bernama Teuku Rabiul Mauliadi, sedangkan si bungsu bernama Cut Dini Mandasari.

Putri semata wayangnya ini berprofesi sebagai aparatur sipil negara (ASN), sedangkan si sulung berprofesi pilot.

"Dia pilot di Lion Air. Pendidikan pilotnya lulus tahun 2017 di Akademi Penerbangan Lion," ungkap Meurah.

Putra sulung Meurah ini tinggi jangkung, 177 cm.

Jauh melampaui tinggi ayahnya.

Teuku Rabiul Mauliadi, pilot Lion Air yang merupakan putra dari Kakanwil Hukum dan HAM Aceh, Meurah Budiman.
Teuku Rabiul Mauliadi, pilot Lion Air yang merupakan putra dari Kakanwil Hukum dan HAM Aceh, Meurah Budiman. (SERAMBINEWS.COM/Handover)

Sang pilot, Teuku Rabiul, menamatkan sekolah menengah di SMA 2 Lhokseumawe tahun 2010 pas saat ayahnya bertugas sebagai kepala LP di sana.

Saat terjadi tsunami tahun 2004, Popon--begitu Teuku Rabiul Mauliadi biasa disapa--masih duduk di kelas 1 SMP 2 Meulaboh.

Karena ayahnya pindah tugas ke Langsa, Popon pun ikut pindah dan lulus SMP di Langsa.

Setamat SMA di Lhokseumawe, Popon  mencoba peruntungan di Pulau Jawa.

Sempat kuliah di Jurusan Teknologi Informatika di Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta.

Namun, menjelang susun skripsi ia coba-coba ikut tes di Lion.

"Alhamdulillah, Popon lulus murni dengan melewati tahap ujian sejak seleksi administrasi, ujian tulis, psikotes, tes kesehatan, hingga tes wawancara," ujar Meurah Budiman.

Kini Popon menetap di Jakarta.

Sesekali bertemu kedua orang tuanya saat sang ayah berdinas ke Jakarta dan kebetulan Popon sedang tidak mengudara.

Apalagi belakangan ayahnya bertugas di Jawa Tengah.

Jarak ke Jakarta terasa dekat saja.

Kini ayah dan anak kembali berjauhan.

Anaknya menetap di Jakarta, ayahnya pindah ke Banda Aceh.

Namun, bagi seorang pilot rasanya tak ada tempat yang jauh.

Apalagi untuk tujuan yang mulia: 'sawue ureueng chik, saleuem takziem keu ayah ngon poma' (menjenguk orang tua dan salam takzim kepada ayah dan bunda). (*)

Ikuti kami di
KOMENTAR
225 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved