Sejarah

Begini Cerita Asal Usul Penamaan Singkil

Singkil berasal dari kata sekel artinya mau. Sekel sendiri merupakan bahasa ibu suku Singkil yang jadi penduduk mayoritas di Kabupaten Aceh Singkil.

Penulis: Dede Rosadi
Editor: Khalidin
SERAMBINEWS.COM/DEDE ROSADI
Rumah Gadang di Desa Ujung, Kecamatan Singkil, Aceh Singkil, yang didirikan tahun 1904 menjadi bukti sejarah lahirnya New Singkil (Singkil Baru), Kamis (1/8/2019) 

SERAMBIWIKI.COM, SINGKIL -  Singkil,  ibu kota Kabupaten Aceh Singkil yang terletak paling selatan  Provinsi Aceh sejak sepuluh tahun terakhir namanya kian harum semerbak oleh pesona wisata lautnya di Pulau Banyak.

Keindahan laut, lingkungan sosial dan budayanya menyimpan banyak cerita, namun hanya sebagian yang tercatat dan terekam dalam sejarah, termasuk asal usul nama Singkil tidak memiliki catatan dokumentasi yang lengkap.

Sepintas, nama ibu kota kabupaten ini memang terdengar biasa walau unik. Namun taukah Anda, apa yang mendasari terciptanya nama ini?

Ibu kota Kabupaten Aceh Singkil, dinamai Singkil, memiliki riwayat tersendiri. Kisah itu berdasarkan cerita turun temurun. Sayangnya belum ada literatur kapan persisnya nama Singkil mulai ditabalkan.

Dalam peta-peta (map) lama Portugis dan Belanda, nama Singkil sudah dipakai dengan sebutan New Singkel, Chinqueele atau Quinchell sekira abad ke-15.

Nama Singkil berdasarkan riwayatnya berasal dari kata sekel artinya mau. Sekel sendiri merupakan bahasa ibu suku Singkil yang jadi penduduk mayoritas di Kabupaten Aceh Singkil.

Baca juga: Kuburan Tua di Ukhuk Datakh Petunjuk Tempat Lahir Syekh Abdurrauf di Aceh Singkil

Baca juga: Lompong Sagu, Makanan Khas Kabupaten Aceh Singkil

Asal usul nama Singkil berasal dari kata sekel pernah menjadi pembahasan dalam diskusi bertajuk Sejarah Peradaban Singkel yang diselenggarkan Himpunan Mahasiswa Singkil-Langsa (Himasila), di Warung Sinanggel, Tanah Bara, Aceh Singkil pada 8 Desember 2020.

Aslym Combih sejarawan dalam diskusi tersebut mengatakan nama Singkil berasal dari kata sekel artinya mau, bersedia, berkenan. Singkil sendiri sudah dikenal sejak abad XV sebagai nama kerajaan.

Mengutip catatan Tom Pieres kata Aslym, terdapat berbagai variasi penulisan untuk Singkil. Ada Chinqueele dan Quinchell. "Sedangkan Petrus Plancius menyebutnya Singkel," ujar Aslym.

Beda lagi dengan penabalan nama belakang Syekh Abdurrauf As Singkily. Singkil ditulis dengan Singkily.

Singkily menunjukan asal usul Syekh Abdurrauf yang merupakan Mufti Agung Kesultanan Aceh Darussalam semasa Sultanah Tajul Alam Syafiatuddin Syah (1641-1675 Masehi).

Sementara Drs H Mu'adz Vohry MM, budayawan Aceh Singkil, menyebutkan kota Singkil dahulu diperkirakan 12 mil dari laut. Persisnya di daerah Gelombang pinggir sungai Lae Suraya yang kini masuk dalam wilayah Kota Subulussalam.

Baca juga: Asilmi, Masjid Warisan Soeharto di Kota Subulussalam, Selalu Ramai Jamaah

Baca juga: Pesona Wisata Ujung Batu di Pulau Banyak Aceh Singkil, Kolam Surga dan Kisah Legenda Perahu Pecah

Baca juga: Sultan Daulat Sambo, Singa Tanoh Singkil yang Gigih Melawan Belanda, Diusul Jadi Pahlawan Nasional

Orang tua terdahulu kata Mu'adz, menyebut bukit gelombang daerah hempasan ombak. Di dekatnya pelabuhan kapal dagang dari luar negeri, maka itu dinamakan gelombang.

"Kuala pada saat itu antara Tanah Tumbuh dan Suak Jampak disitulah Kuala Sungai Singkil, yang kemudian disebut Kuala Kepeng," tukasnya.

Sebelum akhirnya porak poranda akibat penomena alam sehingga pindah ke Singkil Lama dan Singkil saat ini yang jadi ibu kota Kabupaten Aceh Singkil.

Sementara ada juga hikayat unik yang menjadi asal muasal bangsa Eropa menyebut Singkel, Chinqueele atau Quinchell.

Konon sekitar abad ke-15 Masehi, ada seorang pria yang baru menikah berasal dari daerah pinggir sungai Lae Cinendang, menjual getah kayu kapur ke pelabuhan Singkil Lama.

Ketika melihat kapal Eropa datang, si pria segera menawarkan getah kayu kapur dengan mengucapkan sekel (mau)? Bangsa Eropa lantas membelinya.

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun dan seterusnya. Si orang Eropa kembali ke pelabuhan Singkil Lama.

Ia rupanya tertarik dengan getah kayu kapur sang penjual yang ditemuinya tempo hari lantaran memiliki kualitas sangat baik. Bangsa Eropa lantas mencarinya dengan menyebut Sekel, tentu dengan lidah khas bulenya.

Ikuti kami di
KOMENTAR
216 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved