Sejarah

Almunawarah Masjid Pertama Subulussalam

Masjid almunawarah berdiri dengan diprakarsai almarhum, H. Raja Ulasi, Almarhum H.Abdul Muluk, Khuzaini Jakfar dan almarhum H.Baihaqi Kombih

Penulis: Khalidin
Editor: Khalidin
SERAMBINEWS.COM/KHALIDIN UMAR BARAT
MASJID Almunawarah berada di Pusat Kota Subulussalam tepatnya Jalan Syekh Hamzah Fansury, Desa Subulussalam Selatan terpaut sekitar seratus meter dari pertigaan tugu Simpang Rundeng. 

SERAMBIWIKI.COM, SUBULUSSALAM - MASJID Almunawarah berada di Pusat Kota Subulussalam tepatnya Jalan Syekh Hamzah Fansury, Desa Subulussalam Selatan terpaut sekitar seratus meter dari pertigaan tugu Simpang Rundeng.

Sebelumnya masjid yang berdiri pada tahun 1983 di mana daerah ini masih berinduk ke Kabupaten Aceh Selatan sempat jadi mushalla.

Saat berdiri, masjid ini bernama Jamik. Namun diganti menjadi Almunawarah oleh Ustaz Abu Sulaiman semasa daerah ini masih dalam wilayah Kabupaten Aceh Singkil.

Masjid almunawarah berdiri dengan diprakarsai sejumlah tokoh seperti H. Raja Ulasi yang kala itu menjabat sebagai Camat Simpang Kiri era tahun 1983-an.

Lalu H.Baihaqi Kombih Kepala KUA Runding bersama rekannya Khuzaini Jakfar dan H.Abdul Muluk.

Almunawarah merupakan masjid pertama berdiri di Subulussalam selaku ibu Kota Kecamatan Simpang Kiri.

Dalam perjalanan waktu, masjid yang berada di sebelah kiri jalan menuju Rundeng ini sempat berubah menjadi Mushalla sekitar tahun 1990-an.

Baca juga: Asilmi, Masjid Warisan Soeharto di Kota Subulussalam, Selalu Ramai Jamaah

Baca juga: Kisah Bintang, Dari Sopir Angkot Jadi Pengusaha Sukses Hingga Jadi Wali Kota Subulussalam

Hal itu menyusul dibangunnya masjid Yayasan Amal Bakti Muslim Pancasila yang kini namanya dirubah menjadi Assilmi di Jalan Teuku Umar sebagai masjid besar di Subulussalam.

Belasan tahun menjadi mushala, Almunawarah kembali difungsikan sebagai masjid pada tahun 2003 saat pemekaran desa di Subulussalam hingga sekarang.

Bagi masyarakat Subulussalam, Almunawarah menjadi masjid yang sangat strategis karena terletak di jantung kota dan begitu pula bila ada pelintas dari Kecamatan Runding maupun masyarakat Aceh dari arah meulaboh menuju Medan Sumatera Utara.

MASJID Almunawarah berada di Pusat Kota Subulussalam tepatnya Jalan Syekh Hamzah Fansury, Desa Subulussalam Selatan terpaut sekitar seratus meter dari pertigaan tugu Simpang Rundeng.  Foto saat proses renovasi 2009 lalu.
MASJID Almunawarah berada di Pusat Kota Subulussalam tepatnya Jalan Syekh Hamzah Fansury, Desa Subulussalam Selatan terpaut sekitar seratus meter dari pertigaan tugu Simpang Rundeng. Foto saat proses renovasi 2009 lalu. (SERAMBINEWS.COM/KHALIDIN UMAR BARAT)

Di masjid Almunawarah memiliki halaman parkir yang cukup luas serta suasana nyaman dan adem.

Masjid yang berdiri di atas lahan setengah hektar lebih ini mampu menampung seribu lebih jamaah.

Semula, ukuran masjid almunawarah seluas 12 x 12 m dengan satu kubah, setelah mengalami perluasan ukurannya menjadi 25 x 25 meter dengan lima kubah yang direncanakan.

Masjid kebanggaan masyarakat Subulussalam Selatan ini juga kini berlantai dua. Masjid ini kerap difungsi sebagai berlangsungnya sejumlah keagamaan.

Baca juga: Sultan Daulat Sambo, Singa Tanoh Singkil yang Gigih Melawan Belanda, Diusul Jadi Pahlawan Nasional

Baca juga: Mengenal Universitas Syiah Kuala Atau Unsyiah, Kampus Tertua di Aceh

Bahkan, berbagai even Kota Subulussalam termasuk Provinsi Aceh digelar di masjid Almunawarah.

Diharapkan, jika telah rampung pada lantai dua atas dapat difungsikan berbagai aktivitas keislaman selain shalat berjamaah seperti remaja masjid, dewan dakwah dan syiar islam lainnya.

Selama ini, masjid Almunawarah merupakan pusat sejumlah kegiatan keagaamaan di sana. Masjid almunawarah juga nantinya diharapkan akan menjadi pusat pengkajian islam di daerah tersebut. Karenanya, lantai dua yang dibangun didesain sedemikian rupa.

Selama ini, Masjid almunawarah bukan sekadar tempat shalat berjamaaah namun sejumlah kegiatan keislaman Kota Subulussalam juga digelar di sana.

Aneka kegiatan lainnya juga dilaksanakan di masjid dengan warna cat dominan cream tua tersebut seperti pelepasan jamaah haji, jamaah umroh serta safari ramadhan dan aqad nikah bagi warga sekitar.

Baca juga: Kuburan Tua di Ukhuk Datakh Petunjuk Tempat Lahir Syekh Abdurrauf di Aceh Singkil

Kecuali itu pada bulan ramadhan, masjid almunawarah tidak sepi dari aktivitas ibadah seperti iktikaf.

Berdasarkan data yang diterima SerambiWiki, daya tampung masjid Almunawarah sekitar 1.000 jamaah dengan luas tanah 69,5 x 51 meter persegi.

Pendiri masjid ini adalah almarhum, H. Raja Ulasi, Almarhum, H.Abdul Muluk, Khuzaini Jakfar dan almarhum H.Baihaqi Kombih.

Tahun 2002 nama masjid diganti dari Jamik menjadi Almunawarah oleh Abu Sulaiman Dari Singkil.

Bangunan direnovasi pada tahun 2009 dan peletakan batu pertama dilakukan oleh Wakil Gubernur Aceh Muhammad Nazar, S.Ag, 15 Juni 2009

Renovasi masjid Almunawarah kala itu diketuai Haji Muhammad Layari Kombih (almarhum) dan sekretaris Ustaz Jamhuri serta bendahara H.Taher Barat, Ketua Badan Kemakmuran Masjid (BKM) HM. Yusuf Beranjak Berutu dan sekretaris Arni Indra. (Khalidin Umar Barat)

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved