Sejarah

Operasi Fujiwara Kikan di Aceh, Unit Rahasia Jepang yang Menghancurkan Belanda

Beberapa hari kemudian seorang pejabat Belanda bernama Graaf von Sperling, pejabat penting kereta api tewas ketika melakukan inspeksi di Keumire.

Penulis: Hendri Abik
Editor: Zainal M Noor
Serambiwiki/Hendri
Warga melintasi di depan Tugu Pejuang Aceh di Keumireu pada Minggu, (16/1/2021). 

SERAMBIWIKI.COM, BANDA ACEH –  Monumen beraksara Kaji yang berada di pinggir jalan Banda Aceh – Medan, persisnya di ujung timur jembatan Pasar Keumire, Kecamatan Kuta Cot Glie, Aceh Besar, adalah saksi bisu perjuangan pejuang Aceh dan pasukan Jepang dalam mengusir penjajah Belanda dari Bumi Iskandar Muda.

Karena memakai huruf kanji, banyak yang menyangka tugu ini adalah monumen Cina.

Tugu di Pasar Keumire itu merupakan jejak adanya keterlibatan Jepang dalam pengusiran Belanda dari Aceh.

Seperti diketahui, Aceh merupakan daerah yang paling terakhir dan paling lama mengobarkan perang terhadap kolonialisme Belanda.

Sejarah mencatat, serangan pertama Belanda ke Aceh berlangsung pada bulan April 1873.

Pada serangan pertama itu, penjajah Belanda dapat dipukul mundur oleh penjuang Aceh.

Johan Harmen Rudolf Kohler, seorang jenderal Belanda yang memimpin serangan itu, meregang nyawa setelah peluru pejuang Aceh menancap di dadanya.

Baca juga: Banyak yang Menyangka Ini Tugu Cina, Ternyata Ada Sejarah Heroik di Balik Monumen di Pasar Keumire

Kemudian Belanda melakukan serangan kedua yang dilancarkan pada akhir 1873 hingga awal 1874 berhasil menduduki daerah kecil di Aceh.

Selebihnya Belanda memerlukan waktu yang lama dan berganti-ganti strategi dalam perang menghadapi perlawanan rakyat Aceh.

Namun pada pada  tahun 1914, meski perang Aceh melawan Belanda  dianggap berakhir.

Tapi  rasa dendam rakyat Aceh terhadap Belanda tak pernah padam.  

Setelah tahun 1914, para perjuang Aceh masih terus melancarkan perlawanan secara gerilya.

Penyerangan orang Belanda, Ambon, atau siapa pun yang dianggap ada di pihak Belanda, terus berlangsung nyaris tanpa jeda.

Banyak orang Aceh yang ikut menjadi korban karena politik pecah belah yang dilakukan oleh Belanda.

Atas anjuran Snouck Hurgronye, Belanda memisahkan golongan uleebalang dengan ulama, sehingga terjadi sebuah jurang pemisah yang sangat dalam di antara keduanya.

Kelompok yang pertama, yang dirangkul Belanda adalah kelompok bangsawan dan kelompok kedua dipandang sebagai ancaman.

Belanda menganggap kelompok ulama membuat Perang Aceh berlarut-larut hingga lebih dari empat puluh tahun.

Golongan uleebalang ini, merupakan kepala-kepala daerah yang ditunjuk oleh Sultan Aceh dalam Piagam sarakata.

Menurut ketatanegaraan Aceh, mereka didampingi seorang ulama dalam menjalankan pemerintahannya.

Saat Belanda memegang tampuk pemerintaha, para uleebalang tidak lagi memerlukan segala aturan ketatanegaraan Kesultanan Aceh.

Para uleebalang ini tak harus meminta petunjuk ulama dalam menjalankan pemerintahan.

Mereka diberikan pangkat zelfbestuurder.

Uleebalang yang menguasai daerah luas diberikan gaji sebesar 10.200 gulden per tahun. 

Sementara bagi mereka yang menguasai tingkat desa mendapatkan gaji 240 gulden per tahun.

 Meskipun kaum uleebalang kebanyakan bisa dirangkul, dunia pergerakan nasional di Aceh pada awalnya dipelopori oleh uleebalang yang nasionalis.

Banyak dari kelompok uleebalang ini mendapat kesempatan sekolah hingga luar Aceh seperti OSVIA di Bukittinggi.

Mereka juga mendapat tempat di Volksraad sebagai wakil rakyat Aceh.

Biasanya para Uleebalang itu, tidak memperdulikan nasib rakyatnya, kecuali uleebalang seperti Teuku Muhamad Hasan dan Teuku Nyak Arief.

Dua orang uleebalang ini bahkan mempunyai perananan dalam pergerakan nasional.

Gerakan pertama yang berdiri di Aceh adalah Syarikat Aceh yang didirikan oleh pemuda-pemuda lulusan sekolah guru di Bukittingi, Sumatera Barat.

Gerakan ini digagas pada 1914, dalam sebuah pertemuan yang melibatkan sejumlah uleebalang berpikiran maju dan juga pejabat Belanda.

Dalam penggasan terjadi perbedaan faham antara kaum tua yang dipimpin Panglima Polem dan golongan muda dipimpin Teuku Chik Muhammad Thayeb.

Pada 1916 Syarikat Aceh berdiri dengan ketuanya Chick Muhammad Thayeb dan wakilnya Teuku Teungoh Meuraksa, tujuannya mengubah adat lama yang mengekang masyarakat Aceh dan memberikan kesempatan kepada kaum wanita untuk mendapatkan pendidikan.

Para ulama terlibat dalam gerakan yang bersifat modern setelah satu dekade.

Pada 1928 Tengku Abdul Wahab di Seulimeum mendirikan perguruan Al Islam, disusul Madrasah Ahlu Sunnah Wal Djamaah di Idi oleh Said Hussein.

Pada 1930 Tengku Abdul Rachman mendirikan Al Islam Peusangan di Bireuen.

Disusul pendirian Djamiatuddinyah Al Mutasiah oleh Tengku Syech Ibrahim pada 1931.

Para ulama pembaharu ini umumnya lulusan Sumatra Thawalib.

Baca juga: Black January Azerbaijan, Tragedi Pembantaian yang Mempercepat Runtuhnya Uni Soviet

Ketika Pusat Menjalin Hubungan dengan Jepang

Pada 1940-1942, sayap pemuda dari PUSA (Persatuan Ulama seluruh Aceh), mengadakan hubungan dengan Jepang yang sudah menduduki Malaya.

Terkadi kesepakatan, Pemuda PUSA akan membantu pasukan Jepang menumbangkan kekuasaan Hindia Belanda, di Aceh dan Sumatera.

Dinas Rahasia Jepang mempergunakan kesempatan ini untuk mengadakan perang urat syaraf di Aceh.

Mereka membentuk unit khusus untuk menjalankan operasi intelijen di Malaya, Singapura, dan Aceh.

Unit khusus ini dikenal dengan nama Fujiwara Kikan atau Unit Fujiwara atau Barisan Fujiwara.

Sebuah catatan di Wikipedia.org menulis, "Fujiwara Kikan (dalam Bahasa Indonesia, berarti Unit Fujiwara) biasa disingkat F-Kikan adalah sebuah unit intelejen yang terafiliasi dengan Angkatan Darat Kekaisaran Jepang atau Rikugun semasa Perang Dunia II dibawah kepemimpinan Mayor Fujiwara Iwaichi yang bertugas khusus di wilayah Asia Tenggara, seperti Malaya (sekarang Malaysia) dan Hindia Belanda, terutama wilayah Aceh (sekarang Indonesia)."

F-Kikan atas bantuan masyarakat lokal, melakukan operasi di Aceh untuk memperlancar pendaratan pasukan Jepang, agar bisa dengan mudah menghancurkan pertahanan Belanda. 

Unit F Kikan melakukan perang propaganda untuk mengacaukan perhubungan Belanda, menimbulkan kegelisahan di kalangan pejabat Belanda, dan menghalangi operasi bumi hangus yang biasanya dilakukan Belanda.

Belakangan sejumlah tokoh uleebalang yang tidak mau bekerja sama dengan Belanda, juga ikut mendukung gerakan pemberontakan yang diinisiasi oleh kalangan ulama ini.

Baca juga: Sejumlah Ulama Jadi Penasihat, Ini Susunan Lengkap Pengurus DPW PKB Aceh Periode 2021 - 2026

Baca juga: Fakta Unik Desa Alurjambu di Aceh Tamiang, Ditinggal Pergi Warga karena Dihantui Mahluk Astral

Masuknya F-Kikan ke Aceh

Setelah mengikuti pelatihan di Malaysia, seorang tokoh pejuang Aceh, Abu Bakar bersama seorang perwira Jepang bernama Nakamiya membuat rencana agar F.Kikan dan pemuda-pemuda Aceh memasuki Sumatra dan mengadakan pemberontakan terhadap Belanda.

Pada 16 Januari 1942 enam orang di dalam perahu kecil meninggalkan Kuala Selangor membawa bekal untuk sepuluh hari.

Mereka juga membawa sejumlah bom dan granat.

Rombongan kedua sebanyak dua orang berangkat pada 25 Januari 1942.

Serangan Jepang pada Pearl Habour pada 8 Desember 1941 dan gerak maju tentara Jepang di beberapa negara di dunia, membuat anggota PUSA mulai berani mengadakan pidato dan propaganda mengobarkan pemberontakan di Aceh.

Pada pertengahan Desember 1941, pemimpin PUSA berkumpul dan bersumpah setia pada negara Islam dan bekerjasama dengan Jepang melawan Belanda.

Beratus-ratus orang Aceh segera bergabung dengan gerakan ini.

Pada 19 Februari 1942, rakyat Seulimeum memulai pemberontakan panjang dan berdarah yang tidak bakal dilupakan oleh orang-orang Belanda yang ada di Aceh pada masa itu.

Para pejuang Aceh ini melakukan berbagai sabotase terhadap jaringan telepon, telegrap, dan jalan kereta api.

Titik kumulasi pertama dari gerakan ini terjadi pada malam hari 23 Februari ketika pecah kerusuhan besar.

Kantor pemerintahan sipil Belanda di Seulimum diserbu dan menyebabkan Kontrolir Tiggelman tewas terbunuh.

Kantor pos diserbu dan uang sejumlah 5000 gulden raib.

Bendera Belanda di kantor pemerintahan diturunkan dan dibakar.

Keesokan paginya tanggal 24 Februari 1942 tejadi bentrokan antara orang-orang Aceh dan tentara Belanda.

Masing-masing pihak kehilangan 12 orang tewas.

Beberapa hari kemudian, para pejuang Aceh yang didukung unit khusus F-Kikan, terlibat bentrokan dengan patroli Belanda, di kawasan Keumire, Aceh Besar (sekarang masuk dalam wilayah Kecamatan Kuta Cot Glie).

Pasukan kecil Belanda mengawal beberapa pejabat yang melakukan inspeksi setelah para pejuang Aceh menyabotase jalur kereta api dan pemutusan hubungan telepon dari Kutaraja (Banda Aceh) ke Medan. 

Bentrok senjata di kawasan Pasar Keumire ini merenggut nyawa Graaf von Sperling, seorang pejabat penting Belanda di bidang kereta api.

Sementara di pihak pejuang Aceh yang didukung F-Kikan, jatuh tiga orang korban. 

Peristiwa ini dianggap sebagai titik awal dari kehancuran infrastruktur transportasi dan komunikasi Belanda. 

Untuk mengenang peristiwa ini, Jepang kemudian membangun sebuah monumen dan menuliskan kalimat dalam aksara kanji.

Kalimat itu berbunyi monumen ini dibangun untuk memperingati tiga prajurit yang gugur dalam perang. 

Akhir Tragis Belanda

Bersamaan dengan peristiwa di Keumire, para pejuang Aceh kemudian menyerbut barak militer dan penjara Belanda.

Beberapa unit tentara Jepang yang sudah mendarat bergabung dengan F.Kikan.

Mereka menawan tentara Belanda di sejumlah wilayah di Aceh.

Orang-orang Fujiwara Kikan berhasil mencegah aksi bumi hangus tentara Belanda.

Aksi perlawanan terhadap Belanda berkobar hingga ke wilayah Sumatera Utara.

Bahkan, pembunuhan agen polisi Belanda di Sidikalang dalam wilayah Tapanuli dilakukan oleh rakyat Aceh di Singkil.

Pada12 Maret, jumlah besar tentara Jepang mendarat di Sabang dan Ujong Batee (sekarang wilayah Kecamatan Mesjid Raya, Aceh Besar).

Kekuatan pasukan Jepang yang didukung pejuang dan rakyat Aceh, membuat unit-unit pasukan Belanda dapat ditaklukkan dengan mudah. 

Kolonel Gosenson dan dua ribu pasukannya mundur ke Takengon dan bermaksud mengadakan perlawanan secara geriliya.

Namun rakyat di Gayo tidak mendukung.

Sehingga Pada 28 Maret 1942, Mayor Jenderal Overraker dan Kolonel Gasenson menyerah.

Ada satu kesatuan marsose dipimpin Letnan Van Zaten mencoba bertahan.

Tetapi pada 10 Maret 1943 mereka terpaksa menyerah dalam keadaan menyedihkan.

Van Zaten dan sebagian besar kelompoknya ditembak mati di Bukit Tinggi.

Berbeda dengan daerah lain yang diduduki Jepang, kekuasaan Belanda di Aceh berakhir selama-lamanya dengan cara yang sangat tragis.

Namun, serangan bom atom ke Hiroshima dan Nagasaki di Jepang, membuat keadaan kembali berbalik. 

Belanda yang diusir dari Indonesia oleh pasukan Jepang, kembali melancarkan agresi kedua. 

Beberapa kota besar di Indonesia (Hindi Belanda) kembali dikuasai.

Namun, sejarah mencatat, dalam agresi kedua ini, tentara Belanda tidak pernah menyerang lagi Aceh, apalagi menguasai Tanah Serambi Mekkah.(*)

Tulisan Sejarah  Lengkap Perang  Barisan Fujiwara di Aceh ini, pernah dimuat di Majalah Interview Plus edisi Februari 2014

Sumber:

Kompas.com

Iwaichi, Fujiwara, Lt.General F.Kikan: Japanese Army Intelligence Operations in South East Asia during World War II, Hongkong, Singapore,Kuala Lumpur, 1983

Lebra, Joyce C CTentara Gemblengan Jepang, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1988

Reid, Anthony, Perjuangan Rakyat: Revolusi dan Hancurnya Kerajaan-kerajaan di Sumatra, Jakarta: Sinar Harapan, 1987

Reid, Anthony, An Indonesian Frontier: Acehnese and Other Histories of Sumatra, Singapore University, 2005

Safwan, Drs. Mardanas, Pahlawan Nasional Teuku Nyak Arief, Jakarta: Departemen P & K, 1976

Van’t Veer, Paul, Perang Aceh: Kisah Kegagalan Snouck Hurgronje, Jakarta: Grafiti Pers, 1987

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved