Sejarah

Operasi Fujiwara Kikan di Aceh, Unit Rahasia Jepang yang Menghancurkan Belanda

Beberapa hari kemudian seorang pejabat Belanda bernama Graaf von Sperling, pejabat penting kereta api tewas ketika melakukan inspeksi di Keumire.

Penulis: Hendri Abik
Editor: Zainal M Noor
Serambiwiki/Hendri
Warga melintasi di depan Tugu Pejuang Aceh di Keumireu pada Minggu, (16/1/2021). 

Kantor pos diserbu dan uang sejumlah 5000 gulden raib.

Bendera Belanda di kantor pemerintahan diturunkan dan dibakar.

Keesokan paginya tanggal 24 Februari 1942 tejadi bentrokan antara orang-orang Aceh dan tentara Belanda.

Masing-masing pihak kehilangan 12 orang tewas.

Beberapa hari kemudian, para pejuang Aceh yang didukung unit khusus F-Kikan, terlibat bentrokan dengan patroli Belanda, di kawasan Keumire, Aceh Besar (sekarang masuk dalam wilayah Kecamatan Kuta Cot Glie).

Pasukan kecil Belanda mengawal beberapa pejabat yang melakukan inspeksi setelah para pejuang Aceh menyabotase jalur kereta api dan pemutusan hubungan telepon dari Kutaraja (Banda Aceh) ke Medan. 

Bentrok senjata di kawasan Pasar Keumire ini merenggut nyawa Graaf von Sperling, seorang pejabat penting Belanda di bidang kereta api.

Sementara di pihak pejuang Aceh yang didukung F-Kikan, jatuh tiga orang korban. 

Peristiwa ini dianggap sebagai titik awal dari kehancuran infrastruktur transportasi dan komunikasi Belanda. 

Untuk mengenang peristiwa ini, Jepang kemudian membangun sebuah monumen dan menuliskan kalimat dalam aksara kanji.

Kalimat itu berbunyi monumen ini dibangun untuk memperingati tiga prajurit yang gugur dalam perang. 

Akhir Tragis Belanda

Bersamaan dengan peristiwa di Keumire, para pejuang Aceh kemudian menyerbut barak militer dan penjara Belanda.

Beberapa unit tentara Jepang yang sudah mendarat bergabung dengan F.Kikan.

Mereka menawan tentara Belanda di sejumlah wilayah di Aceh.

Orang-orang Fujiwara Kikan berhasil mencegah aksi bumi hangus tentara Belanda.

Aksi perlawanan terhadap Belanda berkobar hingga ke wilayah Sumatera Utara.

Bahkan, pembunuhan agen polisi Belanda di Sidikalang dalam wilayah Tapanuli dilakukan oleh rakyat Aceh di Singkil.

Pada12 Maret, jumlah besar tentara Jepang mendarat di Sabang dan Ujong Batee (sekarang wilayah Kecamatan Mesjid Raya, Aceh Besar).

Kekuatan pasukan Jepang yang didukung pejuang dan rakyat Aceh, membuat unit-unit pasukan Belanda dapat ditaklukkan dengan mudah. 

Kolonel Gosenson dan dua ribu pasukannya mundur ke Takengon dan bermaksud mengadakan perlawanan secara geriliya.

Namun rakyat di Gayo tidak mendukung.

Sehingga Pada 28 Maret 1942, Mayor Jenderal Overraker dan Kolonel Gasenson menyerah.

Ada satu kesatuan marsose dipimpin Letnan Van Zaten mencoba bertahan.

Tetapi pada 10 Maret 1943 mereka terpaksa menyerah dalam keadaan menyedihkan.

Van Zaten dan sebagian besar kelompoknya ditembak mati di Bukit Tinggi.

Berbeda dengan daerah lain yang diduduki Jepang, kekuasaan Belanda di Aceh berakhir selama-lamanya dengan cara yang sangat tragis.

Namun, serangan bom atom ke Hiroshima dan Nagasaki di Jepang, membuat keadaan kembali berbalik. 

Belanda yang diusir dari Indonesia oleh pasukan Jepang, kembali melancarkan agresi kedua. 

Beberapa kota besar di Indonesia (Hindi Belanda) kembali dikuasai.

Namun, sejarah mencatat, dalam agresi kedua ini, tentara Belanda tidak pernah menyerang lagi Aceh, apalagi menguasai Tanah Serambi Mekkah.(*)

Tulisan Sejarah  Lengkap Perang  Barisan Fujiwara di Aceh ini, pernah dimuat di Majalah Interview Plus edisi Februari 2014

Sumber:

Kompas.com

Iwaichi, Fujiwara, Lt.General F.Kikan: Japanese Army Intelligence Operations in South East Asia during World War II, Hongkong, Singapore,Kuala Lumpur, 1983

Lebra, Joyce C CTentara Gemblengan Jepang, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1988

Reid, Anthony, Perjuangan Rakyat: Revolusi dan Hancurnya Kerajaan-kerajaan di Sumatra, Jakarta: Sinar Harapan, 1987

Reid, Anthony, An Indonesian Frontier: Acehnese and Other Histories of Sumatra, Singapore University, 2005

Safwan, Drs. Mardanas, Pahlawan Nasional Teuku Nyak Arief, Jakarta: Departemen P & K, 1976

Van’t Veer, Paul, Perang Aceh: Kisah Kegagalan Snouck Hurgronje, Jakarta: Grafiti Pers, 1987

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved