Sejarah

Operasi Fujiwara Kikan di Aceh, Unit Rahasia Jepang yang Menghancurkan Belanda

Beberapa hari kemudian seorang pejabat Belanda bernama Graaf von Sperling, pejabat penting kereta api tewas ketika melakukan inspeksi di Keumire.

Penulis: Hendri Abik
Editor: Zainal M Noor
Serambiwiki/Hendri
Warga melintasi di depan Tugu Pejuang Aceh di Keumireu pada Minggu, (16/1/2021). 

Terkadi kesepakatan, Pemuda PUSA akan membantu pasukan Jepang menumbangkan kekuasaan Hindia Belanda, di Aceh dan Sumatera.

Dinas Rahasia Jepang mempergunakan kesempatan ini untuk mengadakan perang urat syaraf di Aceh.

Mereka membentuk unit khusus untuk menjalankan operasi intelijen di Malaya, Singapura, dan Aceh.

Unit khusus ini dikenal dengan nama Fujiwara Kikan atau Unit Fujiwara atau Barisan Fujiwara.

Sebuah catatan di Wikipedia.org menulis, "Fujiwara Kikan (dalam Bahasa Indonesia, berarti Unit Fujiwara) biasa disingkat F-Kikan adalah sebuah unit intelejen yang terafiliasi dengan Angkatan Darat Kekaisaran Jepang atau Rikugun semasa Perang Dunia II dibawah kepemimpinan Mayor Fujiwara Iwaichi yang bertugas khusus di wilayah Asia Tenggara, seperti Malaya (sekarang Malaysia) dan Hindia Belanda, terutama wilayah Aceh (sekarang Indonesia)."

F-Kikan atas bantuan masyarakat lokal, melakukan operasi di Aceh untuk memperlancar pendaratan pasukan Jepang, agar bisa dengan mudah menghancurkan pertahanan Belanda. 

Unit F Kikan melakukan perang propaganda untuk mengacaukan perhubungan Belanda, menimbulkan kegelisahan di kalangan pejabat Belanda, dan menghalangi operasi bumi hangus yang biasanya dilakukan Belanda.

Belakangan sejumlah tokoh uleebalang yang tidak mau bekerja sama dengan Belanda, juga ikut mendukung gerakan pemberontakan yang diinisiasi oleh kalangan ulama ini.

Baca juga: Sejumlah Ulama Jadi Penasihat, Ini Susunan Lengkap Pengurus DPW PKB Aceh Periode 2021 - 2026

Baca juga: Fakta Unik Desa Alurjambu di Aceh Tamiang, Ditinggal Pergi Warga karena Dihantui Mahluk Astral

Masuknya F-Kikan ke Aceh

Setelah mengikuti pelatihan di Malaysia, seorang tokoh pejuang Aceh, Abu Bakar bersama seorang perwira Jepang bernama Nakamiya membuat rencana agar F.Kikan dan pemuda-pemuda Aceh memasuki Sumatra dan mengadakan pemberontakan terhadap Belanda.

Pada 16 Januari 1942 enam orang di dalam perahu kecil meninggalkan Kuala Selangor membawa bekal untuk sepuluh hari.

Mereka juga membawa sejumlah bom dan granat.

Rombongan kedua sebanyak dua orang berangkat pada 25 Januari 1942.

Serangan Jepang pada Pearl Habour pada 8 Desember 1941 dan gerak maju tentara Jepang di beberapa negara di dunia, membuat anggota PUSA mulai berani mengadakan pidato dan propaganda mengobarkan pemberontakan di Aceh.

Pada pertengahan Desember 1941, pemimpin PUSA berkumpul dan bersumpah setia pada negara Islam dan bekerjasama dengan Jepang melawan Belanda.

Beratus-ratus orang Aceh segera bergabung dengan gerakan ini.

Pada 19 Februari 1942, rakyat Seulimeum memulai pemberontakan panjang dan berdarah yang tidak bakal dilupakan oleh orang-orang Belanda yang ada di Aceh pada masa itu.

Para pejuang Aceh ini melakukan berbagai sabotase terhadap jaringan telepon, telegrap, dan jalan kereta api.

Titik kumulasi pertama dari gerakan ini terjadi pada malam hari 23 Februari ketika pecah kerusuhan besar.

Kantor pemerintahan sipil Belanda di Seulimum diserbu dan menyebabkan Kontrolir Tiggelman tewas terbunuh.

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved