Sejarah

Operasi Fujiwara Kikan di Aceh, Unit Rahasia Jepang yang Menghancurkan Belanda

Beberapa hari kemudian seorang pejabat Belanda bernama Graaf von Sperling, pejabat penting kereta api tewas ketika melakukan inspeksi di Keumire.

Penulis: Hendri Abik
Editor: Zainal M Noor
Serambiwiki/Hendri
Warga melintasi di depan Tugu Pejuang Aceh di Keumireu pada Minggu, (16/1/2021). 

Para uleebalang ini tak harus meminta petunjuk ulama dalam menjalankan pemerintahan.

Mereka diberikan pangkat zelfbestuurder.

Uleebalang yang menguasai daerah luas diberikan gaji sebesar 10.200 gulden per tahun. 

Sementara bagi mereka yang menguasai tingkat desa mendapatkan gaji 240 gulden per tahun.

 Meskipun kaum uleebalang kebanyakan bisa dirangkul, dunia pergerakan nasional di Aceh pada awalnya dipelopori oleh uleebalang yang nasionalis.

Banyak dari kelompok uleebalang ini mendapat kesempatan sekolah hingga luar Aceh seperti OSVIA di Bukittinggi.

Mereka juga mendapat tempat di Volksraad sebagai wakil rakyat Aceh.

Biasanya para Uleebalang itu, tidak memperdulikan nasib rakyatnya, kecuali uleebalang seperti Teuku Muhamad Hasan dan Teuku Nyak Arief.

Dua orang uleebalang ini bahkan mempunyai perananan dalam pergerakan nasional.

Gerakan pertama yang berdiri di Aceh adalah Syarikat Aceh yang didirikan oleh pemuda-pemuda lulusan sekolah guru di Bukittingi, Sumatera Barat.

Gerakan ini digagas pada 1914, dalam sebuah pertemuan yang melibatkan sejumlah uleebalang berpikiran maju dan juga pejabat Belanda.

Dalam penggasan terjadi perbedaan faham antara kaum tua yang dipimpin Panglima Polem dan golongan muda dipimpin Teuku Chik Muhammad Thayeb.

Pada 1916 Syarikat Aceh berdiri dengan ketuanya Chick Muhammad Thayeb dan wakilnya Teuku Teungoh Meuraksa, tujuannya mengubah adat lama yang mengekang masyarakat Aceh dan memberikan kesempatan kepada kaum wanita untuk mendapatkan pendidikan.

Para ulama terlibat dalam gerakan yang bersifat modern setelah satu dekade.

Pada 1928 Tengku Abdul Wahab di Seulimeum mendirikan perguruan Al Islam, disusul Madrasah Ahlu Sunnah Wal Djamaah di Idi oleh Said Hussein.

Pada 1930 Tengku Abdul Rachman mendirikan Al Islam Peusangan di Bireuen.

Disusul pendirian Djamiatuddinyah Al Mutasiah oleh Tengku Syech Ibrahim pada 1931.

Para ulama pembaharu ini umumnya lulusan Sumatra Thawalib.

Baca juga: Black January Azerbaijan, Tragedi Pembantaian yang Mempercepat Runtuhnya Uni Soviet

Ketika Pusat Menjalin Hubungan dengan Jepang

Pada 1940-1942, sayap pemuda dari PUSA (Persatuan Ulama seluruh Aceh), mengadakan hubungan dengan Jepang yang sudah menduduki Malaya.

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved