Tradisi Aceh

Mengenal Tradisi Malam Boh Gaca Pada Acara Pernikahan di Aceh

Setiap calon pengantin wanita di Aceh yang mau memberlangsungkan acara pernikahan memiliki tradisi Boh Gaca (ukiran Inai).

Penulis: Hendri Abik
Editor: Zainal M Noor
Serambinews.com/Hendri
Acara boh gaca di Aceh 

SERAMBIWIKI.COM, BANDA ACEH – Setiap calon pengantin wanita di Aceh yang mau melangsungkan acara pernikahan memiliki tradisi Boh Gaca (ukiran inai).

Inai diukir pada jari tangan dan kaki dengan motif ukiran khas yang berbeda, sesuai asal daerah masing-masing.

Berdasarkan informasi yang terhimpun dari sejumlah sumber, tradisi boh gaca dilakukan oleh masyarakat di Aceh bertujuan untuk memberi kekhasan dan menambah pesona kepada setiap pengantin wanita yang melangskungkan perkawinan.

Tradisi ukiran inai ini sudah berlangsung turun temurun.

Motifnya inai yang diukir, seperti motif pintu Aceh, cincin Nabi Sulaiman, bungong awan sion, bungong awan meucanek dan banyak lagi.

Masing-masing motif itu memiliki nilai filosofi tersendiri.

Acara boh kaca pengantin ini biasa disebut dengan malam boh gaca.

Pengantin melakukan tradisi acara boh gaca di Banda Aceh
Pengantin melakukan tradisi acara boh gaca di Banda Aceh (Serambiwiki.com/Hendri)

Menurut sejumlah tokoh masyarakat Aceh, berinai pada pesta dilakukan masyarakat Aceh pada zaman dahulu karena pengaruh budaya luar seperti budaya orang hindia dan arab ujarnya, dan tidak ada doa atau makna apapun bagi masyarakat Aceh.

Bahannya terbuat dari bahan alami dan mudah didapatkan yaitu daun pacar (oen gaca).

Daun pacar itu sangat banyak khasiatnya jika menggunakannya, tidak merusak kulit bagus untuk digunakan setiap hari.

Dalam acara malam berinai dilakukan 3 hari sebelum acara duek sandeng (duduk sanding), hal ini dilakukan untuk melanjutkan tradisi turun temurun.

Biasanya dalam tradisi ini, hadir sejumlah tetangga perempuan baik tua maupun muda Terutama saudara-saudara tua. Tradisi ini sekaligus dijadikan momen meminta dan memberi doa restu agar kelak pernikahan dara baro berlangsung lancar.

Malam boh gaca dilakukan juga sebagai bentuk undangan atau mengumumkan kabar bahagia pada keluarga besar bahwa akan diselenggarakan pesta pernikahan.

Acara boh Gaca di Aceh
Acara boh Gaca di Aceh (Serambiwiki.com/Hendri)

Keluarga dari ayah dan ibu dara baro berkumpul untuk mempererat tali silaturahmi.

Saudara tua yang hadir di malam boh gaca juga memberikan nasihat tentang pernikahan dan kehidupan rumah tangga kepada dara baro.

Mereka yang sudah lebih dulu membina keluarga membagikan sedikit nasihat dan pengalamannya sebagai bekal untuk mempelai.

Jika mengikuti aturan aslinya, malam boh gaca berlangsung 3-7 hari jelang akad nikah.

Dara baro dilarang keluar rumah atau bertemu dengan linto baro (sebutan untuk mempelai pria Aceh) selama beberapa hari tersebut.

Malam boh gaca juga dimaksudkan sebagai masa pingitan bagi dara baro.

Hal ini dilakukan untuk mencegah terjadinya hal-hal yang gak diinginkan demi keamanan dan keselamatan calon pengantin.

Malam boh gaca hanya berlaku untuk wanita yang akan menikah untuk pertama kalinya.

Tradisi ini sekaligus menegaskan status mempelai wanita di masyarakat dan keluarga besar kedua belah pihak. (SerambiWIKI/Hendri)

Ikuti kami di
KOMENTAR
190 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved