Sejarah

Menyusuri Jejak Bung Karno di Ende, Spirit Perjuangan yang Tak Pernah Padam

Kedatangan kami ke Ende membawa misi pembudayaan Pancasila yang difasilitasi oleh BPIP. Saya sangat bersyukur mendapat kesempatan berpartisipasi.

Penulis: Hendri Abik
Editor: Zainal M Noor
Humas
Ketua Asosiasi Guru Sejarah Indonesia (AGSI) Aceh, Hizqil Apandi, di rumah pengasingan Bung Karno di Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur, November 2020. 

PADA 22-23 November 2020, Ketua Asosiasi Guru Sejarah Indonesia (AGSI) Aceh, Hizqil Apandi, S.Pd mengunjungi rumah pengasingan Presiden pertama RI, Ir Soekarno di Ende, Nusa Tenggara Timur. Hizqil yang juga mantan ketua Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah Aceh mengirimkan laporannya kepada Serambinews.com. Berikut laporannya.

***

Setelah menempuh perjalanan panjang selama 30 jam dari Banda Aceh–Jakarta-Kupang–Tambolaka, akhirnya pada pukul 16.40 WITA, 22 November 2020, pesawat Wings Air yang membawa rombongan mendarat di Bandara H Hasan Aroeboesman di Kota Ende-Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Kedatangan kami ke Ende membawa misi pembudayaan Pancasila yang difasilitasi oleh BPIP.

Saya sangat bersyukur mendapat kesempatan berpartisipasi dalam kegiatan ini mewakili Asosiasi Guru Sejarah Indonesia (AGSI) Provinsi Aceh

Ende merupakan sebuah kota bersejarah bagi bangsa ini.

Hal ini tidak lepas dari kisah pengasingan sang proklamator, Bung Karno pada kurun waktu 1934-1938.

Begitu banyak kisah yang ditorehkan Bung Karno di kota ini. Selain wisata sejarahnya yang menggetarkan jiwa, Ende sudah lama dikenal memiliki wisata alam yang sangat indah.

Wisata alam Danau Kelimutu yang berada sekitar 55 km dari Kota Ende sudah lama terkenal sampai mancanegara.

Keindahan alam Danau Kelimutu ini menjadikannya sebagai destinasi utama pariwisata di Ende.

Memang, bukan Bung Karno namanya kalau berhenti menentang penjajahan Belanda.

Setelah dijebloskan ke penjara Banceuy dan Sukamiskin di Bandung, pengaruh Soekarno justru semakin besar.

Setelah bebas dari penjara, spirit perjuangannya semakin luas menginspirasi kawan-kawan seperjuangannya.

Guna membungkam pengaruhnya, Bung Karno diasingkan oleh pemerintah kolonial Belanda ke suatu tempat yang cukup jauh.

Kota itu bernama Ende, sebuah tempat di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur.

Baca juga: Jejak Jokowi di Aceh, Hingga Bupati Bener Meriah Abuya Sarkawi Usulkan Pembangunan Museum

Konon, ketika Gubernur Jenderal De Jonge memutuskan Soekarno dibuang ke Ende, Seokarno segera menyampaikan hal tersebut kepada ibu Inggit, istri tercintanya.

Lalu ibu Inggit dengan yakin menjawab “aku akan ikut denganmu walau sampai ke dasar lautan”.

Tapi ibu Inggit juga kebingungan.  “Kus (Soekarno) Ende itu di mana”.

Pertanyaan ini mengindikasikan bahwa Ende bukanlah tempat yang familiar untuk keluarga ini. 

Butuh waktu sekitar 8 hari bagi Bung Karno dan keluarga untuk mencapai Kota Ende dari Surabaya.

Ikuti kami di
KOMENTAR
183 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved