Sejarah

Berziarah ke Makam Teungku Syiah Kuala, Mufti Agung Kesultanan Aceh Darussalam

sudah menjadi salah satu lokasi wisata religi yang ramai diziarahi pengunjung dari nusantara dan mancanegara. 

Penulis: Hendri Abik
Editor: Zainal M Noor
Serambinews.com/Hendri
Gerbang makam Syiah Kuala. 

SERAMBIWIKI.COM, ACEH-  “Adat Bak Po Teumereuhom Hukom Bak Syiah Kuala

Adat Sama Po Teumeuhom Hukum Sama Syiah Kuala”.

Kalimat peribahasa yang ditulis dengan huruf kapital dalam bahasa Aceh, Melayu, Arab, dan Inggris itu termpampang di gerbang masuk kompleks makam Syiah Kuala.

Kompleks makam salah satu ulama besar yang pernah menjabat sebagai mufti agung di Kesultanan Aceh Darussalam ini, berada di Gampong Deah Raya, Kecamatan Syiah Kuala, Kota Banda Aceh

Kalimat "Adat Bak Po Teumereuhom Hukom Bak Syiah Kuala" ini memang kerap ditemui di beberapa tempat di Aceh, terutama di lembaga pendidikan, adat, maupun lembaga hukum nonformal.

Kalimat ini merupakan penggalan dari hadih maja yang berbunyi lengkap

"Adat bak Poteu Meureuhôm

Hukôm bak Syiah Kuala

Kanun bak Putroe Phang

Reusam bak Laksamana"

Secara singkat, hadih maja ini merupakan tatanan hidup masyarakat Aceh pada masa kesultanan Aceh, setelah Sultan Iskandarmuda mangkat.

Adat bak Poteu Meureuhôm mengarahkan dipahami bahwa kekuasaan yang mengatur norma atau kearifan hidup masyarakat Aceh berada pada Poteu Meureuhôm.

Secara bahasa, Poteu Meureuhom ini bermakna Paduka Almarhum atau berarti raja-raja Aceh yang telah meninggal dunia.

Namun, beberapa sejarawan Aceh berpendapat Poteu Meureuhôm yang dimaksud dalam kalimat hadih maja tersebut dinisbatkan kepada Sultan Iskandar Muda Meukuta Alam, raja agung yang memerintah Kerajaan Aceh Darussalam selama tiga puluh tahun (1607-1636).

Kemudian, 'Hukum Bak Syiah Kuala' yang merupakan kalimat kedua pada hadih maja itu menunjukkan betapa pentingnya kedudukan Teungku Syiah Kuala atau Syekh Abdurrauf As-Singkili, Mufti Agung Kerajaan Aceh ketika zaman Sultanah Safiatuddin Tajul Alam (1641-1643).

Selanjutnya, "Kanun Bak Putro Pang " menunjukkan pentingnya posisi Putroe Phang dalam memutuskan peraturan.

Putroe Phang yang memiliki nama asli Putri Kamaliah adalah permaisuri kedua Sultan Iskandar Muda yang berasal dari Pahang, Malaysia. 

Selain sebagai permaisuri, Putri Pahang ini juga diangkat sebagai penasihat Sultan Iskandar Muda.

Putroe Phang memberikan beberapa saran dan pendapat yang kemudian menjadi kanun Aceh.

Salah satu nasehatnya adalah pembentukan majelis syura (parlemen) yang beranggotakan 73 orang sebagai perwakilan penduduk dalam kerajaan Aceh.

Ikuti kami di
KOMENTAR
167 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved