Profil

Mengenal Lebih Dekat Sosok Mayjen TNI Hassanudin, dari Pedagang Asongan hingga jadi Panglima

“Kalau tempat tinggal dan makan ditanggung sama wak saya, tapi kebutuhan lain harus cari sendiri dengan menjadi pedagang asongan,” katanya mengenang.

Penulis: Subur Dani
Editor: Nurul Hayati
Serambinews.com/Hendri
Mayor Jenderal (Mayjen) TNI Hassanudin SIP MM. 

Saat itulah, Hassanudin bingung.

Baca juga: Fakultas Kedokteran Unsyiah, Digagas Marzuki Nyakman Pada Tahun 1964

Pasalnya, waknya meminta Hassanudin masuk ke sokolah SPG (pendidikan guru) karena bisa mendapat beasiswa atau dibiayai pemerintah.

Namun, Hassanudin sendiri ingin melanjutkan ke SMA. 

Waknya tetap bersikeras, agar dia masuk ke SPG.

Tujuannya, supaya kelak mudah diterima menjadi guru.

“Wak saya bilang, mau masuk SMA kamu, siapa yang biayai? Dibilang saya tidak tahu diri, saya dimarahi. Kalau SPG saya boleh tinggal di situ,” kata Hassanudin mengenang kisah itu.

Akhirnya, adik ibunya yang paling bontot, meminta Hassanudin untuk tinggal bersamanya.

Dia pun ikut, kebetulan pamannya ini adalah seorang polisi.

“Beliau bilang, kamu ikut saya saja sekolah. Akhirnya saya mau dan beliau menyekolahkan saya, saya sekolah di SMA,” ujarnya.

Saat itu, Hassanudin tak lagi menjadi pedagang asongan.

Dia fokus sekolah dan hidup berdua dengan pamannya tersebut.

Setelah lulus, Mayjen Hassanudin kembali dihadapkan dilema besar.

Waknya kembali meminta Hassanudin melanjutkan kuliah ke D1 PGSD (pendidikan guru).

“Saya turuti dan saya masuk dan lulus. Namun setelah kuliah, saya pikir tidak mungkin melanjutkan ini,” kisahnya.

Cita-cita Hassanudin sejak kecil yang ingin menjadi tentara, kembali bergejolak dalam batinnya.

Saat itulah, Hassanudin yang baru saja duduk di bangku kuliah memilih untuk mengakhiri studinya sebagai calon guru dan memantapkan niatnya untuk mengikuti seleksi Akademi Militer.

“Karena sejak kecil saya bercita-cita jadi TNI. Melihat sosok TNI itu saya sangat tertarik,” katanya.

Hassanudin pun menyampaikan hal itu kepada ibu, wak, dan pamannya.

Singkat cerita ia meninggalkan Palembang dan merantau ke Jawa untuk ikut tes Akademi Militer.

“Itu pertama kali saya ke Jawa, mungkin kalau tidak ikut seleksi TNI saya tidak pernah ke luar dari kampung,” katanya.

Baca juga: Omnibus Law, Undang Undang Sapu Jagat, Bermula dari Nama Bus Tertua di Dunia

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved