Sejarah

Berziarah ke Makam Pahlawan Nasional Laksamana Malahayati di Bukit Lamreh Aceh Besar

Laksamana Malahayati dinobatkan sebagai pahlawan nasional oleh Pemerintah Republik Indonesia sejak peringatan Hari Pahlawan tahun 2017 lalu.

Penulis: Hendri Abik
Editor: Zainal M Noor
Serambinews.com/Hendri
Petunjuk arah makam Malahayati 

SERAMBIWIKI.COM, ACEH BESAR –  Laksamana Malahayati yang bernama asli Keumalahayati, adalah Pahlawan Nasional asal Aceh.

Anugerah Pahlawan untuk Laksamana Malahayati diserahkan oleh Presiden Joko Widodo berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 115/TK/Tahun 2017 tanggal 6 November 2017.

Sebelum Malahayati, Pemerintah Republik Indonesia juga memberikan gelar Pahlawan Nasional kepada dua perempuan asal Aceh, yakni Cut Nyak Dhien dan Cut Meutia.

Jauh sebelum gelar Pahlawan Nasional itu datang, Keumalahayati sudah dikenal luas sebagai salah satu perempuan pejuang yang berasal dari Kesultanan Aceh.

Ayahnya bernama Laksamana Mahmud Syah.

Kakeknya dari garis ayahnya adalah Laksamana Muhammad Said Syah, putra dari Sultan Salahuddin Syah yang memerintah sekitar tahun 1530–1539 M.

Adapun Sultan Salahuddin Syah adalah putra dari Sultan Ibrahim Ali Mughayat Syah (1513–1530 M), yang merupakan pendiri Kerajaan Aceh Darussalam.

Pada tahun 1585–1604, Keumalahayati memegang jabatan Kepala Barisan Pengawal Istana Panglima Rahasia dan Panglima Protokol Pemerintah dari Sultan Saidil Mukammil Alauddin Riayat Syah IV.

Malahayati pemimpin dari pasukan Inong Balee (janda-janda pahlawan yang telah syahid) dalam perang melawan Belanda.

Nama Keumalahayati menggemparkan negara Belanda setelah peristiwa peperangan di atas kapal Belanda di perairan Aceh pada tanggal 11 September 1599.

Keumalahayati berhasil membunuh kapten kapal penjelajah Belanda, Cornelis de Houtman, dalam pertempuran satu lawan satu di geladak kapal.

Keberhasilan dan keberaniannya membuat Keumalahayati mendapat gelar Laksamana yang merupakan gelar tertinggi di Angkatan Laut Kerajaan Aceh.

Sehingga ia kemudian lebih dikenal dengan nama Laksamana Malahayati.

Saat meninggal dunia, jasad Malahayati dikebumikan di bukit Lamreh Krueng Raya, Kecamatan Masjid Raya, Aceh Besar.

Makam panglima perang perempuan yang legendaris ini terawat dengan baik.

Teungku Chik Di Tiro, Pahlawan Asal Pidie Dimakamkan di Meureu Aceh Besar

Mengenang Jasa Pahlawan

Pada hari Minggu 16 Agustus 2020, atau tepat sehari sebelum peringatan HUT Ke-75 Republik Indonesia, rombongan Bupati Aceh Besar, Mawardi Ali didampingi Wakil Bupati Tgk H Husaini A Wahab serta Forkopimda, berziarah ke makam Sang Pahlawan.

Mereka berdoa dan mengenang perjuangan dan jasa Keumalahayati melawan penjajah Belanda hingga Republik Indonesia saat ini bisa memperingati HUT Kemerdekaannya yang ke -75 tahun.

Malahayati atau Keumalahayati di masa hidupnya, merupakan wanita yang menjadi Panglima Angkatan Laut, Kadis Rahasia Kerajaan, dan Protokol Istana masa kerajaan Aceh dipimpin oleh Sultan Saidil Mukamil Alauddin Riayatsyah pada  tahun 1588-1604.

Beliau juga menghimpun para janda untuk melawan Portugis dan Belanda.

Ikuti kami di
KOMENTAR
95 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved