Sejarah

Teungku Chik Di Tiro, Pahlawan Asal Pidie Dimakamkan di Meureu Aceh Besar

Mujahid bernama alias Muhammad Saman itu ialah putra ialah putra dari Tengku Syaikh Ubaidillah asal kampung Garot Negeri, Samaindra, Sigli.

Penulis: Hendri Abik
Editor: Zainal M Noor
Wikipedia.org
Teungku Chik Di Tiro, pahlawan nasional asal Pidie, Aceh. 

SERAMBIWIKI.COM, ACEH BESAR- Teungku Chik Di Tiro adalah salah satu pahlawan nasional yang berasal dari Aceh.

Mujahid ini bernama asli Muhammad Saman.

Beliau kemudian dikenal dengan nama Tengku Cik Di Tiro atau Teungku Chik Di Tiro atau Teuku Cik Di Tiro atau Teuku Tjik Ditiro.

Beliau adalah putra dari Tengku Syaikh Ubaidillah asal Garot Pidie.

Sedangkan ibunya bernama Siti Aisyah, putri dari Teungku Syaikh Abdussalam Muda Tiro.

Teungku Chik Di Tiro lahir di Kabupaten Pidie, 1 Januari 1836.

Berdasarkan cacatan Sejarah, Teungku Cik Di Tiro lahir dan besar di lingkungan yang sangat ketat menjalankan agama Islam, sehingga membuat masa kecilnya dekat dengan kehidupan relijus.

Ia belajar agama dengan ayah dan pamannya bernama Teungku Chik Dayah Tjut Di Tiro serta ulama-ulama terkenal tempat ia tumbuh.

Kemudian untuk mempedalam ilmu agamanya, Teungku Chik Di Tiro berkelana ke Lam Krak, Aceh Besar untuk memperdalam lagi ilmunya pada ulama-ulama terkenal di sana.

Setelah menghabiskan waktu dua tahun di sana, ia pun kembali ke Tiro dan mengajar bersama sang paman, Teungku Dayah Tjut.

Dan Teungku Chik Di Tiro tidak pernah menjalani pendidikan formal.

Biodata Waled Marhaban Bakongan, Ulama Karismatik yang Ikut Berperan Dalam Perdamaian Aceh

Akmal Ibrahim SH, Dari Jurnalis Harian Serambi Indonesia Hingga Dua Kali Bupati Aceh Barat Daya

Tidak puas mencari ilmu di negeri asalnya, ia kemudian pergi ke Makkah, selain untuk menunaikan ibadah haji dan juga mendalami ilmu agama di sana.

Di Tanah Suci, Teungku Chik Di Tiro bertemu para ulama dan pemimpin Islam.

Dari situlah ia mulai sadar arti perjuangan perjuangan melawan imperialisme dan kolonialisme.

Sesuai dengan ajaran agama, beliau yang bernama asli Muhammad rela mengorbankan apa saja baik harta, benda, kedudukan, maupun nyawanya demi tegaknya agama dan bangsa di Aceh.

 Sebelum dan sesudah beliau berangkat ke tanah suci Mekkah, daerah Aceh sedang dikuasai oleh Belanda.

Berkali-kali perjuangan pemuka agama atau para pejuang dan masyarakat Aceh mampu dipatahkan oleh invasi Belanda.Bahkan, karena kurangnya solidaritas antara para pejuang membuat di antara mereka justru ada yang memihak kepada Belanda.

Ketika Beliau sedang berada di tanah suci untuk belajar agama sekaligus memahami nilai-nilai perjuangan dalam melawan penindasan, bertubi-tubi surat datang dari Aceh untuk memintanya pulang ke tanah rencong tersebut.

Mengenal Sejarah Gayo, Salah Satu Etnis Tertua di Nusantara

Salah satunya yang mendesak beliau pulang adalah pamannya, Teungku Cik Dayah Cut.

Sepulangya ke kampung halaman, Teungku Chik Di Tiro selain menjadi pengajar di pesantren, perhatian  terfokus pada perjuangan rakyat Aceh dalam melawan Belanda.

Lalu, Teungku Cik Di Tiro mengumpulkan dan menemui beberapa tokoh perjuangan yang tersisa demi menyatukan asa dan membangun kembali daya juang khas Aceh dalam menentang penjajahan.

 Salah seorangnya Panglima Polim, satu pejuang yang masih menantikan momentum untuk memukul balik Belanda.

Dia pun menyerukan para ulebalang atau pemimpin daerah-daerah di Aceh untuk membantu Teungku Chik Di Tiro.

Kemudian,  Teungku Chik Di Tiro dan sekumpulan orang termasuk bantuan dari Tuanku Mahmud dari keluarga Sultan Aceh, membentuk angkatan perang.

Pada saat Aceh berada di momen terpuruk itulah, Teungku Cik Di Tiro muncul untuk memimpin perang Sabil yang bermakna perang melawan kaum kafir (Belanda).

 Dalam perang yang dipimpinnya, satu persatu benteng dan wilayah jajahan Belanda dapat direbut kembali.

 Pada bulan Mei tahun 1881, pasukan Muhammad Saman dapat merebut benteng Belanda Lam Baro, Aneuk Galong dan lain-lain.

 Belanda akhirnya terjepit di sekitar kota Banda Aceh dengan mempergunakan taktik lini konsentrasi (concentratie stelsel) yaitu membuat benteng yang mengelilingi wilayah yang masih dikuasainya.

Belanda yang merasa kewalahan menghadapi Teungku Cik Di Tiro akhirnya memakai "siasat liuk" yang licik.

Mereka membayar seorang pekerja dan wanita dari kerajaan Aceh untuk mengirim makanan yang sudah dibubuhi racun.

Tanpa curiga sedikitpun ia memakannya, dan akhirnya Muhammad Saman meninggal pada bulan Januari 1891 di benteng Aneuk Galong.

Sesuai dengan amanatnya, beliau dimakamkan di Mereue.

Hingga saat anda bisa mengunjungi makam pahlawan Nasional ini di Meureu, Indrapuri, Kabupaten Aceh Besar.

Kompleks Makam Panglima Polem dan Sejarah Singkat Perjuangannya

Biodata

Nama Lengkap: Teungku Cik Di Tiro

Alias:  Muhammad Saman atau Tengku Cik Di Tiro  atau Teungku Chik Di Tiro  atau Teuku Cik Di Tiro atau Teuku Tjik Ditiro

Agama: Islam

Tempat Lahir: Cumbok Lamlo, Tiro, Pidie, Aceh.

Tanggal Lahir:  1 Januari 1836

Meninggal:
31 Januari 1891 (umur 55) Aneuk Galong, Aceh Besar, Aceh Darussalam (SerambiWiki/Hendri)
 

Ikuti kami di
KOMENTAR
94 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved