Profil

Biodata Waled Marhaban Bakongan, Ulama Karismatik yang Ikut Berperan Dalam Perdamaian Aceh

Selain mengajar agama dan menjadi salah satu pimpinan pondok pesantren, Waled Marhaban juga ikut terlibat dalam mendamaikan konflik Aceh.

Penulis: Hendri Abik
Editor: Zainal M Noor
Serambi Indonesia
Waled Marhaban Bakongan, ulama karismatik yang ikut dalam proses perdamaian Aceh. 

SERAMBIWIKI.COM, ACEH SELATAN - Waled Marhaban Bakongan merupakan salah satu Ulama Karismatik Aceh yang banyak berkiprah pada sosial kemasyarakatan.

Selain mengajar agama dan menjadi salah satu pimpinan pondok pesantren, Waled Marhaban juga ikut terlibat dalam mendamaikan konflik antara Aceh dengan Republik Indonesia beberapa tahun silam.

Waled Marhaban sempat beberapa kali bertemu dengan Presiden pada masa itu dijabat oleh Gusdur, guna membahas jalan menuju Aceh damai.

Waled Marhaban juga salah satu ulama yang terlibat pendirian Universitas Malikussaleh pada masa Gusdur dan menjadi pengajar pembinaan akhlak dosen dan pegawai dalam lingkungan UNIMAL.

Toke Seuem, Mantan Kombatan GAM, Wali Kota Langsa Dua Periode

Data Diri

Nama Lengkap: Marhaban

Nama panggilan: Waled Marhaban Bakongan

Tempat Lahir: Bakongan

Tanggal Lahir : 24 September 1950

Ayah: Tgk Syech H Adnan Mahmud

Keseharian Waled Marhaban mengajar agama, yakni pada dimulai dari pukul 8  sampai pukul 11 pagi, lalu dilanjutkan setelah Magrib sampai jam 11 malam.

Waled Marhaban dilahirkan di Bakongan pada tanggal 24 September 1950.

Saat ini beliau sudah berusia 70 tahun.

Perjalanan beliau dimulai dari setelah setelah tamat Sekolah Dasar pada tahun 1963.

Beliau melanjutkan sekolah SMP Swasta sambil mengaji pada Abu (Tgk Syekh H Adnan Mahmud) atau dikenal Nek Abu Bakongan di Masjid Bakongan.

Tahun 1968 Waled Marhaban melanjutkan pendidikan agama di Darussalam, Labuhan Haji, Aceh Selatan.

Beberapa tahun belajar di Labuhan Haji, pada tahun 1971, Waled Marhaban pulang kampung (Bakongan) dan tahun 1972 Waled kembali melanjutkan belajar mengaji ke Samalanga, Bireuen, Aceh.

Kala itu Pesantren Mudi masih diasuh oleh Abon Abdul Aziz Samalanga.

Selama lebih kurang 17 tahun Waled menuntut ilmu di Samalanga.

Pada tahun 1989 setelah Abon Samalanga meninggal dunia, Waled Marhaban memutuskan untuk kembali ke kampung halaman di Bakongan.

Ikuti kami di
KOMENTAR
91 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved