Sejarah

Pinto Aceh, Perhiasan Peninggalan Sultan Iskandar Muda

Desain perhiasan motif Pinto Aceh ini diciptakan Utoh Mud terilhami dari desain sebuah monumen peninggalan Sultan Iskandar Muda (1607-1636).

Penulis: Hendri Abik
Editor: Zainal M Noor
SERAMBINEWS.COM/Handover
Motif Pinto Aceh dengan "laser engrave" di jok mobil Innova Reborn karya Danish Car Interior Banda Aceh. 

SERAMBIWIKI.COM, BANDA ACEH –   Pinto Aceh atau Pinto Khop adalah motif khas Aceh yang sudah terkenal ke seantero Indonesia.

Karya budaya ini telah ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda Indonesia dengan SK Penetapan Nomor. 186/M/2015 tanggal 16 Oktober 2015.

Sekarang, selain dalam dalam bentuk perhiasan, motif Pinto Aceh juga diterapkan pada pakaian.

Motif Pinto Aceh juga terbuat dalam bentuk tas, pin atau bros, liontin, hingga jok mobil.

Motif Pinto Aceh ini juga menjadi desain gerbang pagar dan pintu di sejumlah tempat terkemuka di Aceh.

Budayawan Aceh, Harun Keuchik Leumik dalam artikelnya yang ditayangkan pada rubrik opini Harian Serambi Indonesia tanggal 13 Desember 2015,  menyebutkan, dari 250 lebih jenis perhiasan tradisional Aceh, perhiasan Pinto Aceh menjadi perhiasan yang paling diminati oleh para pemburu perhiasan di pasaran perhiasan nasional.

Bahkan Pinto Aceh adalah perhiasan favorit bagi masyarakat di Nusantara.

Tentang Cagar Budaya Benteng Indrapatra

Hukum Adat Laut, Tentang Pantang Melaut

Sejarah

Menurut Keuchik Leumik,  perhiasan Pinto Aceh pertama sekali diciptakan pada 1935.

Sejak saat itu, perhiasan Pinto Aceh terus menjadi perhiasan yang sangat populer dan paling diminati, tidak hanya oleh kaum perempuan di Aceh, melainkan juga oleh perempuan di luar Aceh.

Katanya sebagian besar pelancong yang berkunjung ke Aceh, seperti Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam, jika ingin membeli perhiasan khas Aceh, bisa dipastikan yang dicari adalah perhiasan bermotif Pinto Aceh sebagai oleh-oleh untuk dibawa pulang ke negerinya.

Itu sebabnya, katanya hingga sekarang Pinto Aceh masih terus ditempa, dengan motif yang semakin halus dan indah, dibandingkan perhiasan Pinto Aceh produksi era 1960-an hingga 1980-an.

“Dan ini bukan berarti bahwa perhiasan-perhiasan tradisional Aceh lainnya tidak mendapat perhatian di pasar perhiasan. Selain Pinto Aceh, perhiasan tradisional Aceh lain yang tak kalah indahnya adalah boh dokma, bieng meuh, talo gulee, manek krawang,” sebutnya dalam tulisan tersebut.

Sementara itu, berdasarkan cacatan sejarah Aceh, juga menyebutkan Ragam Pinto Aceh pertama sekali diciptakan pada 1935.

Corak pintu Aceh ditemukan oleh Mahmud Ibrahim atau lebih akrab dikenal sebagai Utoh Mud.

Dia adalah seorang perajin emas di Blang Oi, kecamatan Meraxa, Banda Aceh.

Desain perhiasan motif   Pinto Aceh ini diciptakan Utoh Mud terilhami dari desain sebuah monumen peninggalan Sultan Iskandar Muda (1607-1636).

Yaitu Pinto Khop, pintu Taman Ghairah atau Bustanussalatin yang merupakan taman Istana Kesultanan Aceh Darussalam.

Menurut riwayat, Pinto Khop ini adalah pintu belakang Keraton Aceh yang dikhususkan untuk pintu keluar masuknya permaisuri Sultan Iskandar Muda beserta dayang-dayangnya.

Apabila sang permaisuri menuju ke tepian Krueng Daroy untuk bermandian senantiasa lewat Pinto Khop ini.

Pin yang diciptakan Utoh Mud kala itu berbentuk ramping dengan jeruji-jeruji yang dihiasi motif kembang.

Ikuti kami di
KOMENTAR
90 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved