Sejarah

Mengenal Sejarah Gayo, Salah Satu Etnis Tertua di Nusantara

Berkaca dari hasil penelitian secara ilmiah, Suku Gayo merupakan salah satu etnis tertua yang mendiami bumi Nusantara ini

gayonusantara.blogspot.co.id
Suku gayo zaman dahulu. 

Rentang sejarah yang amat panjang jika dikaji dengan seksama dan mendasar, terkadang dijumpai silang atau perbedaan pendapat dalam menemukan sisi kebenarannya.

Hal ini disadari karena rentang waktu sejarah yang amat panjang, referensi yang terbatas ditambah banyaknya keterangan oleh para narasumber yang sifatnya turun-temurun.

Menurut salah seorang penulis, M.Z. Abidin, mengemukakan ada lima pendapat terkait asal-usul Suku Gayo.

Pertama, kata Gayo berasal dari bahasa Batak Karo yang berarti kepiting.

Pada zaman dahulu terdapat serombongan pendatang suku Batak Karo ke Blangkejeren, mereka melintasi sebuah desa bernama Porang.

Tidak jauh dari perkampungan tersebut dijumpai telaga yang dihuni seekor kepiting besar, lantas para pendatang ini melihat binatang tersebut dan berteriak "Gayo…Gayo…".

Konon dari sinilah kemudian daerah tersebut dinamai dengan Gayo.

Kedua, dalam buku 'The Travel of Marcopolo' karya Marcopolo, seorang pengembara bangsa Italia.

Dalam buku ini dijumpai kata drang-gayu yang artinya orang Gayu/Gayo.

Ketiga, kata Kayo dalam Bahasa Aceh, Ka berarti sudah dan Yo berarti lari/takut.

Kayo berarti sudah takut atau lari.

Keempat, kata Gayo berasal dari Bahasa Sanskerta, yang berarti gunung.

Maksudnya adalah orang yang tinggal di daerah pegunungan.

Kelima, dalam buku 'Bustanussalatin' yang dikarang oleh Nuruddin Ar-Raniry, pada tahun 1.637 Masehi yang tertulis dengan huruf Arab.

Di samping nama Gayo di atas ada juga disebutkan kata Gayor.

Hal ini terjadi karena orang-orang tertentu tidak mengerti, bahwa yang sebenarnya adalah kata Gayo.

Dr Iqbal MA, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Aceh

Tari Saman di Gayo Lues
Tari Saman di Gayo Lues (Serambinews.com/Hendri)

Sejarah

Pada abad ke-11, Kerajaan Linge didirikan oleh orang-orang Gayo pada era pemerintahan Sultan Makhdum Johan Berdaulat Mahmud Syah dari Kesultanan Perlak.

Informasi ini diketahui dari keterangan Raja Uyem dan anaknya Raja Ranta yaitu Raja Cik Bebesen dan dari Zainuddin yaitu dari raja-raja Kejurun Bukit yang keduanya pernah berkuasa sebagai raja di era kolonial Belanda.

Raja Linge I disebutkan mempunyai empat orang anak, yang tertua seorang wanita bernama Empu Beru atau Datu Beru, yang lain Sebayak Lingga (Ali Syah), Meurah Johan (Johan Syah) dan Meurah Lingga (Malamsyah).

Sebayak Lingga kemudian merantau ke tanah Karo dan membuka negeri di sana lalu dikenal dengan Raja Lingga Sibayak.

Meurah Johan mengembara ke Aceh Besar dan mendirikan kerajaan bernama Lam Krak atau Lam Oeii atau yang dikenal dengan Lamuri atau Kesultanan Lamuri.

Sedangkan Meurah Lingga tinggal di Linge, Gayo, yang selanjutnya menjadi Raja Linge turun termurun.

Meurah Silu bermigrasi ke daerah Pasai dan menjadi pegawai Kesultanan Daya di Pasai.

Meurah Mege dikuburkan di Wih ni Rayang di Lereng Keramil Paluh di daerah Linge, Aceh Tengah.

Sampai sekarang masih terpelihara dan dihormati oleh penduduk.

Penyebab mereka migrasi tidak diketahui, akan tetapi menurut riwayat dikisahkan bahwa Raja Linge lebih menyayangi bungsunya Meurah Mege.

Sehingga membuat anak-anaknya yang lain lebih memilih untuk mengembara.

Krueng Siron, Destinasi Wisata Baru di Bekas Camp Latihan Pasukan Khusus GAM

Persawahan di kabupaten Takengon
Persawahan di Kabupaten Aceh Tengah. (Serambinews.com/Hendri)

Kehidupan Sosial

Masyarakat Gayo hidup dalam komuniti kecil yang disebut kampung (desa).

Setiap kampung dikepalai oleh seorang reje (kepala desa).

Kumpulan beberapa kampung disebut kemukiman, yang dipimpin oleh mukim.

Sistem pemerintahan tradisional berupa unsur kepemimpinan yang disebut sarak opat, terdiri dari reje (raja), petue (petua), imem (imam) dan rayat (rakyat).

Pada masa sekarang beberapa buah kemukiman merupakan bagian dari kecamatan, dengan unsur-unsur kepemimpinan terdiri atas gecik, wakil gecik, imem dan cerdik pandai yang mewakili rakyat.

Sebuah kampung biasanya dihuni oleh beberapa kelompok belah (klan).

Anggota suatu belah berasal dari satu nenek moyang, masih saling mengenal dan berhubungan dengan adat istiadat.

Garis keturunan ditarik berdasarkan prinsip patrilineal.

Sistem perkawinan yang berlaku berdasarkan tradisi adalah eksogami belah, dengan adat menetap sesudah nikah yang patrilokal (juelen) atau matrilokal (angkap).

Kelompok kekerabatan terkecil disebut sara ine (keluarga inti).

Kesatuan beberapa keluarga inti disebut sara dapur.

Pada masa lalu, beberapa sara dapur tinggal bersama dalam sebuah rumah panjang, sehingga disebut sara umah.

Beberapa buah rumah panjang bergabung ke dalam satu belah (klan).

Pada masa sekarang, banyak keluarga inti yang mendiami rumah sendiri.

Pada masa lalu, orang Gayo mengembangkan mata pencaharian dengan bertani di sawah dan beternak.

Namun untuk saat ini, penghasilan utama masyarakat Gayo dengan mengembangkan komoditi kopi arabika Gayo.

Selain itu, ada juga penduduk yang menjadi nelayan dengan menangkap ikan di Danau Lut Tawar, khususnya yang tinggal di Kota Takengon, Kabupaten Aceh Tengah, serta sebagian diantaranya meramu hasil hutan.

Mereka juga mengembangkan kerajinan membuat keramik, menganyam dan menenun.

Tetapi, untuk kerajinan membuat keramik dan anyaman pernah nyaris terancam punah seiring dengan perkembangan zaman yang semakin modern.

Namun dengan dijadikannya daerah ini sebagai tujuan wisata di Aceh, kerajinan keramik mulai dikembangkan lagi.

Kerajinan lain yang juga banyak mendapat perhatian adalah kerajinan membuat sulaman kerawang dengan motif yang khas.

Kerawang Gayo, sudah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.

Kompleks Makam Panglima Polem dan Sejarah Singkat Perjuangannya

Baju adat Gayo.
Baju adat Gayo. (Serambinews.com/Hendri)

Pakaian Adat Gayo

Kerawang Gayo adalah nama sebutan terhadap motif ukir pada suku Gayo.

Kerawang Gayo berkembang pada ukiran kain.

Pakaian adat ini sering digunakan saat pesta pernikahan dan acara adat lainnya di wilayah tengah Provinsi Aceh, khususnya Gayo.

Pakaian adat Gayo untuk laki laki (pengantin baru) disebut Aman Mayak, sedangkan untuk perempuan (pengantin perempuan) disebut Ineun Mayak.

Berikut adalah perbedaan Aman Mayak dan Ineun Mayak.

Untuk Aman Mayak, pengantin pria menggunakan bulang pengkah juga berfungsi sebagai tempat untuk menancapkan sunting.

Selain bulang pengkah, digunakan juga baju putih,celana, beberapa gelang pada lengan, cincin, tanggang, genit rante, kain sarung, dan ponok (sejenis keris).

Unsur lain yang digunakan yaitu sanggul sempol gampang, sempol gampang bulet yang digunakan ketika akad nikah, dan sempol gampang kenang yang digunakan selama 10 hari setelah akad nikah diselenggarakan.

Untuk Ineun Mayak, baju pengantin wanita terdiri dari baju, ikat pinggang ketawak dan sarung pawak.

Untuk perhiasan menggunakan mahkota sunting, cemara, sanggul sempol gampang, lelayang, ilung-ilung, subang ilang dan anting-anting subang gener yang semuanya digunakan sebagai hiasan kepala.

Untuk bagian leher, tergantung pada kalung tanggal, apakah terbuat dari perak atau uang perak tanggang birah-mani dan uang perak tanggang ringgit, serta belgong (sejenis manik-manik).

Untuk kedua lengan hingga ujung jari, diperindah dengan berbagai jenis gelang, seperti topong, gelang giok, gelang puntu, gelang bulet, gelang berapit dan gelang beramur, serta berbagai jenis cincin seperti cincin sensim belam keramil, sensim patah, sensim genta, sensim kul, sensim belilit dan sensim keselan.

Pada bagian pinggang, tidak hanya ikat pinggang, tapi juga digunakan rantai genit rante.

Untuk pergelangan kaki digunakan gelang kaki dan tak ketinggalan upuh ulen-ulen atau selendang.

Meuligoe Bupati Bireuen, Sejarah Perjuangan Bangsa Indonesia 

Rumah Adat Gayo

Rumah adat tradisional Gayo dikenal dengan nama Umah Pitu Ruang yang berarti rumah tujuh ruang.

Rumah ini berbentuk rumah panggung yang berdiri di atas suyen (tiang) setinggi dua meter.

Biasanya tiang rumah terbuat dari kayu damar.

Umah Pitu Ruang, rumah adat gayo (winkalenate.wordpress.com)
Umah Pitu Ruang, rumah adat gayo (winkalenate.wordpress.com) (Serambi Indonesia)

Umah Pitu Ruang berbentuk persegi panjang dan dihuni oleh beberapa keluarga.

Panjang bangunan berkisar antara 5-9 tiang dan lebarnya sekitar empat tiang (terdiri atas tiga ruangan).

Kedua tiang panjang (banjar tengah) di sebut reje tiang dan peteri atau mentri.

Letak rumah Gayo biasanya membujur dari timur ke barat dan letak tangga yang menuju pintu masukbiasanya dari arah timur atau utara.

Rumah yang dianggap normal letaknya dibangun di arah timur sampai barat, disebut bujur dan yang letaknya utara sampai selatan disebut lintang.

Jika sama sekali tidak mengikuti arah mata angin, maka rumah seperti ini disebut sirung gunting.

Rumah Adat gayo merupakan rumah panggung dengan tinggi tiang antara 2–2,5 meter dengan jumlah tiang 39 batang.

Ada yang berbentuk persegi empat dan delapan, terbuat dari kayu, beratap ijuk, dan tidak menggunakan paku serta dapat bertahan selama ratusan tahun.

Penggunaan tiang penyangga yang selalu berjumlah ganjil secara filosofi melambangkan nilai keislaman.

Rumah adat Gayo memiliki tujuh ruang, dengan satu ruang utama yang dinamakan lepo.

Rumah dengan tiga ruang memiliki 16 tiang, sedangkan rumah dengan lima ruang memiliki 24 tiang.

Tiang-tiang tersebut berdiri pada pondasi yang terbuat dari batu kali ataupun batu alam dan tiang-tiangnya terbuat dari kayu uyem (pinus).

Lompong Sagu, Makanan Khas Kabupaten Aceh Singkil

Makanan Khas Gayo

Ada beberapa makanan yang biasanya hanya dapat ditemukan di Gayo.

Makanan-makanan tersebut memiliki keunikan masing-masing, seperti makanan khas daerah lainnya.

Ke indahan alam Takengon
Ke indahan alam Takengon (Serambinews.com/Hendri)

Di antaranya Gutel yang merupakan makanan yang terbuat dari tepung beras, kelapa parut dan garam yang dibentuk lonjong.

Dua buah gutel yang sudah dibentuk kemudian disatukan dengan menggunakan daun pandan atau daun  pisang, kemudian dikukus.

Biasanya gutel sering dinikmati di pagi atau sore hari dengan ditemani secangkir kopi arabika maupun robusta khas Gayo.

Ada juga makanan bernama lepat.

Makanan ini biasanya menjadi sajian khas menjelang bahkan di bulan Ramadan atau menyambut Hari Raya Idul Fitri maupun Idul Adha.

Makanan ini, komposisinya terdiri dari tepung ketan yang dicampur dengan gula aren, diisi dengan kelapa parut yang juga dimasak dengan gula terlebih dahulu kemudian dibungkus dengan daun pisang.

Berikutnya sajian masakan ikan Masam Jeng.

Makanan ini merupakan olahan ikan mujair, depik serta beberapa jenis ikan air tawar yang dimasak dengan kuah kuning dan bercita rasa asam pedas.

Masam jeng juga terkadang dicampur dengan beberapa jenis sayuran seperti kentang, labu siam, kacang koro, dan untuk menambah aromanya terkadang ditambah daun gegarang serta buah empan (andaliman).

Seni dan Budaya

Suatu unsur budaya yang tidak pernah lesu di kalangan masyarakat Gayo adalah kesenian karena hampir tidak pernah mengalami kemandekan bahkan cenderung berkembang.

Bentuk kesenian Gayo yang terkenal antara lain tari Saman dan seni bertutur yang disebut Didong.

Selain untuk hiburan dan rekreasi, bentuk-bentuk kesenian ini mempunyai fungsi ritual, pendidikan, penerangan, sekaligus sebagai sarana untuk mempertahankan keseimbangan dan struktur sosial masyarakat.

Di samping itu ada pula bentuk kesenian seperti tari Bines, tari Guel, tari Munalu, Sebuku /Pepongoten (seni meratap dalam bentuk prosa), guru didong dan melengkan (seni berpidato berdasarkan adat).

Dalam seluruh segi kehidupan, orang Gayo memiliki dan membudayakan sejumlah nilai budaya sebagai acuan tingkah laku untuk mencapai ketertiban, disiplin, kesetiakawanan, gotong royong dan rajin (mutentu).

Pengalaman nilai budaya ini dipacu oleh suatu nilai yang disebut bersikemelen, yaitu persaingan yang mewujudkan suatu nilai dasar mengenai harga diri (mukemel).

Nilai-nilai ini diwujudkan dalam berbagai aspek kehidupan, seperti dalam bidang ekonomi, kesenian, kekerabatan, dan pendidikan.

Sumber dari nilai-nilai tersebut adalah agama Islam serta adat setempat yang dianut oleh seluruh masyarakat Gayo.

Menjemur kopi
Menjemur kopi (Serambinews.com/Hendri)

 Bahasa

Bahasa Gayo adalah bahasa yang dipakai sebagai alat berinteraksi sehari-hari oleh suku Gayo.

Bahasa Gayo ini mempunyai keterkaitan dengan Bahasa Suku Karo di Sumatra Utara.

Bahasa ini termasuk kelompok bahasa yang disebut 'Northwest Sumatra-Barrier Islands' dari rumpun Bahasa Austronesia.

Bahasa Gayo yang ada di Lokop, sedikit berbeda dengan Bahasa Gayo yang ada di Gayo Kalul, Gayo  Lut, Linge, dan Gayo Lues.

Hal tersebut disebabkan pengaruh Bahasa Aceh yang lebih dominan di Aceh Timur.

Begitu juga halnya dengan Gayo Kalul, di Aceh Tamiang, sedikit banyak terdapat pengaruh Melayu karena lebih dekat ke Sumatra Utara.

Kemudian, Gayo Lues lebih dipengaruhi oleh Bahasa Alas dan Bahasa Karo karena interaksi yang lebih banyak dengan kedua suku tersebut lebih-lebih komunitas Gayo yang ada di Kabupaten Aceh Tenggara.

Dialek pada Suku Gayo, menurut M.J. Melalatoa, dialek Gayo Lut terdiri dari subdialek Gayo Lut dan Deret, sedangkan Bukit dan Cik merupakan sub-subdialek.

Demikian pula dengan dialek Gayo Lues terdiri dari subdialek Gayo Lues dan Serbejadi.

Subdialek Serbejadi sendiri meliputi sub-subdialek Serbejadi dan Lukup.

Sementara Baihaqi Ak., dkk menyebut jumlah dialek Bahasa Gayo sesuai dengan persebaran Suku Gayo tadi (Gayo Lut, Deret, Gayo Lues, Lokop/Serbejadi dan Kalul).

Namun demikian, dialek gayo Lues, Gayo Lut, Gayo Lukup/Serbejadi dan Gayo Deret dapat dikatakan sama atau amat berdekatan.

Di Gayo Lut sendiri terdapat dua dialek yang dinamakan dialek Bukit dan Cik.

Dalam Bahasa Gayo, memanggil seseorang dengan panggilan yang berbeda menunjukan tata krama, sopan santun, dan rasa hormat.

Seperti pemakaian ko dan kam yang keduanya berarti kamu atau anda.

Panggilan ko biasa digunakan orang tua atau lebih tua kepada yang muda.

Sementara itu kata kam lebih sopan dibandingkan dengan ko.

Bahasa Gayo Lut dinilai lebih sopan dan halus dibandingkan dengan Bahasa Gayo lainnya.(SerambiWIKI/Mahyadi/Hendri)

Ikuti kami di
Penulis: Hendri Abik
Editor: Zainal M Noor
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved