Sejarah

Lonceng Cakra Donya

Lonceng Cakra Donya merupakan sebuah peninggalan sejarah dari kerajaan Samudera Pasai.

Penulis: Hendri Abik
Editor: Dinar
SERAMBI/SYAMSUL
Kondisi lonceng Cakra donya di komplek Museum Aceh 

SERAMBIWIKI.COM - Lonceng Cakra Donya merupakan sebuah peninggalan sejarah dari Kerajaan Samudera Pasai.

Lonceng yang memiliki tinggi 125 centimeter serta lebar 75 centimeter terdapat tulisan Hanzi (aksara Tionghoa) dan Bahasa Arab pada badan lonceng.

Namun tulisan yang masih bisa terbaca, hanya tulisan Hanzi, yang bertulis “Sing Fang Niat Tong Juut Kat Yat Tjo".

Menurut sejumlah sumber, aksara Tionghoa memiliki arti Sultan Sing Fa yang telah dituang dalam bulan 12 dari tahun ke-5.

Taman Sari, Kota Banda Aceh

Kondisi lonceng Cakra donya di komplek Museum Aceh
Kondisi lonceng Cakra donya di komplek Museum Aceh (SERAMBI/SYAMSUL)

Sejarah

Lonceng Cakra Donya merupakan hadiah persahabatan dari seorang penguasa daratan Tiongkok yaitu Kaisar Yonglee, ia memberikan hadiah lonceng tersebut kepada Kerajaan Samudera Pasai pada masa kepemimpinan Raja Zainul Abidin di tahun 1349-1406 Masehi.

Pada masa itu, utusan dari Kaisar Yonglee yang dikirim ke Aceh, ialah Laksamana Cheng Ho, ia diperintahkan langsung oleh Kaisar Yonglee untuk memberikan lonceng tersebut kepada Kerajaan Samudera Pasai.

Pemberian lonceng itu agar tercipta hubungan baik diantara kedua kerajaan tersebut.  Karena seperti diketahui pada masa itu, Kerajaan Samudera Pasai melakukan ekspor rempah-rempah hasil bumi Aceh ke berbagai wilayah, termasuk Tiongkok.

Laksamana Cheng Ho sampai di Aceh pada tahun 1414 M membawa lonceng dari Kaisar Yonglee, selain memberikan lonceng, Laksamana Cheng Ho diberikan kepercayaan oleh Kaisar Yonglee untuk menjalin kerjasama dalam bidang keamanan dan perdagangan dengan Kerajaan Samudera Pasai.

Setelah menerima lonceng dari Kaisar Yonglee, Raja Zainul Abidin mengirim utusan berkunjung ke Tiongkok. Selanjutnya, setelah kerajaan Samudera Pasai ditaklukkan oleh kerajaan Aceh Darussalam kepemimpinan Ali Mughayat Syah, lonceng tersebut dibawa ke Kutaradja atau Banda Aceh saat ini.

Kemudian pada masa Kesultanan Iskandar Muda, lonceng Cakra Donya diletakkan pada bagian depan kapal induk armada laut Kerajaan Aceh Darussalam.

Mulanya Cakra Donya adalah nama kapal perang Sultan Iskandar Muda (1607-1636).

Lonceng Cakra Donya digunakan sebagai pemberi aba-aba kepada armada Kerajaan Aceh Darussalam untuk melakukan penyerbuan di laut.

Armada laut bangsa Portugis menyebut kapal Cakra Donya sebagai Espanto de Mundo, yang berarti Teror Dunia.

Keberadaan lonceng Cakra Donya sempat berpindah tangan ketika kapal Cakra Donya dirampas Portugis. Namun, lonceng itu dikembalikan kepada Kerajaan Aceh Darussalam, dan lonceng tersebut diletakkan di Kompleks Istana Darud Dunia pada sudut kanan Mesjid Raya Baiturrahman.

Perampasan lonceng tersebut merubah fungsi lonceng perang Cakra Donya. Bila sebelumnya lonceng dijadikan sebagai pemberi aba-aba jika ada musuh di laut, kemudian berubah fungsi sebagai pemanggil masyarakat untuk bersegera ke mesjid untuk melaksanakan salat berjamaah serta menjadi pemberi tanda waktu berbuka puasa pada saat bulan Ramadhan.

Lokasi

Pada tahun 1915 M, lonceng Cakra Donya dipindahkan ke Museum Aceh. Saat ini, lonceng Cakra Donya masih berdiri kokoh di halaman museum yang terletak di jalan Sultan Mahmudsyah No. 10, Peuniti, Kecamatan Baitturahman Kota Banda Aceh.

Dari pintu masuk museum Aceh, jika melihat sebelah kanan arah parkiran sepeda motor, lonceng Cakra Donya telah terpampang, bagian belakang Cakra Donya ada Rumoh Aceh (Rumah Aceh) berwarna hitam yang terbuat dari kayu, sebelah kanan Cakra Donya ada gedung perkantoran, bagian kiri terdapat perpustakaan Museum  Aceh.

Lonceng Cakra Donya yang berada dalam kawasan Museum Aceh berjarak 700 meter dari Mesjid Raya Baiturrahman.   

Halaman selanjutnya

Jam Buka

...

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved